Gunung Kawi, Pesulap Merah, dan Isu Artis: Ritual atau Konten?

Serayu News

Serayu News

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Gunung Kawi kembali jadi kata kunci panas setelah Pesulap Merah menelusuri Keraton Gunung Kawi dan menyebut nama artis yang konon pernah datang. Konten itu memantik pertanyaan publik: ziarah budaya, wisata religi, atau benar ada ritual pesugihan?

Gunung Kawi di Kabupaten Malang lama menempel pada dua citra yang saling bertabrakan. Ia dipandang sebagai kawasan sakral dengan tradisi kejawen, tetapi juga sering diseret ke narasi “mencari kekayaan instan”.

Video Pesulap Merah mengaktifkan kembali memori kolektif itu di media sosial. Dalam wawancara dengan juru kunci, muncul daftar nama figur publik yang disebut pernah berkunjung.

Di titik ini, persoalannya bukan sekadar siapa datang ke Gunung Kawi. Persoalannya adalah bagaimana rumor bekerja ketika bertemu algoritma, lalu berubah menjadi “kebenaran” baru tanpa verifikasi.

Dalam video yang beredar, juru kunci menyebut Sarwendah sebagai salah satu nama yang pernah datang. Sarwendah kemudian mengklarifikasi bahwa kunjungan itu terkait pekerjaan dan kegiatan syuting, bukan ritual pesugihan.

Nama lain yang ikut disebut adalah Ice Trisnawati, Eddy Sud, dan Pance Pondaag. Ada pula penyebutan inisial artis senior di sejumlah pemberitaan lain, tetapi identitasnya tidak pernah dibuka sehingga tetap spekulatif.

Bagian yang sering hilang dari diskusi publik adalah kalimat kuncinya: hingga kini tidak ada bukti resmi yang menunjukkan para artis melakukan praktik pesugihan. Banyak klaim bersumber dari penuturan juru kunci dan cerita yang berkembang dari mulut ke mulut.

Secara sosial, Gunung Kawi memang ruang perjumpaan antara tradisi, keyakinan, dan ekonomi lokal. Banyak peziarah datang untuk berdoa, berziarah, atau menjalankan laku kejawen yang mereka pahami sebagai ikhtiar spiritual.

Praktik membawa bunga dan dupa kerap terlihat dalam tradisi tersebut. Bagi sebagian pengunjung, itu simbol penghormatan dan medium doa kepada Tuhan menurut keyakinan masing-masing, bukan transaksi gaib untuk kekayaan.

Namun ruang yang sama bisa dibaca berbeda oleh publik yang dibesarkan oleh cerita pesugihan. Ketika satu lokasi terus-menerus dilabeli “tempat pesugihan”, setiap kunjungan figur publik mudah dipelintir menjadi bukti, meski tanpa data.

Di sinilah logika konten bekerja: nama artis meningkatkan klik, lalu klik memperpanjang umur rumor. Dalam ekosistem media sosial, “pernah datang” sering disamakan dengan “pernah melakukan”, padahal keduanya bukan sinonim.

Secara jurnalistik, klaim semacam ini menuntut dua hal: verifikasi dan konteks. Tanpa keduanya, publik hanya menerima potongan narasi yang cocok untuk hiburan, tetapi merusak reputasi orang dan menyederhanakan tradisi.

Konten investigatif ala Pesulap Merah punya nilai karena memaksa mitos diuji di lapangan. Tetapi ketika wawancara dengan juru kunci berujung pada penyebutan nama, risiko etiknya membesar karena dampaknya langsung ke individu.

Gunung Kawi juga rentan diperlakukan sebagai panggung sensasi, bukan situs budaya. Padahal tradisi kejawen dan ziarah memiliki kerumitan makna yang tidak bisa diringkas menjadi satu kata: pesugihan.

Publik perlu membedakan “cerita lokal” dan “fakta terkonfirmasi”. Jika tidak, kita sedang membangun pengadilan digital yang menghukum orang hanya karena pernah berada di suatu tempat.

Di sisi lain, klarifikasi Sarwendah menunjukkan satu pelajaran penting: transparansi memotong spekulasi. Namun klarifikasi saja tidak cukup bila ekosistem informasi terus memberi hadiah pada rumor.

Yang paling mengkhawatirkan adalah normalisasi stigma. Ketika tempat spiritual terus dipersempit menjadi lokasi transaksi gaib, kita kehilangan kemampuan membaca budaya sebagai warisan, bukan komoditas kontroversi.

Gunung Kawi adalah ruang yang menampung doa, tradisi, dan juga cerita yang mudah meledak di era viral. Kehadiran artis di sana tidak otomatis membuktikan ritual pesugihan, apalagi tanpa bukti resmi.

Yang perlu diuji bukan hanya mitos di lokasi, tetapi juga cara kita mengonsumsi informasi. Apakah kita mencari kebenaran, atau sekadar sensasi yang terasa benar karena diulang?

Pada akhirnya, kedewasaan publik ditentukan oleh satu pilihan sederhana: mengonfirmasi sebelum menyimpulkan. Jika tidak, kita ikut merawat rumor yang merusak manusia dan menyempitkan makna sebuah tempat suci.

(Orbit dari berbagai sumber, 24 Juni 2026)