Gejala Multiple Myeloma: Nyeri Bahu, Diagnosis Terlambat, Harapan Baru

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Gejala multiple myeloma bisa menyamar sebagai cedera biasa, dan Eric Dillon mengalaminya lewat nyeri bahu yang ia kira hanya rotator cuff tegang. Setelah dua tahun hilang-timbul, sebuah ledakan nyeri saat kerja halaman rumah justru membuka pintu pada diagnosis kanker darah yang tak ia duga.

Dillon sempat merasa “baik-baik saja” karena terapi fisik membantu, dan rasa sakitnya sering reda hanya dengan mengubah posisi tidur. Pola seperti ini membuat banyak orang menormalisasi nyeri, apalagi ketika ia tampak seperti masalah otot atau sendi.

Namun MRI pada 2024 menunjukkan sesuatu yang mengkhawatirkan, dan rujukan ke onkolog membuat Dillon terkejut. Ia baru paham setelah dokter berkata ia adalah “ortopedic oncologist” yang menangani kanker.

Tes kemudian memastikan Dillon mengidap multiple myeloma, kanker yang menyerang sel plasma. Nyeri bahunya ternyata bukan sekadar keluhan mekanis, melainkan sinyal dini kerusakan tulang akibat penyakit.

Multiple myeloma adalah kanker sel plasma yang dapat mengganggu pembentukan darah normal, memicu anemia, merusak ginjal, dan meningkatkan kadar kalsium. Penyakit ini juga merusak bagian keras tulang, dan itulah yang memunculkan nyeri pada bahu Dillon.

Dr. Hearn Cho dari Multiple Myeloma Research Foundation menegaskan salah diagnosis bukan hal langka. Nyeri punggung dan nyeri tulang adalah keluhan umum di layanan primer, sehingga dokter kerap lebih dulu mengarah ke radang sendi, ketegangan otot, atau cedera aktivitas.

Masalahnya, “yang umum memang lebih sering terjadi,” sehingga kanker jarang masuk daftar awal dugaan. Akibatnya diagnosis bisa memakan waktu lama, sementara kerusakan tulang dan organ bisa terus berjalan diam-diam.

Di titik ini, kisah Dillon menjadi potret rapuhnya logika “tunggu saja reda.” Nyeri yang kambuh dan memburuk, terutama tanpa pemicu jelas, semestinya memicu evaluasi lebih mendalam, termasuk pemeriksaan pencitraan dan tes darah bila dokter menilai perlu.

Ada lapisan ketidakadilan lain yang tak boleh diabaikan, yaitu dampak tidak proporsional pada warga kulit hitam. Cho menyebut meski Black Americans sekitar 4% populasi AS, mereka sekitar 20% pasien multiple myeloma, dan cenderung terkena pada usia lebih muda.

Ketimpangan ini penting karena ia berkelindan dengan akses, kewaspadaan klinis, dan representasi riset. Ketika kelompok yang paling terdampak justru kurang terwakili dalam uji klinis, arah inovasi berisiko tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan mereka.

Dillon memilih ikut uji klinis “tanpa ragu,” karena merasa mendapat kontrol dan pemahaman lebih. Ia menjalani delapan siklus terapi hampir setahun, menata ulang jadwal kerja, dan mencatat proses harian sebagai cara mengelola ketidakpastian.

Saat efek samping ringan muncul, tim medis menyesuaikan dosis obat uji, dan Dillon merasa turut membantu menyempurnakan protokol. Setelah uji klinis selesai, sisa kanker di tulang bahu diatasi dengan beberapa putaran radioterapi hingga nyerinya hilang.

Bagian ini menunjukkan dua hal: terapi multiple myeloma berkembang, dan manajemen efek samping adalah bagian dari strategi, bukan kegagalan. Pesan publik yang perlu ditekankan ialah multiple myeloma bukan vonis tanpa pilihan, karena ada kombinasi pengobatan, radiasi, dan pemeliharaan yang dapat membawa remisi.

Kisah Dillon menantang budaya kesehatan yang sering menganggap nyeri sebagai harga normal dari kerja keras atau penuaan. Ketika rasa sakit menjadi “bagian dari hidup,” kita cenderung menunda pertanyaan paling penting: apa penyebabnya, dan apakah ada sesuatu yang lebih serius di baliknya.

Dalam sistem kesehatan, bias “penyebab paling umum” memang efisien, tetapi bisa berbahaya bila tidak disertai rambu eskalasi. Nyeri yang menetap, berulang, atau tiba-tiba sangat hebat seharusnya memicu jalur pemeriksaan yang lebih tegas, bukan sekadar pengulangan terapi yang sama.

Uji klinis juga perlu dipahami sebagai ruang keadilan, bukan hanya ruang sains. Jika kelompok yang terdampak besar seperti komunitas kulit hitam tetap kurang terwakili, maka inovasi berisiko timpang, dan kepercayaan publik pada riset akan terus rapuh.

Dillon menunjukkan model partisipasi yang aktif dan sadar, sekaligus menolak ketakutan yang sering menyelimuti kata “trial.” Ia memperlakukan riset sebagai cara memperluas peluang, sekaligus sebagai kontribusi agar terapi masa depan lebih tepat dan lebih merata.

Hari ini Dillon berada dalam remisi, rutin kontrol, dan minum satu obat harian untuk mempertahankan kondisinya. Ia menunda transplantasi sel punca karena konsekuensi isolasi berbulan-bulan, dan memilih fokus pada keluarga serta cucu yang baru lahir.

Ia juga ingin memperluas kesadaran bahwa gejala multiple myeloma bisa tidak lazim, dan diagnosis bisa dipercepat bila orang berani menanyakan pemeriksaan lanjutan. Pesannya sederhana namun kuat: “ini bukan kanker tanpa pengobatan,” dan masa depan bisa “cerah” ketika pasien, dokter, dan riset bergerak bersama.

Perenungan akhirnya, berapa banyak nyeri yang kita normalisasi sampai terlambat, hanya karena kita ingin percaya itu “cuma cedera”? Barangkali keberanian paling penting bukan menahan sakit, melainkan mengujinya dengan pertanyaan yang tepat sejak awal. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Juli 2026)