Serangan Rusia ke Kyiv: Oreshnik, Drone, dan Kebuntuan Damai
ORBITINDONESIA.COM – Serangan Rusia ke Kyiv kembali memuncak saat ratusan drone dan puluhan rudal menghantam ibu kota Ukraina pada Minggu dini hari. Ledakan beruntun mengguncang bangunan, memicu kebakaran, dan meninggalkan jejak kerusakan di seluruh distrik kota.
Dalam laporan dari Kyiv, Wali Kota Vitaliy Klitschko menyebut sedikitnya dua orang tewas dan 77 orang luka-luka, dengan kerusakan terjadi di “setiap distrik kota.” Serangan ini menegaskan bahwa perang bukan hanya soal garis depan, melainkan juga perang terhadap ruang hidup warga sipil.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan Uni Eropa akan mengirim dukungan tambahan untuk memperkuat pertahanan udara Ukraina. Ia menyebut serangan besar itu sebagai bukti “kebrutalan Kremlin” dan “pengabaian terhadap nyawa manusia dan perundingan damai.”
Di sisi lain, Menteri Kebudayaan Ukraina Tetyana Berezhna mengatakan dampaknya menyasar warisan budaya secara masif, terbesar di Kyiv sejak invasi 2022. Museum bencana Chernobyl 1986 dilaporkan hancur, sementara salah satu pasar tertua kota ikut terbakar.
Angkatan Udara Ukraina menyebut Rusia mengerahkan 600 drone dan 90 rudal, termasuk rudal balistik hipersonik Oreshnik yang diklaim mampu membawa hulu ledak nuklir. Pertahanan udara Ukraina menyatakan berhasil mencegat sebagian besar drone dan lebih dari separuh rudal.
Serangan luas ini terjadi beberapa jam setelah Presiden Volodymyr Zelenskyy memperingatkan warga bahwa serangan besar yang melibatkan Oreshnik “segera” terjadi, dengan merujuk intelijen Eropa dan AS. Dalam video, Zelenskyy mengatakan Oreshnik menghantam Bila Tserkva, sekitar 80 kilometer di selatan Kyiv, dan ini disebut sebagai penggunaan ketiga rudal itu dalam perang skala penuh.
Kementerian Pertahanan Rusia kemudian mengonfirmasi penggunaan Oreshnik melalui Telegram, memperkuat pesan psikologis bahwa senjata itu adalah simbol eskalasi. Vladimir Putin sebelumnya pada 2024 menggambarkan rudal itu melaju “seperti meteorit,” sulit dihentikan pertahanan udara, dan mampu menghancurkan bunker bawah tanah.
Moskow mengaitkan serangan balasan ini dengan tuduhan bahwa Ukraina menyerang sebuah perguruan tinggi di Starobilsk, wilayah timur Ukraina yang diduduki Rusia. Kementerian Situasi Darurat Rusia menyebut sedikitnya 21 orang tewas dan 42 luka-luka, sementara Ukraina membantah menargetkan kampus tersebut.
Di luar langit Kyiv, jalur diplomasi justru tampak membeku. Negosiasi untuk mengakhiri perang dilaporkan tersendat saat AS terdistraksi oleh perang dengan Iran yang melibatkan Israel, dan pemerintahan Trump melonggarkan sebagian sanksi ekspor minyak Rusia untuk menutup kekurangan energi akibat konflik itu.
Minyak adalah pilar ekonomi Rusia, dan aliran pendapatan itu membantu membiayai mesin perang. Pada titik ini, dinamika energi global tidak lagi sekadar angka dan pasokan, melainkan variabel yang ikut menentukan panjang-pendeknya perang.
Ukraina merespons dengan strategi serangan drone jarak jauh selama beberapa pekan untuk merusak kilang, depot, dan pelabuhan ekspor minyak di dalam Rusia. Mereka juga menyerang logistik serta hub amunisi Rusia di wilayah Ukraina yang diduduki, menekan kemampuan suplai di belakang garis tempur.
NPR melaporkan sempat mengikuti unit militer Ukraina yang meluncurkan drone jarak jauh buatan dalam negeri ke Rusia. Seorang anggota unit dengan sandi “Uki” menyebut serangan ini sebagai cara Ukraina “memberlakukan sanksi efektif” untuk memaksa Rusia menuju perdamaian yang adil dan bertahan lama.
Serangan Rusia ke Kyiv menunjukkan pola yang makin jelas: eskalasi militer dipakai untuk mengisi kekosongan diplomasi. Ketika perundingan macet, rudal dan drone menjadi bahasa yang paling lantang, sekaligus paling merusak.
Penggunaan Oreshnik menghadirkan lapisan baru intimidasi, karena ia membawa bayang-bayang nuklir meski belum tentu digunakan dalam konfigurasi itu. Dengan menyisipkan simbol “tak terhentikan,” Rusia tampak ingin menguji ketahanan psikologis warga, sekaligus mengirim sinyal ke Barat bahwa dukungan pertahanan udara harus dibayar mahal.
Namun Ukraina juga tidak pasif, karena serangan drone ke infrastruktur minyak Rusia adalah upaya memotong nadi ekonomi perang. Di sini, perang berubah menjadi adu ketahanan: siapa yang lebih cepat kehabisan stok, dana, dan kesabaran publik.
Masalahnya, kebijakan energi global dapat menggembosi tekanan terhadap Moskow bila pelonggaran sanksi benar terjadi, karena pendapatan minyak memberi ruang bagi Rusia untuk bertahan lebih lama. Ketika kebutuhan energi menuntun kompromi, moralitas perang sering kali menjadi pihak yang dikorbankan.
Kerusakan museum Chernobyl dan pasar tua Kyiv menambah dimensi lain yang jarang dihitung dalam statistik militer: hilangnya memori kolektif. Jika budaya ikut menjadi korban, maka perang tidak hanya memindahkan batas wilayah, tetapi juga menghapus penanda identitas.
Serangan Rusia ke Kyiv menegaskan bahwa perang Ukraina kini berjalan di tiga medan sekaligus: langit pertahanan udara, rantai pasok energi, dan ruang simbolik kebudayaan. Ketika drone dan rudal menghantam kota, yang ikut runtuh bukan hanya bangunan, tetapi juga rasa aman dan keyakinan bahwa diplomasi masih memegang kendali.
Pertanyaannya, berapa lama dunia akan membiarkan krisis energi dan konflik lain mengalihkan fokus dari satu perang yang terus memakan korban sipil. Jika “teror terhadap warga sipil bukan kekuatan, melainkan keputusasaan,” seperti kata von der Leyen, maka keputusasaan itu hanya bisa dipatahkan oleh konsistensi tekanan politik dan keberanian memulihkan jalur damai yang nyata.
(Orbit dari berbagai sumber, 25 Mei 2026)