Tren “In Another Life”: Bahasa Harapan, Pelarian, dan Kecemasan

Jawa Pos

Jawa Pos

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Keyword “in another life” dan frasa “what if” kini bertebaran di caption, komentar, hingga percakapan sehari-hari. Ia terdengar puitis, tetapi juga menyimpan sinyal: banyak orang sedang menimbang hidupnya dengan versi lain yang tak pernah terjadi.

Kalimat seperti “in another universe” dipakai sebagai penanda harapan, penyesalan, atau cinta yang tidak sampai. Frasa ini menjadi cara aman untuk mengakui rasa tanpa harus mengambil risiko keputusan nyata.

Di ruang digital, bahasa emosi sering dipadatkan menjadi template yang mudah dibagikan. Ketika satu frasa viral, ia berubah menjadi bahasa bersama untuk menjelaskan perasaan yang sebenarnya rumit.

Fenomena ini muncul di tengah tekanan ekonomi, ketidakpastian kerja, dan relasi yang rapuh. Bahasa “semesta lain” menawarkan tempat berlindung yang tidak menuntut bukti, cukup imajinasi.

Secara psikologis, “what if” berkaitan dengan counterfactual thinking, yaitu kebiasaan membayangkan hasil alternatif dari keputusan masa lalu. Riset klasik Roese (1997) menunjukkan pikiran counterfactual bisa adaptif untuk belajar, tetapi juga memicu ruminasi bila berulang tanpa tindakan.

Di media sosial, ruminasi mudah berubah menjadi konten karena ia singkat, emosional, dan relatable. Algoritma cenderung mengangkat unggahan yang memantik respons, dan bahasa penyesalan sering memicu komentar panjang.

Data juga menunjukkan konteks besar yang menyuburkan kecemasan. WHO melaporkan sekitar 301 juta orang hidup dengan gangguan kecemasan pada 2019, dan pandemi memperburuk beban kesehatan mental global (WHO, 2022).

Di Indonesia, isu kesehatan mental makin sering dibicarakan, tetapi akses layanan belum merata. Ketika bantuan profesional terasa jauh, bahasa populer menjadi alat swadaya untuk “mengelola” rasa.

Frasa “in another life” juga bekerja seperti diplomasi emosi. Ia mengizinkan seseorang berkata, “aku peduli,” sambil tetap menjaga jarak dari konsekuensi.

Namun, ada biaya tersembunyi ketika harapan selalu diletakkan di semesta lain. Ia bisa mengikis sense of agency, karena hidup sekarang terasa seperti versi yang selalu kalah dari versi imajiner.

Tren ini bukan sekadar gaya bahasa, melainkan indikator zaman yang kelelahan. Ketika masa depan terasa sempit, orang memperluasnya lewat fiksi personal: alam semesta alternatif.

Masalahnya, frasa itu sering menormalisasi penundaan keputusan. Kita mengubah konflik menjadi estetika, lalu menyebutnya “healing,” padahal yang terjadi kadang hanya mengulang luka.

Di sisi lain, kita tidak perlu mengolok-oloknya sebagai lebay. Dalam masyarakat yang sering menghukum kerentanan, kalimat puitis adalah cara paling aman untuk berkata jujur.

Yang perlu dikritisi adalah ketika bahasa viral menggantikan kerja emosional yang nyata. Mengakui penyesalan penting, tetapi penyesalan yang tidak diterjemahkan menjadi langkah hanya akan menjadi kebiasaan.

Barangkali frasa “in another universe” adalah doa modern yang tidak menyebut Tuhan. Ia menyiratkan keyakinan bahwa ada tatanan yang lebih adil, meski kita tidak tahu cara mencapainya.

Tetapi hidup tidak bisa terus-menerus dititipkan pada kemungkinan hipotetis. Harapan yang sehat seharusnya menempel pada tindakan kecil, bukan hanya pada kalimat yang indah.

Kalimat “in another life” menenangkan karena ia menawarkan akhir yang lebih baik tanpa harus mengubah apa pun. Namun, ia juga bisa menjadi cermin bahwa kita sedang takut memilih, takut gagal, atau takut ditolak.

Mungkin pertanyaannya bukan “di semesta mana kita bahagia,” melainkan “apa satu tindakan paling realistis hari ini.” Jika semesta lain terasa begitu menarik, barangkali hidup ini sedang meminta kita berhenti membayangkan dan mulai merawat yang nyata.

(Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)