Kematian di Roller Coaster Six Flags: Investigasi Goliath Disorot
ORBITINDONESIA.COM – Investigasi kematian penumpang roller coaster Six Flags Over Georgia di wahana Goliath kini mengarah pada tiga kata kunci yang paling dicari publik: perawatan, cacat desain, dan human error. Hassan Kariem (42) tewas setelah saksi menyebut ia terlempar dari kursinya, sementara Goliath ditutup total dan manajemen menjanjikan penambahan sabuk pengaman.
Komisaris Asuransi dan Keselamatan Kebakaran Georgia, John F. King, memimpin penyelidikan dan berjanji tidak akan “memotong jalan, terburu-buru menyimpulkan, atau membiarkan pertanyaan tak terjawab.” Ia menyebut tim penyidik bekerja “siang dan malam” untuk memastikan tiap detail diperiksa.
Six Flags menyampaikan belasungkawa dan menegaskan keselamatan adalah prioritas tertinggi, sambil menyatakan mendukung investigasi bersama otoritas negara bagian dan pabrikan wahana. Dalam pernyataan lanjutan, CEO Six Flags John Reilly menyebut sabuk pengaman akan ditambahkan pada Goliath dan “roller coaster lain dengan sistem penahan serupa.”
Inspeksi Maret terhadap Goliath, menurut King, tidak menemukan pelanggaran atau kekurangan. Namun laporan itu memuat catatan bahwa staf “perlu mengganti bushing,” komponen yang mengurangi gesekan dan menyerap guncangan pada rakitan mekanik.
Goliath di Georgia dibuka pada 2006, mampu melaju hingga 70 mil per jam, dan lintasannya menjulang 200 kaki. Wahana ini dirancang Bolliger & Mabillard, produsen roller coaster asal Swiss, dan Six Flags telah membuka lima Goliath di Amerika Utara dalam 25 tahun terakhir.
Jika benar korban terlempar, para operator dan insinyur wahana menilai skenarionya mengerucut pada malfungsi mekanik, kesalahan operator saat memeriksa pengunci, atau kombinasi keduanya. Mereka menekankan, penahan dan wahana semestinya diperiksa tim perawatan setiap pagi sebelum operasional.
Sistem penahan Goliath memakai clamshell lap bar berlapis bantalan, berbentuk U, yang mengunci di paha dan pinggang. Operator memeriksa pengunci sebelum wahana dijalankan, dan secara desain sistem kontrol akan memberi sinyal ketika semua penahan tertutup.
Seorang operator yang juga mengoperasikan Goliath di taman lain menjelaskan logika kontrolnya: tombol oranye membuka-menutup penahan, sensor memverifikasi semua terkunci, lalu tombol hijau “dispatch” berkedip sebagai izin menjalankan. Penjelasan ini menggambarkan adanya lapisan verifikasi, tetapi juga menunjukkan betapa krusialnya langkah pemeriksaan fisik di lapangan.
Catatan inspeksi yang diperoleh CBS News selama lebih dari satu dekade menunjukkan sekitar 20 pelanggaran yang cepat diselesaikan pada 2016–2021, dan tidak ada pelanggaran sejak itu. Angka itu bisa dibaca sebagai perbaikan kepatuhan, tetapi juga tidak otomatis meniadakan risiko kegagalan komponen kecil yang bersifat kumulatif.
Insinyur Troy Richardson menilai catatan bushing berpotensi signifikan, karena bushing menjaga posisi komponen pada penahan, sambungan sasis, dan bogie roda di tengah gesekan dan guncangan berulang. “Bushing, kalau sedikit saja meleset, pin tidak masuk lubang atau menjadi longgar,” katanya, menekankan bahwa toleransi kecil dapat memicu konsekuensi besar.
Richardson juga menyoroti pertanyaan kunci investigasi: apakah staf mengikuti jadwal perawatan dan penggantian sesuai manual pabrikan. Dalam praktik keselamatan industri, manual bukan sekadar panduan, melainkan standar minimum yang membentuk rantai akuntabilitas.
Sumber yang mengetahui operasi taman menyebut bushing yang dicatat pada inspeksi Maret berada pada bogie, penghubung kendaraan dengan rel, dan tidak terkait sistem penahan, serta sudah diganti sesuai rekomendasi. Klaim ini, jika benar, menggeser fokus penyelidikan ke area lain, termasuk prosedur operator dan integritas penahan.
Kathryn Woodcock, pemimpin redaksi Journal of Themed Experience and Attractions Studies, menekankan penyidik perlu tahu “apa tepatnya yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.” Ia membedakan antara dua komponen yang terlepas, misalnya kait terbuka, dengan satu komponen yang patah, misalnya retak yang gagal secara katastrofik.
Woodcock juga mengingatkan dilema penting: mengganti komponen terlalu cepat tidak selalu lebih baik. Ia menyebut pola “kurva bak mandi,” di mana kegagalan sering terjadi di awal pemakaian karena cacat produksi, lalu menurun, dan meningkat lagi saat usia pakai menua.
