Janhvi Kapoor Ungkap Jadwal Syuting Telugu Lebih Manusiawi

Moneycontrol.com

Moneycontrol.com

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Janhvi Kapoor menyebut jadwal syuting film Telugu kerap dirancang agar tidak menguras fisik, dengan durasi kerja sekitar sembilan hingga 10 jam per hari. Pernyataan ini segera memantik perbandingan publik tentang jam kerja di industri film India, terutama soal keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan kru.

Isu jam kerja di lokasi syuting bukan sekadar urusan teknis produksi, melainkan soal standar keselamatan dan martabat kerja. Dalam banyak industri kreatif, jam kerja panjang sering dinormalisasi atas nama “passion” dan tenggat rilis.

Di sinema India, ekosistem produksi berlapis-lapis dan berbeda antarwilayah, dari Bollywood hingga Telugu, Tamil, dan Malayalam. Karena itu, komentar Janhvi Kapoor tentang jadwal syuting Telugu menjadi pintu masuk untuk membaca budaya kerja yang jarang dibahas di luar gosip selebritas.

Jam kerja sembilan hingga 10 jam terdengar “normal” di banyak sektor formal, tetapi di lokasi syuting angka itu bisa terasa progresif. Produksi film lazim bergantung pada banyak variabel, seperti cuaca, ketersediaan lokasi, dan perubahan naskah mendadak.

Ketika hari kerja melampaui batas, efeknya tidak hanya berupa kelelahan, tetapi juga meningkatnya risiko kesalahan teknis dan kecelakaan. Studi keselamatan kerja lintas industri secara konsisten menunjukkan kelelahan berkorelasi dengan turunnya kewaspadaan, dan lokasi syuting punya banyak titik rawan seperti rigging, kabel, kendaraan, dan efek khusus.

Pernyataan Janhvi juga menyiratkan adanya manajemen jadwal yang lebih disiplin, yakni membatasi jam kerja agar kualitas tetap stabil. Dalam logika produksi, jam kerja yang lebih terukur dapat mengurangi “retake” akibat kelalaian, yang pada akhirnya menekan biaya tersembunyi.

Namun, jam kerja yang lebih pendek tidak otomatis berarti kondisi kerja ideal. Pertanyaan kuncinya adalah apakah sembilan hingga 10 jam itu dihitung sejak call time, termasuk waktu menunggu, serta apakah ada hari tambahan yang menumpuk untuk mengejar target.

Di banyak produksi film, masalah terbesar justru berada pada “dead time” yang tidak terlihat, ketika kru menunggu set siap atau keputusan kreatif berubah. Jika manajemen set rapi, jam kerja yang dibatasi bisa benar-benar menjadi perlindungan, bukan sekadar angka di atas kertas.

Dalam konteks industri Telugu yang kini semakin berorientasi pasar nasional dan global, disiplin produksi menjadi kebutuhan. Platform distribusi yang lebih luas menuntut jadwal rilis ketat, sehingga efisiensi tanpa mengorbankan kesehatan kru menjadi nilai strategis.

Publik juga semakin peka terhadap isu kesejahteraan pekerja kreatif, terutama setelah beberapa kasus kelelahan ekstrem di industri hiburan dunia menjadi sorotan. Di sinilah komentar Janhvi berfungsi sebagai sinyal budaya, bahwa ada upaya membangun standar kerja yang lebih manusiawi di sebagian produksi.

Pernyataan Janhvi Kapoor patut dibaca sebagai kritik halus terhadap romantisasi kerja berlebihan di dunia film. Ketika artis menyebut jam kerja “tidak melelahkan,” ia sedang menggeser fokus dari glamor layar ke realitas di belakang kamera.

Namun, kita juga perlu waspada terhadap narasi yang terlalu rapi, karena pengalaman syuting bisa sangat berbeda antara proyek besar dan produksi kecil. Standar manusiawi tidak boleh bergantung pada nama bintang atau besarnya anggaran, melainkan menjadi aturan dasar yang melindungi semua kru.

Jika industri Telugu memang lebih konsisten menjaga durasi kerja, itu bisa menjadi contoh kompetitif bagi ekosistem lain. Bukan karena “lebih santai,” tetapi karena lebih menghargai ritme kerja yang membuat kreativitas tetap hidup tanpa mengorbankan tubuh.

Pada akhirnya, komentar Janhvi Kapoor tentang jadwal syuting Telugu mengingatkan bahwa kualitas film tidak lahir dari kelelahan yang dipaksakan, melainkan dari kerja yang terukur dan aman. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah industri film India siap menjadikan jam kerja manusiawi sebagai standar, bukan pengecualian.

Jika penonton mulai menuntut etika produksi setara dengan kualitas cerita, maka perubahan bisa datang dari dua arah, yakni dari dalam industri dan dari pasar. Dan mungkin, ukuran kemajuan sinema bukan hanya box office, tetapi juga seberapa baik ia memperlakukan orang-orang yang membuatnya mungkin.

(Orbit dari berbagai sumber, 30 Juli 2026)