Perang AS-Iran dan Selat Hormuz: Panetta Prediksi Buntu 6 Bulan

internasional.kompas.com

internasional.kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Perang AS-Iran dan krisis Selat Hormuz disebut Leon Panetta berpotensi buntu hingga enam bulan, tanpa tanda penyelesaian yang jelas. Peringatan itu menohok karena datang dari mantan Menhan AS dan eks Kepala CIA yang paham cara Washington mengakhiri perang, atau gagal mengakhirinya.

Leon Panetta menilai konflik AS-Iran telah memasuki kebuntuan, dengan serangan balasan berkala yang tidak mengubah posisi strategis kedua pihak. Ia mengingatkan pola ini mirip jalan panjang yang pernah ditempuh AS di Irak dan Afghanistan, ketika “misi” bergeser menjadi rutinitas perang.

Dalam wawancara dengan The Guardian yang dikutip pada 6 September 2026, Panetta menyebut opsi untuk mengakhiri perang “sangat sedikit” dan memperkirakan konflik bisa berlanjut enam bulan lagi. Ia juga menilai Presiden Donald Trump terjepit antara kebutuhan mengakhiri perang dan kebutuhan menjaga citra kemenangan.

Di pusat masalah, Selat Hormuz kembali menjadi kata kunci, karena jalur ini adalah nadi pengiriman energi dan perdagangan global. Bagi Iran, kemampuan mengganggu Hormuz adalah pengungkit politik, sekaligus alat tawar paling menakutkan.

Panetta memetakan tiga pilihan Trump: mengakhiri perang dan mengakui kegagalan, mempertahankan kebuntuan, atau merebut kendali Selat Hormuz. Dua opsi pertama menabrak kalkulasi politik domestik AS, sementara opsi ketiga menabrak risiko eskalasi militer.

Secara historis, “perang tanpa garis akhir” sering muncul ketika tujuan politik kabur dan ukuran kemenangan tidak disepakati sejak awal. Irak dan Afghanistan memberi pelajaran bahwa kemenangan tak cukup dideklarasikan, karena biaya perang diukur oleh durasi, korban, dan stabilitas pascakonflik.

Dalam logika Panetta, perang hanya bisa “dimenangkan” bila Washington mengubah prioritas menjadi pembukaan Selat Hormuz secara nyata, bukan sekadar klaim. Ini menempatkan Hormuz sebagai metrik hasil, bukan sekadar isu sampingan dalam perang AS-Iran.

Namun, mengambil kendali Hormuz bukan operasi simbolik, karena setiap langkah akan dibaca Iran sebagai ancaman eksistensial terhadap kedaulatannya. Di kawasan yang padat pangkalan, rudal, dan proksi bersenjata, satu insiden saja bisa mengubah perang terbatas menjadi konflik regional.

Panetta juga menyoroti masalah lain: kegaduhan di Pentagon saat perang berlangsung, termasuk pengunduran diri mendadak Menteri Angkatan Darat Dan Driscoll di tengah laporan ketegangan dengan Menhan Pete Hegseth. Dalam perang, persepsi komando sama pentingnya dengan kemampuan tempur, karena lawan menghitung keretakan sebelum menghitung peluru.

Pentagon membantah narasi kekacauan melalui juru bicara Sean Parnell, yang menyatakan Departemen Pertahanan tetap berjalan penuh di bawah Hegseth. Bantahan ini penting, tetapi di dunia strategis, bantahan tidak otomatis memulihkan kepercayaan, terutama bila pesan publik sebelumnya saling bertabrakan.

Panetta menilai kredibilitas Trump tergerus karena berulang kali mengatakan kesepakatan damai sudah dekat dan Selat Hormuz telah terbuka. Ketika klaim kemenangan tidak sesuai realitas lapangan, ancaman berikutnya cenderung diabaikan, dan itu membuka ruang salah hitung dari pihak lawan.

Di latar yang lebih luas, Panetta mengingatkan AS menghadapi lanskap ancaman multipolar: China, Rusia, Korea Utara, terorisme, dan Iran. Ia juga menyiratkan kekhawatiran klasik Washington, yakni lawan-lawan ini saling belajar dan saling menguatkan ketika melihat celah dalam disiplin strategi AS.

Peringatan Panetta terdengar seperti kritik terhadap perang, tetapi sebenarnya kritik terhadap tujuan yang tidak tegas dan komunikasi yang tidak konsisten. Perang modern tidak hanya soal menang di medan, tetapi soal mengunci narasi, menjaga aliansi, dan membatasi ruang eskalasi.

Trump, dalam gambaran Panetta, bukan sekadar menghadapi Iran, tetapi menghadapi konsekuensi dari janji kemenangan cepat. Ketika pemimpin mengunci diri pada citra “menang”, opsi rasional seperti de-eskalasi sering tampak seperti kekalahan, padahal bisa jadi itu penyelamatan.

Selat Hormuz menjadi simbol paradoks: ia vital bagi ekonomi global, tetapi setiap upaya “mengamankannya” bisa memperluas perang. Jika tujuan perang dipersempit menjadi Hormuz, pertanyaannya berubah: apakah pembukaan jalur itu bisa dicapai tanpa menyalakan perang yang lebih besar.

Kegaduhan di Pentagon memperbesar masalah karena perang menuntut rantai komando yang stabil dan pesan yang seragam. Jika publik melihat pergantian pejabat dan pemecatan sebagai drama internal, lawan bisa melihatnya sebagai peluang untuk menguji batas.

Di sisi lain, Iran juga tidak bebas risiko, karena menutup atau mengganggu Hormuz dapat mengundang respons internasional yang lebih luas, bukan hanya dari AS. Dalam kondisi seperti ini, kebuntuan bisa menjadi pilihan “aman” bagi kedua pihak, tetapi kebuntuan yang panjang biasanya menumpuk kesalahan kecil.

Jika prediksi Panetta benar, enam bulan ke depan bukan sekadar soal siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang lebih disiplin menetapkan tujuan dan mengukur hasil. Perang AS-Iran akan ditentukan oleh apakah Hormuz benar-benar terbuka, dan apakah kedua pihak bisa keluar tanpa kehilangan muka secara fatal.

Di titik ini, pertanyaan paling penting bukan “siapa menang”, melainkan “kapan perang berhenti” dan “apa harga yang dibayar untuk berhenti”. Dalam dunia yang semakin terhubung, kemenangan yang dideklarasikan tanpa stabilitas hanya memindahkan krisis ke bab berikutnya. (Orbit dari berbagai sumber, 12 September 2026)