Song Ji Hyo Model Lingerie Tanpa Edit, NINASSONG Disorot Netizen

Wolipop

Wolipop

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Song Ji Hyo model lingerie untuk brand underwear NINASSONG memicu debat netizen karena memilih foto tanpa edit. Keyword “Song Ji Hyo model lingerie tanpa edit” mendadak ramai, bukan karena desainnya, melainkan karena garis perut alami yang terlihat jelas.

Di luar statusnya sebagai aktris dan member Running Man, Song Ji Hyo kini tampil sebagai CEO sekaligus wajah utama NINASSONG. Ia menyebut proyek ini dipersiapkan selama delapan tahun, dari memilih bahan di pasar Dongdaemun sampai menguji kenyamanan produk.

Kontroversi muncul ketika pemotretan terbarunya menampilkan set lingerie merah, hijau emerald, dan hitam dengan gaya sederhana. Publik justru fokus pada tekstur tubuhnya yang tidak “dipoles,” sebuah detail yang jarang dibiarkan tampil dalam budaya visual selebritas.

Perdebatan ini memperlihatkan dua arus yang saling bertabrakan dalam industri hiburan dan pemasaran: tuntutan kesempurnaan visual dan tren “body positivity” yang mengklaim merayakan tubuh apa adanya. Dalam praktiknya, “tanpa edit” sering dipakai sebagai slogan, tetapi jarang benar-benar dijalankan ketika menyangkut figur publik.

Song Ji Hyo memilih strategi yang berisiko, karena lingerie adalah produk yang paling sering dipasarkan lewat ilusi tubuh ideal. Ketika perut alami terlihat, sebagian netizen memuji keberanian dan realisme, tetapi sebagian lain menganggapnya “cacat” yang harus dijelaskan.

Di titik ini, tubuh perempuan kembali diposisikan sebagai ruang audit publik. Netizen bahkan mengaitkan bentuk perut dengan kebiasaan minum, merujuk pada pengakuan Song Ji Hyo bahwa ia “meminum alkohol lima kali seminggu” dan “berpuasa sampai jam 5 sore sebelum meminum alkohol dengan lauk pauk.”

Spekulasi semacam itu menunjukkan pergeseran dari konsumsi konten menjadi penghakiman gaya hidup. Foto lingerie berubah menjadi pintu masuk untuk mengomentari kesehatan, moral, dan disiplin diri, seolah tubuh selebritas adalah laporan yang wajib dipertanggungjawabkan.

Dari sisi bisnis, langkah ini juga bisa dibaca sebagai diferensiasi merek. Saat pasar lingerie dipenuhi citra yang seragam, visual yang lebih natural dapat membangun kesan “nyata” dan dekat, apalagi NINASSONG menjual narasi kenyamanan yang diklaim dipikirkan langsung oleh pendirinya.

Ada pula konteks perjuangan komersial yang diakui Song Ji Hyo sendiri. Ia pernah mengatakan penjualan awalnya seret, “hanya satu pesanan yang masuk per hari” ketika tampil di kanal YouTube Kim Jong Kook pada April 2026.

Karena itu, pemotretan yang memantik percakapan bisa menjadi mesin visibilitas gratis. Namun visibilitas yang lahir dari kontroversi tetap menyimpan biaya reputasi, terutama jika diskusi publik bergeser dari kualitas produk menjadi penilaian fisik yang merendahkan.

Yang paling menarik bukan sekadar “perut terlihat,” melainkan standar apa yang diam-diam kita anggap wajar. Jika seorang selebritas 44 tahun harus terlihat seperti hasil filter, maka yang sedang kita normalisasi adalah ketakutan kolektif pada penuaan.

Keputusan Song Ji Hyo untuk tidak meretouch foto dapat dibaca sebagai perlawanan kecil terhadap estetika palsu yang dibangun industri. Tetapi perlawanan itu juga menguji kejujuran publik, karena banyak orang memuji naturalitas sambil tetap menuntut tubuh yang sesuai fantasi.

Di sisi lain, memasarkan produk dengan tubuh “apa adanya” tidak otomatis membebaskan perempuan dari objektifikasi. Ia hanya memindahkan medan objektifikasi dari “terlalu sempurna” menjadi “terlalu nyata,” dan keduanya sama-sama menempatkan tubuh sebagai pusat validasi.

Netizen yang mengaitkan foto dengan kebiasaan minum menunjukkan masalah yang lebih dalam: kecenderungan menyederhanakan tubuh menjadi sebab-akibat instan. Padahal kondisi tubuh dipengaruhi banyak faktor, dari hormon, stres, pola tidur, hingga genetika, yang tidak bisa disimpulkan dari satu sesi pemotretan.

Polemik Song Ji Hyo model lingerie tanpa edit pada akhirnya adalah cermin tentang bagaimana publik memperlakukan tubuh perempuan, terutama ketika usia bertambah. NINASSONG bisa saja diuntungkan oleh percakapan global, tetapi pertanyaan besarnya tetap: mengapa kejujuran visual masih dianggap kontroversial?

Mungkin yang perlu “diedit” bukan perut seseorang, melainkan cara pandang kita yang mengukur nilai perempuan dari permukaan kulit. Jika foto tanpa retouch saja memicu debat, barangkali kita belum benar-benar siap menerima tubuh manusia sebagai sesuatu yang normal. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Oktober 2026)