Anak Kurang Melek Finansial: Survei Ungkap PR Orang Tua

Boston 25 News

Boston 25 News

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan anak dan kesiapan finansial generasi muda kembali dipertanyakan setelah survei di AS menemukan 53% orang tua dan kakek-nenek menilai anak sekarang lebih tidak siap mengelola uang dibanding mereka dulu. Di tengah dompet digital, one-click checkout, dan godaan belanja cepat, keluarga justru masih bingung: mengajarkan disiplin belanja atau menyiapkan investasi sejak dini.

Dunia anak hari ini bergerak lebih cepat daripada kurikulum keuangan keluarga. Uang terasa “instan”, kata Chloé Briel, CFP dari Wealth Enhancement, karena orang tua bisa mengirim dana lewat aplikasi tanpa proses yang dulu mengajarkan jeda dan batas.

Survei “The First Dollar” terhadap 1.000 responden (500 orang tua dan 500 kakek-nenek) pada 28 April–4 Mei 2026 menunjukkan keresahan lintas generasi. Namun di balik kekhawatiran itu, muncul jurang praktik: banyak keluarga mengaku cemas, tetapi sedikit yang mengubahnya menjadi strategi.

Angka kunci survei ini tegas: 53% responden menilai anak sekarang kurang siap secara finansial, sementara hanya 29% yang menilai lebih siap. Kelompok kakek-nenek dan Baby Boomer paling pesimistis (61%), sedangkan Milenial lebih lunak dalam penilaian.

Yang menarik, 53% responden mengaku belum pernah membuka akun investasi untuk anak. Pada kakek-nenek dan Boomer angkanya bahkan 63%, sedangkan pada orang tua 42% dan Milenial 41%.

Kontradiksi ini penting karena investasi adalah “alat waktu”, bukan sekadar alat uang. Briel menekankan bahwa berada di pasar lebih lama memberi ruang bernapas, mengurangi stres dari fluktuasi jangka pendek, dan memungkinkan tujuan jangka panjang lebih realistis.

Survei juga mengungkap pelajaran uang tersulit bukanlah investasi, melainkan menahan diri. Sebanyak 56% responden menyebut menghindari belanja impulsif dan overspending sebagai tantangan terbesar, disusul budgeting harian (52%) dan memahami nilai kerja (50%).

Lingkungan belanja memang dirancang untuk impuls, dari media sosial sampai pengiriman super cepat. Jika orang dewasa saja sering kalah oleh “klik sekali”, anak-anak praktis bertumbuh di arena yang memihak konsumsi, bukan perencanaan.

Di sisi lain, uang saku masih jadi instrumen favorit keluarga untuk melatih kebiasaan. Sebanyak 63% responden memberi allowance, dengan usia mulai paling umum 8 tahun, dan 51% memulai pada rentang 5–12 tahun.

Nominalnya memperlihatkan perbedaan perspektif generasi: orang tua menilai rata-rata US$21 per minggu sebagai angka wajar, sedangkan kakek-nenek US$15. Rata-rata gabungan berada di US$18 per minggu, yang menunjukkan allowance bukan sekadar “uang jajan”, tetapi arena negosiasi nilai dan batas.

Di titik ini, 529 plan turut disebut sebagai opsi yang makin fleksibel untuk pendidikan dan transfer kekayaan keluarga. Briel bahkan menyebut kekhawatiran “overfunding” bisa dibalik menjadi strategi, karena dana berlebih dapat dialihkan ke anggota keluarga lain yang memenuhi syarat.

Masalah utama tampaknya bukan ketiadaan informasi, melainkan ketiadaan desain pengasuhan finansial yang konsisten. Banyak keluarga mengira literasi keuangan identik dengan rumus budgeting, padahal akar perilaku uang sering lahir dari nilai, emosi, dan kebiasaan harian.

Survei ini memperlihatkan keluarga lebih takut pada impuls belanja daripada buta investasi. Itu sinyal bahwa yang sedang krisis bukan pengetahuan, melainkan kontrol diri yang melemah karena ekosistem digital memonetisasi perhatian dan dorongan sesaat.

Di sinilah kritiknya: kita sering menyalahkan anak “boros” sambil tetap memberi akses tanpa pagar, dari top-up instan sampai belanja tanpa jeda. Jika uang dibuat tak kasat mata, maka konsekuensi juga menjadi tak terasa, dan pelajaran pun kehilangan bobot.

Rekomendasi Briel agar keluarga memulai dari nilai layak digarisbawahi. Saat keluarga sepakat apakah mereka memprioritaskan pendidikan, pengalaman, keamanan, atau kedermawanan, keputusan belanja menjadi narasi yang bisa dipahami anak, bukan sekadar larangan.

Namun nilai saja tidak cukup tanpa struktur. Allowance perlu “maksud” yang jelas—apakah untuk menabung tujuan, membeli hadiah, atau belajar memilih—dan investasi perlu “ritual” percakapan agar anak paham mengapa uang bekerja melalui waktu.

Yang sering dilupakan adalah urutan prioritas: pensiun orang tua lebih dulu. Stabilitas orang tua adalah jaring pengaman terbaik bagi anak, karena krisis finansial keluarga kerap memaksa anak mengulang siklus yang sama.

Survei Wealth Enhancement memberi cermin yang tidak nyaman: kita khawatir anak kurang siap, tetapi banyak yang belum menyiapkan alat latihnya, dari akun investasi sampai kebiasaan diskusi uang. Di era serba instan, yang paling mahal justru kemampuan menunda, memilih, dan bertahan pada rencana.

Mungkin pertanyaan terpenting bukan “berapa uang saku yang tepat”, melainkan “nilai apa yang ingin kita wariskan lewat uang”. Jika keluarga berani menjadikan uang sebagai percakapan rutin—bukan topik tabu—anak tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga belajar memahami arah hidupnya sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Oktober 2026)