Hubungan Parasosial di Media Sosial: Idola Terasa Dekat, Risiko Nyata

TIMES Indonesia

TIMES Indonesia

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Hubungan parasosial di media sosial membuat banyak penggemar merasa benar-benar mengenal idola, padahal kedekatan itu sering hanya ilusi layar. Cukup satu balasan komentar atau sapaan saat live streaming, lalu jarak terasa lenyap dan emosi ikut terikat.

Dulu, kedekatan penggemar dan idola dibatasi panggung, layar televisi, atau halaman majalah. Kini, media sosial memberi akses harian yang tampak intim melalui vlog, story, dan unggahan keseharian.

Di titik inilah hubungan parasosial tumbuh, yaitu kedekatan emosional satu arah terhadap figur publik yang sebenarnya tidak mengenal kita secara personal. Fenomena ini bukan sekadar tren fandom, melainkan pola relasi baru yang dibentuk oleh desain platform.

Platform mendorong rasa “dekat” lewat notifikasi, fitur live, dan kolom komentar yang terasa seperti ruang keluarga. Namun kedekatan itu berlangsung dalam kerangka massa, bukan hubungan dua individu.

Hubungan parasosial muncul karena paparan berulang yang membuat sosok idola terasa familiar seperti teman. Otak membaca repetisi wajah, suara, dan cerita sebagai kedekatan, meski tidak ada timbal balik yang setara.

Media sosial memperkuatnya lewat ilusi interaksi personal. Balasan singkat, emoji, atau mention bisa terasa seperti pengakuan khusus, padahal sering ditujukan untuk menjaga engagement banyak orang sekaligus.

Secara industri, kedekatan ini adalah “mata uang” ekonomi perhatian. Semakin tinggi keterikatan, semakin lama waktu tonton, semakin besar peluang iklan, sponsor, dan penjualan merchandise.

Riset akademik klasik tentang parasocial interaction dikenalkan oleh Horton dan Wohl (1956), dan konsepnya justru makin relevan di era kreator digital. Yang berubah bukan mekanismenya, melainkan skalanya yang kini real time dan selalu hadir di genggaman.

Dampaknya tidak selalu negatif. Banyak orang mendapat hiburan, motivasi, bahkan rasa terhubung ketika merasa ada figur yang “menemani” di masa sepi.

Masalah muncul saat hubungan parasosial menggantikan relasi nyata atau menjadi sumber utama regulasi emosi. Ketika suasana hati naik turun mengikuti kabar idola, penggemar mulai menyerahkan kendali psikologis pada sesuatu yang tidak bisa ia pengaruhi.

Di sini, batas sehat menjadi kunci. Konten idola adalah potongan realitas yang sudah dipilih, dikurasi, dan sering kali diproduksi dengan strategi citra.

Karena itu, “kedekatan” yang dirasakan penggemar sering lebih dekat dengan narasi, bukan manusia seutuhnya. Penggemar mengenal versi publik, sementara sisi privat tetap berada di luar jangkauan.

Kita perlu jujur bahwa hubungan parasosial bukan sekadar urusan penggemar yang “baper,” melainkan efek samping dari ekosistem digital. Platform merancang pengalaman agar pengguna merasa dilihat, meski sebenarnya sedang menjadi target metrik.

Idola pun tidak selalu sepenuhnya bersalah. Banyak figur publik terjebak tuntutan untuk tampak dekat demi bertahan di algoritma, sehingga batas privat dan publik makin kabur.

Namun penggemar tetap punya tanggung jawab untuk membangun pagar psikologis. Mengagumi boleh, tetapi menukar waktu tidur, pekerjaan, atau hubungan keluarga demi mengikuti setiap unggahan adalah sinyal bahaya.

Ukuran paling sederhana adalah pertanyaan ini: apakah konten idola memperkaya hidup, atau justru mengurasnya. Jika yang terjadi adalah ketergantungan, maka yang dibutuhkan bukan update terbaru, melainkan jeda.

Literasi digital di sini bukan cuma soal hoaks, tetapi juga soal emosi. Kita perlu paham bahwa perhatian adalah sumber daya, dan siapa pun yang menguasainya bisa memengaruhi cara kita merasa dan bertindak.

Hubungan parasosial di media sosial bisa menjadi hiburan yang sehat ketika ditempatkan sebagai relasi satu arah yang disadari. Ia menjadi berbahaya ketika kita memperlakukannya seperti hubungan personal yang menuntut kepastian dan balasan.

Di akhir hari, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan “seberapa dekat idola dengan kita,” melainkan “seberapa dekat kita dengan diri sendiri dan orang di sekitar.” Sebab kedekatan yang nyata tidak lahir dari notifikasi, tetapi dari hadir sepenuhnya dalam hidup yang kita jalani. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Agustus 2026)