Dalam konteks korporasi, skala Six Flags besar: hampir tiga lusin taman di Amerika Utara, lebih dari 47 juta tamu, dan 95.000 karyawan pada 2025 menurut dokumen SEC. Skala ini membuat standar pelatihan dan disiplin prosedur menjadi ujian nyata, karena tekanan operasional mudah menyusup ke keputusan harian.
Di Six Flags Magic Mountain, kematian Christopher Hawley (22) setelah menaiki X2 pada 2022 memicu pertanyaan soal perawatan dan inspeksi, kata pengacara keluarga, Timothy Loranger. Ia mengaku tidak yakin teknisi “kompeten” dan menilai pelatihan tidak memadai, padahal mereka “memegang sistem yang sangat penting.”
Magic Mountain kemudian menyelesaikan gugatan wrongful death, dan X2 ditutup permanen pada September setelah gugatan dugaan cedera otak menumpuk. Basis data Doan Law Firm juga mencatat dua kematian sebelumnya pada wahana bernama Goliath: aneurisma otak pada 2002 di California dan kematian yang diduga serangan jantung pada 2006 di Georgia.
Di Georgia, mantan pimpinan operasi wahana berusia 18 tahun, Jacobi Edwards, menyebut tempatnya “sangat terkelola baik,” namun mengakui ada rasa dikejar waktu karena Goliath adalah wahana paling populer. Ia mengatakan dirinya memilih memprioritaskan keselamatan dibanding mengejar “lebih banyak siklus” operasional.
Richardson menekankan budaya keselamatan harus memberi kewenangan nyata kepada petugas garis depan untuk menghentikan operasi bila ragu. “Saya tidak peduli ada 100 orang antre, kita tidak mau ada yang mati,” katanya, menggarisbawahi bahwa keputusan berhenti adalah bagian dari sistem, bukan pembangkangan.
Namun Harper Henderson (18), mantan karyawan yang mulai bekerja sejak usia 15, menggambarkan sisi lain: tekanan menjaga antrean bergerak sejalan dengan percepatan pelatihan karyawan baru. Ia mengaku dipromosikan menjadi pelatih pada usia 17 setelah enam minggu menjadi operator, dan proses pelatihan bisa “selesai dalam sekitar satu jam.”
Henderson juga menyebut, karena wahana sering sangat ramai, pelatihan kerap dipercepat dengan memberikan jawaban tes agar operator baru siap kerja dalam “15 menit.” CBS News meninjau tes operator untuk dua wahana lain, Georgia Scorcher dan Log Jamboree, yang berisi pertanyaan mekanik dan prosedur keselamatan, termasuk indikator tombol “DISPATCH” yang berkedip.
Ia menyebut dirinya tidak nyaman dengan proses tersebut dan mengundurkan diri pada Juli 2025. Menurutnya, dorongan manajer untuk membuka wahana dengan “jumlah minimum orang” menciptakan ruang kompromi yang berbahaya, bahkan bila tidak pernah dimaksudkan untuk melanggar keselamatan.
Kasus Goliath menyingkap paradoks industri hiburan ekstrem: sistem dibuat berlapis, tetapi lapisan paling rapuh sering justru budaya kerja. Sensor, tombol, dan manual bisa sangat canggih, namun tetap bergantung pada manusia yang tidak boleh dipaksa memilih antara kecepatan dan kehati-hatian.
Catatan “bushing perlu diganti” menunjukkan bagaimana komponen kecil bisa menjadi pintu masuk penyelidikan besar, meski belum tentu penyebab utama. Publik sering mencari satu biang keladi, tetapi kecelakaan fatal biasanya lahir dari rangkaian celah kecil yang saling menguatkan.
Keputusan menambah sabuk pengaman patut dibaca sebagai respons mitigasi, tetapi juga memunculkan pertanyaan: apakah desain penahan sebelumnya sudah cukup untuk variasi ukuran tubuh penumpang dan dinamika gaya pada kecepatan tinggi. Jika investigasi menemukan prosedur pemeriksaan operator yang longgar, maka masalah utamanya bukan teknologi, melainkan disiplin dan insentif kerja.
Testimoni mantan karyawan tentang pelatihan kilat menempatkan manajemen pada sorotan yang sulit dihindari. Ketika pelatih berusia 17 tahun diminta meluluskan operator baru dalam hitungan menit, keselamatan berubah dari sistem menjadi slogan.
Penyelidikan kematian Hassan Kariem pada roller coaster Goliath akan menentukan apakah yang gagal adalah komponen, desain, atau manusia, dan kemungkinan besar kombinasi dari ketiganya. Namun apa pun hasilnya, kasus ini menuntut koreksi yang melampaui satu wahana, karena ia menyentuh cara sebuah industri memaknai “aman” di bawah tekanan antrean dan target operasi.
Pertanyaan yang tersisa bukan hanya “apa yang rusak,” melainkan “mengapa sistem membiarkan itu terjadi.” Jika keselamatan benar-benar etos, maka kewenangan untuk berhenti, waktu untuk melatih, dan keberanian untuk menunda operasi harus dianggap sama pentingnya dengan kecepatan dan sensasi. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)