Zelenskiy Ganti PM Ukraina, Kursi Menhan Jadi Sorotan

Reuters

Reuters

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Presiden Volodymyr Zelenskiy merombak kabinet Ukraina di tengah perang Rusia-Ukraina, dengan mengusulkan CEO Naftogaz Sergii Koretskyi sebagai perdana menteri baru. Pada saat yang sama, rencana mengganti Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov memicu kritik karena dinilai berisiko melemahkan reformasi militer dan dukungan mitra Barat.

Zelenskiy pada 15 Juli menyatakan Koretskyi adalah kandidat paling siap untuk menjadi perdana menteri, dengan alasan prioritas utama Ukraina adalah persiapan menghadapi musim dingin. Pernyataan itu datang setelah PM Yulia Svyrydenko didorong mundur hanya setahun menjabat, dan pengunduran dirinya otomatis menyeret seluruh kabinet untuk ikut diganti.

Parlemen menerima pengunduran diri Svyrydenko pada Selasa, dan dijadwalkan memilih pengganti pada Kamis, dengan peluang besar mengesahkan kandidat pilihan presiden. Partai Servant of the People yang berkuasa memegang mayoritas, sehingga proses politiknya tampak lebih sebagai penegasan keputusan presiden ketimbang perdebatan kebijakan yang panjang.

Namun sorotan publik bukan semata pada kursi perdana menteri, melainkan pada kemungkinan Zelenskiy mengganti Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov, teknokrat 35 tahun yang baru enam bulan menjabat. Sejumlah anggota parlemen menyebut Zelenskiy berencana menunjuk Menteri Dalam Negeri Ihor Klymenko untuk portofolio pertahanan, sebuah langkah yang langsung memecah opini di Kyiv.

Di atas kertas, alasan “menyegarkan kepemimpinan” terdengar administratif. Dalam realitas perang tahun kelima, pergantian pejabat kunci mudah terbaca sebagai sinyal perubahan strategi, atau bahkan sebagai kompromi politik yang bisa mengorbankan konsistensi reformasi.

Ukraina juga sedang menghadapi kombinasi tekanan yang tidak ramah: kekurangan pertahanan udara, kekurangan personel, dan ancaman serangan Rusia ke jaringan listrik saat musim dingin. Pada saat yang sama, Rusia mengklaim berada di jalur untuk mencapai tujuan perang, sementara pasukannya terus menggiling maju menuju “sabuk benteng” kota-kota Ukraina di Donetsk timur.

Pengangkatan Koretskyi dari Naftogaz menandai penekanan ulang pada ketahanan energi sebagai agenda kabinet, terutama menjelang musim dingin yang biasanya menjadi puncak serangan Rusia ke infrastruktur listrik. Zelenskiy sendiri menegaskan “prioritasnya jelas—bersiap untuk musim dingin,” sehingga kursi PM diposisikan sebagai pusat manajemen krisis energi dan logistik nasional.

Namun, mengganti PM setelah satu tahun menimbulkan pertanyaan tentang stabilitas manajemen perang, karena koordinasi lintas kementerian adalah “mesin” yang menjaga negara tetap berjalan. Dalam sistem yang partainya menguasai parlemen, pergantian cepat mudah memunculkan kesan bahwa akuntabilitas publik kalah oleh kalkulasi internal kekuasaan.

Kontroversi terbesar muncul pada rencana mengganti Fedorov, sosok yang diasosiasikan dengan reformasi pengadaan dan modernisasi cara bertempur berbasis data. Reuters mencatat Fedorov memimpin kampanye ambisius untuk mengubah tentara yang kalah jumlah menjadi kekuatan yang lebih efisien, termasuk investasi drone dan perombakan sistem pengadaan.

Ketika Ukraina mulai menekan industri minyak Rusia dan memperlambat laju serangan Moskow di garis depan, pergantian Menhan justru terlihat seperti mengganti “mesin” saat kendaraan masih melaju. Oleksandr Merezhko, ketua Komite Urusan Luar Negeri parlemen dari partai Zelenskiy, menulis bahwa Fedorov “sangat dihormati di kalangan mitra internasional” dan namanya terkait harapan reformasi nyata di Kementerian Pertahanan.

Maria Berlinska, relawan terkemuka dan advokat perang drone, bahkan menyebut penggantian itu sebagai “salah satu kesalahan terbesar Zelenskiy.” Ia memperingatkan biayanya bukan sekadar politik, melainkan “nyawa dan kesehatan ratusan ribu orang,” sebuah kalimat yang menggambarkan betapa kebijakan personel bisa berdampak langsung pada angka korban.

