Janhvi Kapoor Bandingkan Bollywood vs Telugu: Jam Kerja dan Kreativitas

India Today

India Today

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Janhvi Kapoor menyoroti perbedaan Bollywood vs industri film Telugu, dari budaya kerja hingga cara kreatif dibangun di lokasi syuting. Ia menyebut Telugu cinema lebih menghormati jam kerja dan memberi ruang proses, sementara Hindi cinema cenderung dikuasai jadwal dan “Excel sheet”.

Pernyataan Janhvi muncul saat promosi film Peddi bersama Ram Charan dalam wawancara dengan Zoom. Ia membandingkan work culture di dua industri besar India yang sama-sama produktif, tetapi berbeda dalam ritme produksi.

Di permukaan, perbandingan ini terdengar seperti soal selera manajemen. Namun di baliknya ada isu lebih besar, yakni bagaimana industri memaknai efisiensi, keselamatan kerja, dan kualitas kreatif dalam produksi film.

Janhvi menggambarkan set Telugu sebagai ruang yang digerakkan “passion and pride”, bukan sekadar mengejar tenggat. Ia mengatakan proses bisa lebih lentur, mengikuti spontanitas sutradara dan variabel kreatif lain, meski itu berarti waktu produksi lebih panjang.

Kontrasnya, ia menyebut Hindi cinema lebih “by the book” dan sangat dipengaruhi logika spreadsheet. Menurutnya, kerapian ini punya manfaat, tetapi juga bisa mendorong kompromi kreatif ketika jadwal dan biaya menjadi kompas utama.

Poin terkuat Janhvi ada pada kerja yang manusiawi. Ia mencontohkan jeda makan siang di Telugu: 40 menit untuk makan dan 20 menit tidur singkat, lalu kembali bekerja dengan kondisi segar.

Ia juga menyebut jam kerja yang lebih terukur. Menurutnya, syuting 12 jam hanya terjadi “sekali atau dua kali”, sementara mayoritas hari kerja berada di kisaran 9–10 jam.

Untuk syuting malam, ia menyebut aturan tidak lewat pukul 2 pagi agar kru tetap punya waktu istirahat. Klaim ini penting karena praktik jam kerja panjang di industri hiburan global kerap dikaitkan dengan kelelahan, penurunan konsentrasi, dan risiko kecelakaan kerja.

Namun Ram Charan memberi catatan balik yang tidak kalah relevan. Ia mengagumi kemampuan Bollywood menyelesaikan film “on time”, bahkan berharap bisa menuntaskan produksi dalam 70 hari atau lebih cepat.

Janhvi menimpali bahwa kadang film bisa rampung 30–40 hari. Di sini terlihat dua filosofi produksi: satu mengejar kepadatan hari syuting, yang lain menerima durasi panjang demi proses yang dianggap lebih matang.

Charan lalu menyebut Peddi sebagai contoh ekstrem. Film itu memakan 285 hari syuting yang tersebar selama dua tahun, angka yang menegaskan bahwa “mengutamakan proses” juga berarti biaya kesempatan yang besar.

Secara produksi, hari syuting yang panjang bisa memberi ruang eksperimen, tetapi juga berisiko pada pembengkakan anggaran dan kelelahan kronis karena proyek tak kunjung selesai. Sebaliknya, jadwal ketat bisa menekan biaya, tetapi berpotensi mengorbankan improvisasi, reshoot kreatif, dan kesehatan mental kru.

Dalam konteks Peddi, skala proyek ikut menentukan. Film olahraga yang dibintangi Ram Charan dan Janhvi, disutradarai Buchi Babu Sana, serta didukung musik AR Rahman, kemungkinan menuntut koreografi adegan, latihan fisik, dan pengambilan gambar berulang.

Daftar pemain pendukung seperti Shiva Rajkumar, Jagapathi Babu, Divyendu Sharma, Ravi Kishan, dan Boman Irani juga menambah kompleksitas penjadwalan. Kompleksitas ini sering membuat produksi besar lebih sulit “dipadatkan” tanpa mengorbankan koordinasi dan keselamatan.

Perdebatan Bollywood vs Telugu sebenarnya bukan soal siapa lebih unggul, melainkan soal metrik keberhasilan yang dipakai. Jika keberhasilan diukur hanya dari cepat selesai, maka spreadsheet menang, tetapi seni bisa menjadi korban yang diam.

Namun jika keberhasilan hanya diukur dari kebebasan kreatif, industri bisa terjebak pada romantisasi “proses” yang tak disiplin. Waktu yang panjang tidak otomatis melahirkan film yang lebih baik, dan jam kerja yang manusiawi tetap perlu ditopang manajemen yang tegas.

Yang menarik, Janhvi menempatkan “respect for working hours” sebagai indikator kualitas ekosistem, bukan sekadar kenyamanan artis. Ia menggeser fokus dari bintang ke kru, dari glamor ke hal yang paling sering tak terlihat.

Di sisi lain, kekaguman Ram Charan pada efisiensi Bollywood menunjukkan bahwa disiplin produksi juga dapat menjadi bentuk penghormatan pada tenaga kerja. Film yang selesai tepat waktu berarti kru lebih cepat berpindah proyek, pendapatan lebih stabil, dan ketidakpastian lebih kecil.

Maka, pertanyaan kuncinya bukan “Telugu lebih baik atau Bollywood lebih baik”. Pertanyaan yang lebih tajam adalah: bagaimana industri merancang sistem yang menjaga kesehatan kru, tanpa mematikan spontanitas kreatif yang membuat film terasa hidup.

Pernyataan Janhvi Kapoor membuka jendela tentang dua cara memproduksi mimpi: satu rapi dan cepat, satu lentur dan berorientasi proses. Keduanya punya harga, dan harga itu sering dibayar oleh orang-orang di balik kamera.

Jika industri film India ingin tetap kompetitif dan manusiawi, standar jam kerja, jeda istirahat, dan disiplin jadwal harus diperlakukan sebagai fondasi, bukan bonus. Pada akhirnya, publik mungkin perlu bertanya: apakah kita menginginkan film yang cepat jadi, atau film yang dibuat tanpa mengorbankan manusia yang membuatnya.

(Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)