Peran Guru Atur Penggunaan AI di Pendidikan Secara Bertanggung Jawab
ORBITINDONESIA.COM – Peran guru dalam penggunaan AI di pendidikan kembali disorot Lenovo di Tech Day 2026 Jakarta. Pesannya tegas: kecerdasan artifisial harus menjadi alat bantu belajar, bukan pengganti berpikir siswa.
Lonjakan penggunaan AI generatif membuat tugas sekolah bisa selesai dalam hitungan detik. Namun kemudahan itu menabrak pertanyaan besar tentang integritas akademik, kualitas pembelajaran, dan daya kritis murid.
Director and Head of Sales Solutions and Services Group Lenovo Greater Asia Pacific, Debdut Maiti, menyebut tantangan ini bersifat global. Indonesia hanya salah satu panggung dari perubahan perilaku belajar generasi muda yang makin intuitif terhadap teknologi.
Lenovo menempatkan guru sebagai “penjaga gerbang” yang menentukan arah pemanfaatan AI di kelas. Guru tidak cukup menguasai perangkatnya, tetapi harus menetapkan batas, etika, dan tujuan belajar yang jelas.
Lenovo memaparkan program pelatihan guru di Hong Kong yang menggandeng institusi pendidikan. Fokusnya bukan hanya teknis, tetapi juga panduan dan batasan penggunaan AI di sekolah.
Pola ini relevan karena masalah utama bukan akses, melainkan tata kelola. Tanpa aturan kelas yang konsisten, AI mudah berubah dari tutor menjadi “mesin jawaban” yang mematikan proses belajar.
Contoh yang diangkat Debdut sederhana tetapi mengena: siswa bisa meminta AI menulis esai hanya dengan satu perintah. Output mungkin rapi, tetapi siswa kehilangan latihan menyusun argumen, memilih bukti, dan merapikan logika.
Dalam riset literasi digital, kualitas belajar sering ditentukan oleh kualitas pertanyaan dan proses revisi. AI justru bermanfaat ketika dipakai untuk brainstorming, membuat kerangka, atau memeriksa koherensi, lalu siswa tetap menulis dan mempertanggungjawabkan isinya.
Karena itu, kebutuhan mendesak adalah “kurikulum penggunaan AI” yang konkret di tingkat sekolah. Isinya bisa berupa aturan sitasi, batas penggunaan pada tugas tertentu, dan rubrik penilaian yang menilai proses, bukan hanya produk akhir.
Isu ini juga menyentuh kekhawatiran yang pernah muncul di ruang publik, termasuk peringatan bahwa AI dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis jika dipakai tanpa kontrol. Ketika siswa terbiasa menerima jawaban instan, otot kognitif untuk menganalisis dan meragukan bisa melemah.
Pernyataan Lenovo benar dalam satu hal penting: generasi Alpha tidak butuh diajari cara menekan tombol. Mereka butuh dibimbing agar paham kapan AI membantu belajar dan kapan AI justru mencuri kesempatan belajar.
Namun ada sisi yang harus dibaca kritis karena narasi “tanggung jawab” sering berhenti sebagai slogan. Jika sekolah tidak menyediakan pedoman tertulis, pelatihan guru, dan evaluasi berkala, maka tanggung jawab itu jatuh sebagai beban personal guru semata.
Di sinilah kebijakan sekolah dan pemerintah perlu hadir sebagai pagar, bukan palu. Pembatasan total biasanya hanya memindahkan penggunaan AI ke ruang privat tanpa pengawasan, sementara pembiaran total mengundang budaya mencontek yang lebih canggih.
Guru perlu strategi yang realistis: tugas berbasis pengalaman lokal, presentasi lisan, dan portofolio proses. Cara ini membuat AI tetap bisa dipakai, tetapi siswa tidak bisa “menghilang” dari kerja intelektualnya sendiri.
Lenovo juga diuntungkan oleh ekosistem perangkat dan layanan yang mereka jual, sehingga rekomendasi industri perlu diuji dengan kepentingan publik. Meski begitu, pesan intinya tetap berguna: AI harus memperkuat pedagogi, bukan menggantikannya.
AI di pendidikan adalah ujian baru bagi otoritas guru dan arah sekolah. Jika guru mampu mengubah AI menjadi partner berpikir, kelas bisa lebih kreatif dan personal tanpa mengorbankan kejujuran akademik.
Pertanyaannya kini bukan apakah siswa akan memakai AI, karena mereka sudah memakainya. Pertanyaannya adalah apakah sekolah berani mengajarkan cara memakai AI dengan jujur, kritis, dan bertanggung jawab sebelum kebiasaan instan menjadi budaya permanen. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Juni 2026)