Jakarta Fair Kemayoran 2026: Tumbler Raksasa Kapal Api Pecahkan Rekor MURI

Biz Kompas

Biz Kompas

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Jakarta Fair Kemayoran 2026 mendadak punya ikon baru: tumbler raksasa di booth Kapal Api yang memecahkan Rekor MURI. Instalasi ini dilukis seniman Popomangun dan dibuat dari material daur ulang kemasan kopi, lalu dikemas dalam tema “Semangat Gaspol 100%”.

Di tengah banjir aktivasi brand pada event besar seperti Jakarta Fair Kemayoran, perhatian publik makin sulit direbut tanpa simbol yang “menggigit”. Kapal Api memilih jalur spektakuler lewat replika tumbler terbesar, sekaligus menempelkan narasi optimisme dan keberlanjutan.

Menurut keterangan di lokasi, kolaborasi ini mencatatkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori “Melukis dengan Media Replika Tumbler Terbesar”. Brand Manager Kapal Api Wahyu Timothy menyebut instalasi itu simbol agar konsumen “tetap berkarya” dan Kapal Api hadir di setiap perjalanan.

Rekor MURI pada dasarnya adalah perangkat komunikasi massa yang efektif karena mudah dipahami dan mudah dibagikan. Ketika orang datang ke Jakarta Fair Kemayoran 2026, mereka tidak hanya melihat produk, tetapi juga “alasan untuk memotret” dan menyebarkannya.

Di titik ini, tumbler raksasa bekerja sebagai media iklan yang menyamar menjadi karya seni publik. Ia memindahkan percakapan dari sekadar rasa kopi ke pengalaman visual yang bisa dipamerkan di media sosial.

Popomangun menerjemahkan tema “Semangat Gaspol 100%” menjadi narasi harian dari pagi hingga malam, dengan matahari dan bulan sebagai penanda ritme. Ia mengatakan kopi seperti “teman dan penyemangat” yang menemani perjalanan dari rumah hingga tempat kerja.

Proses kreatifnya memakan hampir sepekan, dari mock-up digital, sketsa, pewarnaan, hingga penyelesaian akhir. Sebagian finishing dilakukan lewat sesi live painting, yang membuat proses produksi berubah menjadi tontonan.

Material daur ulang kemasan kopi memberi lapisan pesan tambahan yang relevan dengan tren konsumsi sadar lingkungan. Namun, pesan ini baru kuat jika publik melihatnya sebagai praktik berkelanjutan yang konsisten, bukan sekadar ornamen kampanye.

Booth Kapal Api juga menyusun “ekosistem pengalaman” agar pengunjung bertahan lebih lama. Ada open bar untuk melihat proses seduh, “Semangat Station” untuk permainan kopi gratis, serta lelang tiap Sabtu dan Minggu selama gelaran.

Panggung “100% Berkarya” menghadirkan musisi nasional seperti Lomba Sihir, IDGITAF, Perunggu, dan Reality Club. Musik menambah keramaian, sekaligus memperluas jangkauan audiens dari penikmat kopi ke penikmat kultur pop.

Merchandise edisi khusus, termasuk tumbler dengan desain yang sama, mengubah karya menjadi barang koleksi. Strategi ini membuat instalasi tidak berhenti sebagai pajangan, melainkan menjadi produk yang dibawa pulang dan dipakai sehari-hari.

Kolaborasi Kapal Api dan Popomangun menunjukkan bagaimana brand besar membaca perubahan selera publik: orang membeli cerita, bukan hanya barang. Seni, rekor, dan interaksi langsung dipakai untuk membangun kesan “dekat” sekaligus “besar”.

Namun ada pertanyaan yang layak diajukan: seberapa jauh rekor dan instalasi benar-benar mendorong perubahan perilaku, bukan hanya menambah kebisingan promosi. Keberlanjutan, misalnya, akan lebih meyakinkan jika disertai transparansi tentang skala daur ulang dan praktik lanjutan setelah event.

Di sisi lain, kerja Popomangun memperlihatkan seni bisa masuk ke ruang komersial tanpa kehilangan narasi manusiawi. Visual perjalanan dari pagi ke malam terasa akrab, karena rutinitas itulah yang paling sering membuat orang butuh “teman” bernama kopi.

Jakarta Fair Kemayoran 2026 memberi panggung bagi tumbler raksasa Kapal Api sebagai simbol semangat, karya, dan strategi pemasaran yang makin berbasis pengalaman. Wahyu Timothy menegaskan pesan optimisme: “semangat yang besar dapat melahirkan karya-karya yang besar pula”.

Yang tersisa bagi publik adalah menilai, apakah “Semangat Gaspol 100%” berhenti pada foto dan merchandise, atau benar-benar menular ke kebiasaan berkarya dan lebih bijak pada material yang kita buang. Pada akhirnya, rekor mungkin tercatat, tetapi dampak sosial baru berarti jika ia bertahan setelah lampu pameran padam. (Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)