Kenapa Setelah Drakor Tamat Terasa Kosong? Ini Penjelasan Psikologi
ORBITINDONESIA.COM – Kenapa setelah drakor tamat banyak orang merasa sedih, kosong, bahkan seperti kehilangan seseorang. Post-drama blues ini bukan sekadar lebay, melainkan gejala yang bisa dijelaskan lewat psikologi media dan hubungan parasosial.
Di media sosial, penonton sering mengaku sulit move on dari karakter favorit. Rasa kehilangan itu muncul justru ketika layar padam dan rutinitas menonton berhenti mendadak.
Drakor bekerja seperti kebiasaan harian yang rapi. Satu episode per malam dapat berubah menjadi penanda waktu, pengalih stres, sekaligus “teman” yang selalu hadir.
Masalahnya, akhir cerita memutus pola itu tanpa transisi. Penonton tidak hanya kehilangan tontonan, tetapi juga kehilangan struktur kecil yang menenangkan.
Fenomena ini makin kuat karena drakor dirancang untuk membangun kedekatan emosional. Konflik, romansa, dan cliffhanger membuat penonton menempel pada perjalanan tokoh dari awal sampai tamat.
Konsep kuncinya adalah hubungan parasosial, yaitu keterikatan satu arah penonton terhadap tokoh media. Keren Eyal dan Jonathan Cohen dalam Journal of Broadcasting & Electronic Media menunjukkan keterikatan ini berkaitan dengan tekanan emosional saat “hubungan” berakhir.
Dalam studi mereka terhadap 279 mahasiswa setelah episode terakhir serial Friends, intensitas hubungan parasosial menjadi prediktor terkuat dari distress. Artinya, semakin merasa dekat dengan karakter, semakin besar rasa kehilangan ketika cerita selesai.
Riset yang lebih baru menamai momen itu sebagai parasocial breakup. Michelle Möri dalam Poetics (2024) menemukan penonton dapat mengalami tekanan emosional ketika ikatan parasosial terputus, terutama bila keterikatannya kuat.
Namun, kehilangan tidak selalu berpusat pada karakter. Jaye L. Derrick, Shira Gabriel, dan Kurt Hugenberg dalam Journal of Experimental Social Psychology menunjukkan program favorit dapat memberi rasa memiliki atau belongingness.
Rasa memiliki itu sering muncul saat seseorang kesepian dan mencari kedekatan yang aman. Menonton serial favorit dalam kondisi tertentu dapat mengurangi rasa kesepian, sehingga drakor terasa seperti ruang nyaman yang bisa diakses kapan saja.
Ketika drakor tamat, yang hilang bukan hanya plot. Yang putus adalah “ritual” dan pasokan emosi terukur yang selama ini membantu menstabilkan hari.
Di titik ini, banyak penonton mencari serial baru sebagai pengganti. Möri (2024) mencatat bahwa setelah parasocial breakup, penonton kerap memilih menonton program lain sebagai respons pemulihan.
Rasa kosong setelah drakor tamat adalah bukti betapa efektif industri cerita mengelola kedekatan. Yang perlu dikritisi, kedekatan itu sering terasa personal padahal dibangun oleh formula naratif dan strategi produksi.
Di satu sisi, ini tidak otomatis menandakan gangguan psikologis. Di sisi lain, ia bisa menjadi alarm halus bila tontonan mulai menggantikan tidur, kerja, dan relasi nyata.
Masalah terbesar bukan drakornya, melainkan ketidakseimbangan. Ketika layar menjadi satu-satunya sumber kenyamanan, akhir cerita akan terasa seperti kehilangan yang terlalu mahal.
Karena itu, “move on” bukan sekadar cari drakor baru. Move on adalah mengembalikan kendali, yaitu menjadikan tontonan sebagai hiburan, bukan sandaran utama untuk rasa aman.
Penonton juga perlu mengakui bahwa kesedihan itu valid. Tetapi valid tidak berarti harus dibiarkan menguasai, sebab emosi yang sehat selalu punya tempat kembali ke kehidupan nyata.
Post-drama blues, hubungan parasosial, dan parasocial breakup menjelaskan mengapa drakor tamat bisa memukul emosi. Kita terikat pada karakter, sekaligus pada rutinitas dan rasa memiliki yang diam-diam dibangun episode demi episode.
Pertanyaannya, setelah kredit penutup berjalan, apa yang sebenarnya kita rindukan: tokohnya, atau perasaan nyaman yang ia pinjamkan pada hari-hari kita. Jika jawabannya yang kedua, mungkin ini saatnya membangun sumber kenyamanan yang tidak ikut tamat saat serial selesai (Orbit dari berbagai sumber, 28 September 2026)