Israel Bunuh Mohammed Odeh, Kepala Brigade Al-Qassam Hamas di Gaza

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Klaim Israel membunuh Mohammed Odeh, kepala baru Brigade Ezzedine Al-Qassam Hamas, kembali menegaskan bahwa perang Gaza belum benar-benar berhenti meski gencatan senjata masih disebut berlangsung. Serangan yang menewaskan Odeh beserta istri dan anak-anaknya membuat kata “gencatan” terdengar seperti jeda administratif, bukan perlindungan nyata bagi warga.

Israel menyatakan Odeh tewas dalam serangan pada Selasa, menurut pernyataan bersama militer Israel dan Shin Bet. Hamas mengonfirmasi kematiannya, tetapi menyebutnya sebagai “operasi pembunuhan” yang juga menewaskan keluarganya.

Sejak serangan Hamas pada Oktober 2023, Israel menargetkan pimpinan Hamas di Gaza dan wilayah lain secara sistematis, seperti dilaporkan AFP. Dalam narasi Israel, ini adalah strategi memutus komando; dalam narasi Hamas, ini adalah upaya mematahkan perlawanan melalui eliminasi tokoh.

Odeh disebut menjadi kepala keempat Brigade Al-Qassam yang diklaim Israel telah dibunuh sejak perang Gaza dimulai. Ia baru ditunjuk setelah Ezzedine al-Haddad dilaporkan tewas pada 15 Mei, menandakan suksesi yang terjadi di bawah tekanan tembakan.

Serangan ini memperlihatkan pola “decapitation strike”, yaitu memburu figur puncak untuk mengacaukan organisasi. Namun sejarah konflik asimetris menunjukkan, struktur seperti Hamas sering menyiapkan regenerasi cepat, sehingga dampak taktis bisa besar tetapi dampak strategis tidak selalu final.

Fakta bahwa Odeh baru menjabat singkat sebelum terbunuh menandakan dua hal sekaligus. Pertama, kemampuan intelijen dan penargetan Israel tetap bekerja; kedua, Hamas masih mampu mengisi posisi kosong, meski dengan risiko tinggi.

Yang paling mengusik justru rincian korban keluarga, karena tiga anak Odeh ikut tewas menurut pejabat Hamas, termasuk seorang anak perempuan di bawah 18 tahun. Pada titik ini, pembunuhan target berubah menjadi peristiwa publik yang menambah lapisan duka dan kemarahan sosial.

Pemakaman di Kota Gaza, dengan ratusan pelayat dan senapan AK-47 diletakkan di atas jenazah, menjadi simbol yang mudah dibaca. Ia mengirim pesan bahwa kematian pemimpin bukan sekadar akhir, melainkan bahan bakar narasi perlawanan.

Serangan terjadi saat Idul Adha, yang dalam banyak masyarakat Muslim identik dengan keluarga, jamuan, dan rasa aman sesaat. Kutipan sepupu Odeh, Bassem Abu Odeh, bahwa keluarganya “siap menyambut Idul Adha” tetapi malah disambut rudal, mempertebal kesan bahwa tidak ada ruang sakral yang kebal dari perang.

Klaim Israel bahwa gencatan senjata masih berlangsung tetapi serangan tetap dilakukan membuka pertanyaan tentang definisi gencatan itu sendiri. Jika “gencatan” mengizinkan operasi pembunuhan terhadap tokoh tertentu, maka ia lebih mirip mekanisme selektif, bukan penghentian kekerasan.

Di sisi lain, strategi membunuh pemimpin Hamas memang dapat memberi keuntungan jangka pendek bagi Israel. Tetapi setiap kematian yang juga menelan keluarga berpotensi memperluas dukungan emosional bagi Hamas, karena rasa kehilangan sering lebih cepat menyebar daripada argumen keamanan.

Konflik ini juga memperlihatkan pertarungan narasi yang tak kalah keras dari pertarungan senjata. Israel menekankan legitimasi penargetan komandan; Hamas menekankan “kemartiran” dan penderitaan keluarga, sehingga simpati publik diarahkan pada sisi yang dianggap paling terluka.

Yang hilang dari kedua narasi adalah ruang bagi warga sipil untuk sekadar hidup normal. Ketika pemakaman menjadi panggung politik dan hari raya menjadi tanggal serangan, masyarakat didorong memilih identitas perang, bukan identitas damai.

Kematian Mohammed Odeh menambah daftar pemimpin Hamas yang gugur, tetapi juga menambah daftar keluarga yang hancur di Gaza. Peristiwa ini menunjukkan bahwa gencatan senjata tanpa batas yang jelas hanya melahirkan ilusi stabilitas.

Pertanyaan yang tersisa bukan hanya siapa pemimpin berikutnya, melainkan berapa banyak keluarga lagi yang harus membayar harga “penargetan presisi”. Jika perang terus dipahami sebagai permainan menghabisi figur, maka yang akan kalah paling dulu adalah makna kemanusiaan itu sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 3 Juni 2026)