TOD Eks Hotel Sultan GBK: Lahan Emas, Mitra Kuat, Aturan Tegas

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Rencana TOD eks Hotel Sultan GBK di Senayan kembali menguji cara negara mengelola aset strategis di jantung Jakarta. Lokasinya menempel SCBD dan terhubung MRT, sehingga penataan Blok 15 GBK bukan sekadar proyek properti, melainkan penentu wajah kota puluhan tahun ke depan. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

PPKGBK menyatakan penataan eks Hotel Sultan mengedepankan ruang terbuka hijau dan akses publik yang terhubung transportasi massal. Direktur Utama PPKGBK Rakhmadi Afif Kusumo menekankan area hijau harus memberi manfaat lebih luas, termasuk Blok 15 eks HGB 26-27. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Di atas kertas, TOD di Senayan terdengar ideal karena mengurangi ketergantungan mobil pribadi dan memperkuat konektivitas kawasan. Namun di lapangan, proyek mixed-use padat modal sering berubah menjadi arena tarik-menarik antara kepentingan publik, kalkulasi bisnis, dan kelemahan regulasi. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Di titik ini, pertanyaan kuncinya bukan hanya “apa yang dibangun”, tetapi “siapa yang membangun dan dengan uang siapa”. Karena lahan premium 13,6 hektar di pusat kota bisa menjadi ruang publik kelas dunia atau justru monumen mangkrak yang mahal. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

CEO Leads Property Services Indonesia, Hendra Hartono, menyodorkan tiga kriteria untuk mitra swasta dalam TOD eks Hotel Sultan GBK. Ia menuntut pengalaman pengembangan, keahlian TOD terintegrasi, dan kemampuan finansial mandiri untuk menjaga proyek tetap bergerak. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Poin finansial menjadi garis tegas yang jarang diucapkan sekeras itu di ruang publik. Hendra memperingatkan, jika pengembang masih bergantung pada kredit baru atau investor tambal-sulam, proyek berisiko molor dan berujung mangkrak. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Logika ini selaras dengan pola kegagalan proyek perkotaan yang sering terjadi. Ketika pembiayaan rapuh, kualitas desain dipangkas, fase pembangunan diputus-putus, dan ruang publik menjadi korban pertama. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Hendra juga mengkritik gagasan “inklusivitas semu” yang memaksakan rusun bersubsidi di lahan super-premium Senayan. Ia menyebut poros Senayan-Semanggi adalah zona elite terintegrasi yang dirancang mengalihkan mobilitas ke transportasi publik, bukan eksperimen populis yang mengabaikan zonasi makro. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Kritik itu memang tajam, tetapi menyentuh soal yang sering dihindari: keadilan kota tidak selalu identik dengan menaruh hunian murah di tanah termahal. Keadilan juga bisa berarti memperbanyak ruang hijau, trotoar aman, dan akses transportasi yang membuat biaya hidup turun bagi lebih banyak orang. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Dari sisi desain, Hendra mendorong pendekatan low-to-mid rise, ruang terbuka hijau luas, dan kawasan pedestrian-friendly. Ia bahkan menyebut rujukan transformasi new CBD Shanghai, serta mobilitas internal dengan kendaraan listrik yang terhubung transportasi umum. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Usulan dimensi hunian juga menarik karena melawan tren unit “mungil” pusat kota. Hendra menyarankan 65–70 meter persegi untuk dua kamar dan 90–100 meter persegi untuk tiga kamar, agar apartemen layak dihuni keluarga secara permanen. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Di sisi lain, pasar Jakarta sedang menghadapi krisis perkantoran kosong. Darsono Tan dari Leads menyebut ruang kantor kosong Jabodetabek mencapai 2,96 juta meter persegi pada 2015–2025, dengan hampir 2 juta meter persegi menumpuk di CBD Jakarta. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Kekosongan ini menekan harga sewa dan membuka peluang alih fungsi menjadi service apartment. Darsono menilai pekerja Gen Z dan Milenial membutuhkan hunian fully furnished, dekat kantor dan stasiun, dengan kontrak pendek maksimal satu tahun. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Jika data kekosongan kantor ini dibaca serius, maka TOD Senayan tidak boleh menambah pasokan kantor generik. Kawasan baru harus menambal kekurangan yang nyata, yaitu ruang publik berkualitas dan hunian sewa terkelola yang dekat simpul transportasi. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Kontroversi eks Hotel Sultan GBK pada dasarnya adalah ujian standardisasi pengelolaan aset negara. Negara sering menang di tahap penguasaan lahan, tetapi kalah di tahap tata kelola karena aturan mudah ditawar dan pemilihan mitra tidak transparan. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Karena itu, kriteria “modal mandiri” yang disuarakan Hendra perlu dibaca sebagai alarm tata kelola, bukan sekadar preferensi bisnis. Pemerintah harus menetapkan prasyarat kesehatan keuangan, rekam jejak proyek selesai, dan komitmen ruang hijau sebagai kontrak kinerja yang bisa diaudit publik. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Daftar nama bonafide seperti Salim Group dan Sinarmas Land menunjukkan arah diskusi yang realistis, yakni memilih pemain berpengalaman membangun ekosistem kota. Namun reputasi besar tidak otomatis menjamin kepentingan publik menang, karena skala korporasi juga berarti daya lobi yang besar. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Di sinilah peran negara harus tegas sebagai wasit, bukan partner yang larut dalam euforia investasi. TOD Senayan perlu indikator yang sederhana tetapi keras, yaitu porsi ruang hijau, keterhubungan pejalan kaki, integrasi MRT, dan manfaat yang benar-benar bisa dipakai warga setiap hari. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Jika pemerintah gagal mengunci standar ini, TOD akan berubah menjadi etalase bangunan yang indah dari luar tetapi eksklusif dari dalam. Kota lalu hanya memindahkan kemacetan dari jalan ke kantong-kantong parkir, dan memindahkan ketimpangan dari pinggir ke pusat. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

TOD eks Hotel Sultan GBK adalah kesempatan langka untuk memperbaiki cara Jakarta tumbuh, karena lahannya strategis dan konektivitasnya sudah tersedia. Namun kesempatan langka juga berarti risiko langka, sebab kesalahan desain dan salah pilih mitra bisa mengunci kerugian publik selama 50 hingga 100 tahun. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)

Jika negara ingin kawasan ini menjadi milik semua orang, maka standar harus ditegakkan sebelum batu pertama diletakkan. Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan: apakah TOD Senayan akan menjadi ruang kota yang hidup, atau sekadar proyek besar yang hidup di brosur. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)