Paras Health Raih Great Place To Work 2026–27, Budaya Rumah Sakit

healthcareexecutive.in

healthcareexecutive.in

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Sertifikasi Great Place To Work 2026–27 untuk Paras Health menegaskan satu pesan: budaya kerja rumah sakit dan pengalaman karyawan ikut menentukan mutu layanan pasien. Di tengah krisis talenta kesehatan global, label “tempat kerja hebat” bukan sekadar kebanggaan, melainkan strategi bertahan.

Paras Health mengumumkan telah tersertifikasi sebagai Great Place To Work® periode 2026–27. Pengakuan ini dikaitkan dengan budaya kerja yang dibentuk karyawan lintas fungsi klinis, operasional, dan pendukung.

Isu ini muncul saat banyak organisasi kesehatan berlomba menarik dan mempertahankan tenaga terampil. Beban kerja tinggi, tekanan emosional, dan tuntutan kualitas membuat retensi SDM menjadi titik rawan.

Secara global, WHO pernah mengingatkan dunia akan potensi kekurangan tenaga kesehatan yang besar menuju 2030. Dalam konteks itu, sertifikasi budaya kerja menjadi sinyal ke pasar tenaga kerja, sekaligus ujian konsistensi internal.

Dalam pernyataannya, Managing Director Paras Health Dr. Dharminder Nagar menekankan kaitan langsung antara merawat karyawan dan merawat pasien. “In healthcare, the way we care for our people ultimately reflects in the way we care for our patients,” ujarnya.

Kalimat itu sejalan dengan temuan riset manajemen layanan kesehatan yang berulang kali menunjukkan hubungan antara engagement staf dan pengalaman pasien. Namun, hubungan tersebut tidak otomatis, karena budaya kerja harus diterjemahkan menjadi sistem kerja yang adil dan terukur.

COO Paras Health, Vineet Aggarwal, menyoroti rumah sakit sebagai kerja kolektif lintas fungsi. Ia menekankan kolaborasi, akuntabilitas, dan saling menghormati sebagai prasyarat perjalanan pasien yang mulus.

Di lapangan, koordinasi lintas unit sering menjadi sumber friksi, dari antrean diagnostik hingga keterlambatan administrasi. Budaya “trust” yang diklaim Paras Health akan diuji pada momen tekanan: lonjakan pasien, pergantian shift, dan keputusan klinis berisiko tinggi.

CHRO & Business Transformation Officer, Balkishan Sharma, menggarisbawahi budaya dibentuk pengalaman sehari-hari. Ia menyebut perlakuan yang setara, didengar, pengakuan kontribusi, dan dukungan pertumbuhan sebagai fondasi.

Ini penting karena sertifikasi Great Place To Work® pada umumnya berbasis survei pengalaman karyawan dan evaluasi praktik organisasi. Artinya, sertifikat dapat dibaca sebagai “snapshot” persepsi, bukan jaminan permanen atas kualitas kepemimpinan atau beban kerja.

Karena itu, pertanyaan analitisnya bukan apakah Paras Health pantas mendapat pengakuan, melainkan apa yang dilakukan setelah pengakuan. Budaya kerja yang sehat membutuhkan indikator lanjutan: tingkat turnover, absensi, keselamatan kerja, hingga pelaporan insiden tanpa rasa takut.

Paras Health menyebut fokus pada engagement, capability building, equal opportunities, dan lingkungan inklusif. Jika program ini dilengkapi jalur karier yang jelas dan pelatihan klinis yang relevan, dampaknya bisa terasa hingga ke keselamatan pasien.

Namun, sektor kesehatan juga rentan pada “culture-washing,” ketika narasi budaya lebih cepat daripada perbaikan sistem. Tanpa transparansi metrik dan audit internal yang rutin, sertifikasi dapat berubah menjadi materi rekrutmen semata.

Pengakuan Great Place To Work bagi rumah sakit seperti Paras Health patut dibaca sebagai sinyal kompetisi baru di layanan kesehatan: bukan hanya gedung dan alat, tetapi manusia. Dalam ekonomi kesehatan modern, pengalaman karyawan adalah infrastruktur yang tak terlihat.

Yang membuat isu ini tajam adalah paradoksnya: rumah sakit dituntut penuh empati, tetapi karyawannya sering kehabisan empati karena kelelahan. Budaya kerja yang baik harus berani menyentuh hal yang paling sulit, yakni beban kerja, jadwal shift, dan dukungan psikologis.

Paras Health menekankan rasa dihargai, diberdayakan, dan peluang bertumbuh. Itu akan kredibel bila disertai mekanisme “voice” yang aman, misalnya kanal pelaporan, forum lintas profesi, dan tindak lanjut yang nyata.

Publik juga berhak menuntut keterhubungan budaya kerja dengan mutu layanan. Jika budaya internal benar kuat, pasien semestinya merasakan komunikasi lebih jelas, waktu respons lebih cepat, dan koordinasi antarunit yang lebih rapi.

Di sisi lain, sertifikasi seperti ini dapat membantu mengangkat standar industri. Ketika satu pemain mempromosikan inklusi dan pengembangan talenta, pesaing terdorong melakukan hal serupa agar tidak kalah dalam perebutan SDM.

Sertifikasi Great Place To Work 2026–27 menempatkan Paras Health dalam sorotan positif tentang budaya kerja rumah sakit dan manajemen SDM kesehatan. Pernyataan para pimpinan mereka menegaskan keyakinan bahwa kualitas layanan pasien bertumpu pada kualitas pengalaman karyawan.

Tetapi sertifikat adalah titik awal, bukan garis finis. Ukuran keberhasilannya adalah apakah karyawan tetap merasa aman, dihormati, dan berkembang ketika tekanan kerja meningkat.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bagi Paras Health dan industri adalah sederhana namun menantang: bisakah “tempat kerja hebat” dibuktikan bukan oleh logo sertifikasi, melainkan oleh pasien yang merasa lebih dipedulikan dan tenaga kesehatan yang pulang tanpa kehilangan martabatnya. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)