Pidato Mojtaba Khamenei: Israel Menjelang Akhir, AS Terusir Teluk

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Pidato Mojtaba Khamenei tentang Israel menjelang akhir dan AS tak lagi aman di Teluk mengguncang peta geopolitik Timur Tengah. Menjelang musim Haji, Pemimpin Tertinggi Iran itu menyebut Israel “tumor kanker” dan mengklaim poros perlawanan kian dominan.

Pernyataan itu muncul saat Teheran dan Washington membahas kerangka kerja untuk mengakhiri perang yang disebut sudah berlangsung tiga bulan. Momentum Haji dipakai sebagai panggung simbolik, karena pesan politik yang dibungkus seruan persatuan umat biasanya lebih mudah mengalir ke publik Muslim.

Mojtaba baru mengambil alih posisi Pemimpin Tertinggi Iran pada Maret, setelah Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara AS-Israel pada akhir Februari. Transisi kepemimpinan ini membuat setiap kalimatnya dibaca sebagai sinyal arah baru, sekaligus upaya mengukuhkan legitimasi.

Dalam pesan yang dikutip media Iran, ISNA, ia menyatakan Israel “mendekati tahap akhir” dan merujuk prediksi pemimpin sebelumnya tentang batas waktu 25 tahun. Ia juga menegaskan Iran telah membuat “rezim Zionis tak berdaya” dalam “perang paksaan kedua,” sembari menyebutnya “tamparan keras” bagi AS.

Secara komunikasi politik, frasa “Israel mendekati hari-hari terakhirnya” bekerja sebagai alat konsolidasi domestik dan regional. Ia mengubah konflik yang rumit menjadi narasi finalitas: ada pihak yang menang, ada pihak yang runtuh.

Namun klaim “tahap akhir” jarang berdiri di atas indikator tunggal, karena daya tahan negara dalam konflik ditentukan ekonomi, aliansi, dan kemampuan militer yang berlapis. Dalam sejarah modern, retorika kehancuran sering dipakai untuk menaikkan moral kubu sendiri, meski realitas di lapangan bergerak lebih lambat.

Bagian paling strategis justru pernyataan bahwa AS “tidak akan lagi memiliki tempat berlindung yang aman” di Teluk. Ini menekan negara-negara Teluk agar menghitung ulang biaya menjadi tuan rumah pangkalan, sekaligus menguji seberapa jauh mereka berani mengambil jarak dari Washington.

Jika pesan ini diterjemahkan sebagai ancaman, maka efeknya bisa paradoks: negara Teluk memperketat keamanan dan justru memperdalam kerja sama pertahanan dengan AS. Jika diterjemahkan sebagai ajakan tatanan baru, maka efeknya bisa berupa diplomasi regional yang lebih mandiri, tetapi itu membutuhkan kepercayaan yang belum tentu tersedia.

Mojtaba juga menyebut “kemenangan poros perlawanan,” termasuk Lebanon, dan menyatakan proksi Iran memberi pelajaran kepada AS dan Israel. Klaim ini menguatkan posisi Iran dalam negosiasi, karena ia ingin berbicara dari kursi pemenang, bukan dari kursi pihak yang menahan kerugian.

Di sisi lain, keberhasilan poros perlawanan selalu dibayar mahal oleh masyarakat sipil di wilayah konflik, dari kerusakan infrastruktur hingga gelombang pengungsian. Retorika kemenangan mudah mengabaikan fakta bahwa “biaya kemenangan” sering tidak ditanggung oleh elite yang berpidato, melainkan oleh warga di garis depan.

Seruan “masa depan milik umat Islam dan peradaban Islam baru” memperluas isu dari militer ke peradaban. Ini adalah upaya membingkai konflik sebagai pertarungan identitas dan tatanan dunia, bukan sekadar sengketa wilayah atau keamanan.

Pidato Mojtaba Khamenei adalah deklarasi era, tetapi juga ujian kedewasaan politik kawasan. Ia menawarkan kepastian moral, namun menutup ruang bagi nuansa, padahal konflik membutuhkan jalan keluar yang sering lahir dari kompromi yang tidak populer.

Menyebut Israel “tumor kanker” menegaskan posisi ideologis, tetapi bahasa dehumanisasi biasanya memperpanjang siklus kekerasan. Ketika lawan diposisikan sebagai penyakit, maka negosiasi dipersempit menjadi terapi pemusnahan, bukan rekonsiliasi.

Pernyataan “AS tak lagi aman di Teluk” juga bukan sekadar gertak, karena ia menyasar arsitektur keamanan yang selama puluhan tahun bergantung pada payung Amerika. Jika negara Teluk merasa terjepit, mereka bisa memilih dua jalan: menyeimbangkan hubungan dengan Iran, atau memperkeras blokade politik terhadapnya.

Yang paling menentukan adalah apakah Teheran menggunakan retorika ini untuk membuka pintu tatanan baru yang lebih stabil, atau untuk menaikkan taruhan konflik. Dunia sudah melihat terlalu sering, kalimat yang terdengar heroik di mimbar berubah menjadi daftar panjang korban di lapangan.

Transisi kepemimpinan pasca kematian Ali Khamenei membuat Mojtaba perlu menunjukkan kontinuitas sekaligus kekuatan. Karena itu, pidato ini terasa seperti kombinasi sumpah setia pada garis lama dan penegasan bahwa ia siap memimpin fase yang lebih konfrontatif.

Pidato Mojtaba Khamenei tentang Israel dan AS di Teluk adalah sinyal keras bahwa Iran ingin menulis ulang keseimbangan kekuatan Timur Tengah. Ia menggabungkan simbol Haji, klaim kemenangan, dan ancaman strategis untuk mengunci narasi bahwa sejarah sedang berbelok ke arah Teheran.

Namun sejarah jarang patuh pada slogan, karena tatanan baru tidak lahir hanya dari retorika, melainkan dari kemampuan menurunkan eskalasi dan melindungi warga. Pertanyaannya kini sederhana dan berat: apakah “akhir” yang dibicarakan adalah akhir dominasi, atau awal babak penderitaan berikutnya. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)