Gayle King Bongkar Perselingkuhan: Drama Suami, Teman, dan Alarm Rumah

The Cut

The Cut

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Gayle King kembali jadi sorotan setelah kisah perselingkuhan mantan suaminya, William Bumpus, ia ceritakan gamblang di podcast Call Her Daddy. Pengakuan Gayle King tentang perselingkuhan itu memuat detail yang membuat publik sulit mengalihkan pandangan, dari alarm rumah yang menyala hingga “handuk mandi” yang jadi bukti.

Kisah ini sebenarnya bukan hal baru, karena King pernah menyindirnya dalam wawancara Vanity Fair pada 2016. Namun versi terbaru di Call Her Daddy memberi gambaran lebih utuh tentang bagaimana ia memergoki suaminya “bermain serong” dengan teman dekatnya sendiri.

Menurut King, ia pulang lebih cepat dari bandara sambil membawa dua anaknya yang masih balita. Di rumah, alarm menyala, lalu Bumpus keluar dari kamar hanya berbalut handuk dan melarangnya masuk.

King lalu mencari sumber masalah dan menemukan temannya “bersembunyi di balik pintu” memakai bath sheet milik King. Teman itu bahkan disebut menyatakan Bumpus bertahan demi anak-anak dan karena King bisa membayar biaya kuliah Yale Law School.

Detail kecil seperti alarm rumah yang tak dimatikan mengubah skandal privat menjadi peristiwa publik, karena polisi sampai datang ke lokasi. Dalam versi King, ironi terjadi saat polisi justru meminta tanda tangan kepadanya, karena ia dikenal sebagai pembaca berita lokal.

Lapisan manipulasi tampak ketika Bumpus memilih mengantar selingkuhannya pulang agar perselingkuhan itu tetap tersembunyi dari suami perempuan tersebut. Ia berdalih mereka masih punya “pernikahan yang baik”, sebuah kalimat yang terdengar seperti pembenaran, bukan penyesalan.

King mengaku awalnya tidak berniat menghubungi suami si perempuan, sampai Oprah Winfrey menyarankan langkah tegas. Kutipan King tentang respons Oprah berbunyi, “Well, fuck him. Call her husband,” yang memperlihatkan dorongan untuk menghentikan kebohongan, bukan merawatnya.

Saat King menelpon, suami si perempuan disebut sudah lebih dulu dipengaruhi narasi tandingan. Ia mengatakan istrinya mengklaim King “pulang lebih cepat dan salah menyimpulkan,” lalu menyebut King delusional, bahkan setelah King menyebut bukti pakaian tidur yang tertinggal di ranjang.

Bagian penting lain adalah fakta King sempat rujuk sebelum akhirnya bercerai permanen, yang menurut ceritanya membuat Oprah frustrasi. Ini mencerminkan pola umum dalam relasi beracun, ketika kebenaran sudah jelas tetapi ikatan, anak, dan harapan memaksa korban menunda keputusan final.

Dari sisi respons publik, Bumpus merilis permintaan maaf pada 2016 setelah kisah itu kembali muncul di Vanity Fair. Ia juga mengulang permintaan maaf pada 2026 lewat Page Six, menyebut tindakannya “miliknya” dan meminta maaf kepada King serta keluarga besar mereka.

Dalam pernyataan itu, Bumpus menegaskan King berhak menceritakan bab menyakitkan yang mengubah arah pernikahan mereka hampir 40 tahun lalu. Ia juga memuji King, termasuk dukungannya saat ia menyelesaikan Yale Law, yang bisa dibaca sebagai pengakuan utang emosional sekaligus upaya merapikan citra.

Pengakuan Gayle King tentang perselingkuhan bukan sekadar gosip selebritas, melainkan studi tentang penghinaan yang berlapis. Ada pengkhianatan pasangan, pengkhianatan teman, dan gaslighting yang mencoba membalikkan realitas menjadi “kesimpulan yang salah.”

Yang membuat cerita ini menohok adalah keberanian King menyebut detail yang biasanya disembunyikan demi “martabat.” Justru detail itulah yang menunjukkan bagaimana kebohongan bekerja, karena manipulasi sering hidup dari hal-hal kecil yang dibuat tampak remeh.

Permintaan maaf Bumpus patut dicatat, tetapi ia datang setelah puluhan tahun dan setelah cerita itu membentuk memori publik. Penyesalan yang terlambat tetap penyesalan, namun tidak otomatis menghapus biaya psikologis yang pernah ditanggung King dan keluarganya.

Di era podcast dan budaya pengakuan, kontrol narasi menjadi medan baru pasca-skandal. King merebut kembali kendali dengan menceritakan versinya tanpa meminta izin, dan itu menantang norma lama yang kerap menyuruh perempuan “diam demi keluarga.”

Kasus Gayle King dan William Bumpus memperlihatkan bahwa luka lama bisa hidup kembali ketika kebenaran belum sepenuhnya diberi ruang. Cerita ini juga menunjukkan bahwa pengkhianatan sering disertai upaya membuat korban meragukan pikirannya sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya apakah pelaku layak dimaafkan, melainkan siapa yang berhak menentukan kapan sebuah kisah selesai. Jika kebenaran pernah dibungkam demi ketenangan semu, mungkin membukanya kembali adalah bentuk keadilan yang paling sederhana.

(Orbit dari berbagai sumber, 4 Juni 2026)