Iran Singgung Kabel Internet Selat Hormuz, Ancaman Baru IRGC

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Iran dan IRGC kembali menaikkan tensi konflik dengan Amerika Serikat dengan menyinggung kabel internet bawah laut di Selat Hormuz. Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, menyebut ada tujuh kabel internet utama yang membentang di bawah jalur laut strategis itu.

Selat Hormuz dikenal sebagai titik sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, dan selama puluhan tahun menjadi episentrum persaingan geopolitik. Ketika konflik Iran-AS berlarut, bahasa ancaman sering bergeser dari rudal ke infrastruktur.

Pernyataan Mohebbi, yang dikutip Anadolu Agency, tidak menyebut serangan secara eksplisit. Namun, menyebut kabel internet bawah laut di ruang publik sudah cukup untuk mengirim sinyal pencegahan dan menekan lawan.

Di era ekonomi digital, kabel bawah laut bukan sekadar pipa data. Ia adalah urat nadi transaksi finansial, komunikasi bisnis, layanan cloud, hingga koordinasi logistik lintas negara.

Mohebbi mengklaim seluruh lalu lintas data internet dan komersial melewati Selat Hormuz. Klaim itu terdengar absolut, tetapi intinya jelas: IRGC sedang mengarahkan perhatian pada kerentanan konektivitas global.

Secara teknis, kabel bawah laut adalah infrastruktur kritis yang sulit digantikan dalam waktu singkat. Satelit bisa menjadi cadangan, tetapi kapasitas, latensi, dan biaya biasanya tidak sebanding untuk menutup putusnya kabel utama.

Karena itu, ancaman terhadap kabel internet bawah laut di Selat Hormuz memiliki efek psikologis dan ekonomi sekaligus. Pasar, perusahaan telekomunikasi, dan operator data center akan membaca sinyal ini sebagai risiko baru di jalur maritim yang sudah rawan.

Di banyak kawasan, insiden kabel putus sering terjadi karena jangkar kapal, gempa, atau aktivitas penangkapan ikan. Namun ketika aktor militer menyebut lokasi dan jumlah kabel, spektrum kekhawatiran bergeser dari kecelakaan menjadi potensi sabotase.

Risiko terbesar bukan hanya pemutusan koneksi, tetapi ketidakpastian yang menyertainya. Ketidakpastian memaksa perusahaan menambah biaya mitigasi, memindahkan rute data, dan memperketat keamanan jaringan.

Dalam perang modern, infrastruktur sipil sering menjadi arena “ambang batas” yang kabur antara tekanan politik dan tindakan militer. Menyasar atau sekadar mengancam kabel data berarti menekan kehidupan sipil tanpa harus menembakkan satu peluru.

Selat Hormuz selama ini identik dengan minyak dan kapal tanker. Kini, ia juga diposisikan sebagai simpul data, yang nilainya tidak kalah strategis dari energi.

Pernyataan IRGC dapat dibaca sebagai strategi deterrence yang memanfaatkan ketergantungan dunia pada internet. Iran seolah berkata bahwa eskalasi tidak hanya akan terasa di medan tempur, tetapi juga di layar ponsel dan sistem pembayaran.

Namun, ada kalkulasi berbahaya di balik retorika ini. Jika kabel internet bawah laut benar-benar terganggu, dampaknya bisa meluas ke negara-negara yang tidak terlibat langsung, sehingga memicu tekanan diplomatik dan pembalasan yang lebih keras.

Di sisi lain, menyebut “tujuh kabel” juga bisa menjadi bagian dari perang informasi. Angka dan detail lokasi dapat memancing spekulasi, memperbesar ketakutan publik, dan menguji respons lawan tanpa mengambil tindakan nyata.

Amerika Serikat dan sekutunya kemungkinan tidak akan menunggu ancaman berubah menjadi insiden. Mereka dapat meningkatkan patroli, memperkuat perlindungan infrastruktur bawah laut, dan mempercepat diversifikasi rute kabel maupun jalur data.

Masalahnya, perlindungan kabel bawah laut tidak sesederhana menjaga pelabuhan. Kedalaman, panjang bentangan, dan kompleksitas kepemilikan lintas negara membuatnya rentan, sekaligus sulit diawasi secara menyeluruh.

Pernyataan IRGC tentang kabel internet bawah laut di Selat Hormuz menunjukkan bagaimana konflik Iran-AS merambah wilayah yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika infrastruktur digital masuk daftar target potensial, keamanan tidak lagi hanya soal perbatasan, tetapi juga soal koneksi.

Dunia mungkin perlu bertanya ulang: apakah ketergantungan pada segelintir jalur kabel global sudah terlalu besar. Dan jika ancaman cukup dilontarkan untuk mengguncang ekonomi, seberapa rapuh sebenarnya peradaban digital yang kita banggakan.

(Orbit dari berbagai sumber, 26 Oktober 2026)