Dari sisi capaian, Fedorov mengklaim telah memenuhi sebagian target, termasuk investasi drone dan pembenahan pengadaan, serta menyusun agenda lanjutan untuk transformasi kementerian ke standar NATO dan “akal sehat.” Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa reformasi masih setengah jalan, sehingga pergantian mendadak berisiko memutus momentum, atau mengembalikan ruang gelap pengadaan yang pernah menjadi sumber skandal.

Di sisi lain, Reuters juga menyebut reformasi pengadaan Fedorov membuat sebagian “establishment” marah, dan ia dikritik karena reformasi rekrutmen belum cukup cepat. Ini membuka kemungkinan bahwa pergantian bukan semata soal kinerja, melainkan soal resistensi birokrasi dan pertarungan kepentingan di sekitar anggaran pertahanan yang sangat besar.

Ketika pertahanan udara masih kekurangan pencegat buatan AS untuk menahan rudal balistik yang kian sering menghantam kota-kota besar seperti Kyiv, konsistensi kebijakan menjadi krusial. Musim dingin berikutnya diperkirakan kembali diwarnai serangan Rusia ke jaringan listrik, sehingga koordinasi energi, pertahanan udara, dan logistik militer harus terkunci rapi, bukan dirombak tanpa narasi yang meyakinkan.

Di medan tempur, Rusia terus bergerak menuju kota-kota “sabuk benteng” di Donetsk yang ingin diduduki penuh oleh Vladimir Putin. Dalam kondisi seperti ini, pejabat pertahanan tidak hanya mengurus strategi, tetapi juga moral pasukan, kepercayaan publik, dan kredibilitas di mata mitra yang memasok senjata.

Perombakan kabinet di masa perang adalah pisau bermata dua: bisa mempercepat adaptasi, tetapi juga bisa menciptakan kekosongan komando dan kebingungan prioritas. Jika alasan utama adalah persiapan musim dingin, maka penunjukan figur energi sebagai PM masuk akal, tetapi tetap menuntut transparansi agar publik memahami peta jalan dan ukuran keberhasilannya.

Masalahnya, kursi Menteri Pertahanan bukan sekadar jabatan, melainkan simpul kepercayaan antara negara, tentara, dan para penyokong internasional. Ketika anggota parlemen dari partai presiden sendiri menyatakan kecewa, itu sinyal bahwa keputusan ini berpotensi menggerus modal politik Zelenskiy justru saat Ukraina membutuhkan persatuan dan disiplin kebijakan.

Jika Fedorov benar menjadi korban tarik-menarik kepentingan pengadaan dan rekrutmen, maka pergantian tanpa penjelasan rinci akan memperkuat kecurigaan publik tentang kembalinya pola lama. Dalam perang yang menuntut efisiensi ekstrem, setiap langkah yang terlihat melindungi “establishment” dapat dibaca sebagai kemunduran, bukan penyegaran.

Namun ada juga pembacaan lain yang lebih dingin: Zelenskiy mungkin menginginkan figur keamanan dalam negeri seperti Klymenko untuk menertibkan mobilisasi dan disiplin institusi, karena isu kekurangan personel dan penyimpangan draft masih menghantui. Jika itu tujuannya, maka pemerintah wajib menunjukkan indikator yang terukur, agar kebijakan tidak berhenti pada pergantian nama.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan siapa yang duduk di kursi, melainkan apakah reformasi drone, pengadaan, dan rekrutmen akan dipercepat atau justru diperlambat. Ukraina sedang bertarung pada dua front sekaligus: melawan Rusia di parit, dan melawan inefisiensi internal yang bisa membuat bantuan senjata dan strategi tempur kehilangan daya.

Langkah Zelenskiy mengusulkan Koretskyi sebagai perdana menteri menegaskan bahwa perang energi akan menjadi babak penentu menjelang musim dingin. Tetapi rencana mengganti Fedorov menunjukkan bahwa politik personel dapat menjadi gangguan besar ketika reformasi militer masih rapuh dan kebutuhan pertahanan udara serta personel belum terpenuhi.

Dalam perang berkepanjangan, stabilitas bukan berarti anti-perubahan, melainkan perubahan yang terarah, transparan, dan bisa dipertanggungjawabkan. Jika Kyiv ingin menjaga kepercayaan rakyat dan mitra, pertanyaan yang harus dijawab sederhana namun keras: apakah perombakan ini mempercepat kemenangan, atau hanya memindahkan risiko ke pundak prajurit di garis depan?

(Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)