Tengku Zulkifli Usman: Iran Bermain dengan Waktu, Sampai Seluruh Kemampuan AS untuk Menyerang Bisa Kering

PM Israel Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.

PM Israel Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.

Opini

Oleh Tengku Zulkifli Usman, analis geopolitik.

ORBITINDONESIA.COM - Saat Netanyahu bertemu dengan Trump di gedung Putih, Iran merudal pangkalan militer AS di Jordan. Padahal AS tidak menyerang Iran dalam dua hari ini.

Pesan Iran sangat jelas, serangan ke basis AS di Jordan kali ini adalah sinyal ke Netanyahu yang sekarang ada di gedung putih untuk memprovokasi Trump, agar kembali memulai perang besar dengan Iran.

Netanyahu datang dengan bekal suplai data dari Mossad. Bahwa nuklir Iran masih aktif di bawah gunung, dan Netanyahu meminta Trump mengebom situs itu segera.

Di gedung putih, Netanyahu sedang melakukan presentasi ke Trump agar perang dengan Iran dilanjutkan, dia meyakinkan Trump untuk menyerang Iran kembali.

Sedangkan di Israel, menteri pertahanan Israel Katz memprovokasi Iran, Katz mengatakan serangan AS ke Iran dilakukan melalui tanah Israel, Katz menginginkan Iran terprovokasi dan menyerang Israel duluan. Tapi Iran tidak masuk dalam jebakan ini.

Iran bermain dengan waktu, sampai seluruh kemampuan AS untuk menyerang bisa kering, baik amunisi maupun kalkulasi politik Trump.

Iran tetap fokus membangun kekuatan militer dan balistik mereka tanpa terganggu dengan provokasi Netanyahu atau Menteri Israel. Iran hanya menyampaikan pesan yang jelas: siapapun yang mulai menyerang Iran lagi, maka Iran akan membalas serangan dengan keras.

Begitu juga provokasi dari Ukraina yang beberapa hari lalu menyerang kapal Iran, walaupun pemerintah Ukraina telah meminta maaf, Iran tetap akan membalas Ukraina dengan cara yang tepat di waktu yang tepat. Itu sikap Iran yang disampaikan Menlu Iran Abbas kepada Ukraina.

Ada keinginan saat ini dari AS dan Israel, untuk membawa perang Iran lebih besar dari sebelumnya, menarik NATO dan sekutunya, menarik eropa dll agar semua bergerak mensetop Iran. Ini taktik yang Iran sudah paham betul modus operandi nya.

Berhentinya AS menyerang Iran selama 3hari ini, setelah mereka menyerang Iran secara intensif 2 pekan ke belakang adalah fakta yang sangat jelas, bahwa AS kehilangan arah dalam perang ini, dan semakin tidak jelas tujuannya.

Iran memakai taktik jangka panjang, Iran ingin mengalahkan Israel dan AS bukan lewat jalur konfrontasi militer, tapi lewat politik dan diplomasi. Dengan cara inilah, Netanyahu dan Trump bisa dikalahkan dalam pemilu AS dan Israel dalam waktu dekat.

Iran tidak sedang bermain dengan militer, tapi Iran fokus pembalasan politik, ekonomi, dan diplomasi. Sambil sesekali tetap memakai jalur militer terutama jika sedang mendapatkan serangan dari AS secara langsung.

Makanya Iran tetap tidak menyerang Israel terlebih dahulu walaupun Netanyahu dan Menteri nya memprovokasi Iran agar menyerang lebih dulu.

Netanyahu dan pejabat Israel saat ini butuh Iran menyerang Israel duluan, agar Netanyahu punya alasan menyerang Iran sampai Oktober dan memperkuat posisinya di dalam politik domestik Israel dan harapannya bisa kembali menang pemilu.

Perang Iran ini bukan kepentingan AS yang utama, perang ini adalah kepentingan Israel paling utama. AS dan Trump hanya dimanfaatkan oleh Israel untuk kepentingan jangka panjang mereka, melumpuhkan Iran yang merupakan satu satunya kekuatan tandingan Israel yang paling kuat di kawasan itu.

Netanyahu bukan hanya ingin Iran tumbang, tapi dia menginginkan AS dan Trump mengobarkan perang salib baru lawan dunia Islam, dengan Iran sebagai sasaran utama karena dia yang paling kuat yang ada saat ini.

Itulah kenapa, Menlu AS Marco Rubio dan Menteri perang AS Pete Hegseth berkali kali pernah mengatakan, bahwa baik Sunni atau Syiah tidaklah penting, yang penting adalah Islam adalah musuh AS. Ini adalah copy paste pidatonya Netanyahu.

Dunia Islam memang masih sangat bodoh dengan realitas GeoPolitik saat ini, terutama para pemimpin Arab yang menjadi boneka Israel saat ini mayoritas terus menerus abu abu dalam melihat realitas, bahwa mereka hanya kaki tangan AS dan Israel untuk kepentingan GeoPolitik salib, yang dipakai untuk memukul dunia Islam. Ironisnya, mereka sendiri yang membantu Israel dan AS merealisasikan misi "salib" itu.

Perang GeoPolitik tidak selamanya adalah perang agama, tapi agama adalah salah satu faktor utama yang mendorong perang GeoPolitik, terutama dalam konteks perang dengan tujuan melenyapkan Iran. Muslim banyak yang belum siuman soal ini.

Iran saat ini yang terus berupaya tegak di tengah gempuran AS dan Israel, pada dasarnya sedang mempertahankan tiang yang kokoh dari ancaman petaka kejatuhan dunia Islam secara keseluruhan di depan proyek Israel dan AS.

Perang yang ada di Iran saat ini tidak sederhana, terencana dengan baik oleh para pemikir GeoPolitik AS dan Israel secara detail, tapi pemimpin dunia Islam yang masih tidur atau lemah di depan realitas ini.

Perang terhadap Iran bukan sekedar perang GeoPolitik semata, tapi perang ini bertujuan jauh kedepan untuk melumpuhkan dunia Islam lebih dalam, dalam halaman baru tatanan global baru dimasa mendatang.

Semua rencananya ini masih tidak berjalan mulus, karena Iran masih tegak berdiri sampai detik ini. Ini perlu dipahami dengan baik oleh kita semua. ***