Jargon “In This Economy” dan Biaya Hidup yang Mencekik

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM – Jargon “In This Economy” makin sering muncul di media sosial, sebagai komentar getir saat orang bicara soal rumah, menikah, atau liburan. Di balik nada bercanda, frasa ini menyimpan pengakuan kolektif bahwa biaya hidup naik lebih cepat daripada rasa aman finansial. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Secara harfiah, “In This Economy” berarti “dalam kondisi ekonomi seperti ini”. Di linimasa, ia dipakai untuk menolak hal-hal yang terasa “tidak realistis”, dari cicilan rumah sampai sekadar ngopi yang harganya menembus akal sehat. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Ungkapan ini lahir dari benturan antara aspirasi hidup layak dan realitas dompet. Media sosial mempercepat benturan itu, karena standar “hidup ideal” dipamerkan setiap hari, sementara banyak orang menghitung pengeluaran harian dengan cemas. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Fenomena “In This Economy” adalah termometer sosial atas tekanan ekonomi, bukan sekadar tren bahasa. Ketika harga pangan, sewa, pendidikan, dan layanan kesehatan naik, ruang untuk keputusan besar otomatis menyempit. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Data global menguatkan konteks ini, meski pengalaman lokal berbeda-beda. IMF mencatat inflasi global sempat melonjak pascapandemi dan baru mereda bertahap, sementara ongkos perumahan di banyak kota tetap tinggi karena pasokan terbatas dan permintaan terkonsentrasi. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Di Indonesia, tekanan biaya hidup sering terasa di komponen yang sulit dihindari, seperti makanan, transportasi, dan tempat tinggal. BPS berulang kali menegaskan inflasi dipengaruhi kelompok pengeluaran utama, dan gejolak harga pangan kerap menjadi pemicu paling cepat terasa di rumah tangga. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Jargon ini juga memperlihatkan ketidakpastian kerja yang menjadi latar psikologis generasi produktif. Ketika kontrak pendek, gig economy, dan target yang bergerak cepat menjadi norma, keputusan menikah atau punya anak berubah menjadi kalkulasi risiko. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Media sosial menambah lapis persoalan melalui ilusi keterjangkauan. Gaya hidup yang tampak “normal” di layar sering disubsidi oleh utang konsumtif, bantuan keluarga, atau penghasilan yang tidak terlihat, sehingga standar pembanding menjadi bias. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Dari kacamata sosiologi ekonomi, “In This Economy” adalah bahasa publik tentang struktur yang menekan pilihan individu. Menunda rumah, menunda anak, atau menunda pernikahan bukan selalu soal tidak mau, melainkan soal akses yang menyempit pada aset, kredit, dan stabilitas. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Yang paling mengganggu dari “In This Economy” adalah bagaimana ia menormalkan keterbatasan, seolah mustahilnya hidup layak adalah hal wajar. Humor memang menyelamatkan kewarasan, tetapi ia juga bisa menjadi selimut yang menutup pembicaraan serius tentang upah, harga rumah, dan jaring pengaman sosial. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Frasa ini seperti rem darurat yang ditarik generasi kini saat diminta mengikuti “timeline sukses” versi lama. Ketika orang tua pernah membeli rumah dengan satu penghasilan stabil, generasi sekarang menghadapi harga aset yang melesat, persaingan kerja yang rapuh, dan biaya pendidikan yang menanjak. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Namun menyalahkan individu juga jalan pintas yang menipu. Jika publik terus diminta “mengatur keuangan” tanpa membicarakan akar struktural, maka solusi yang lahir hanya tips hemat, bukan perbaikan akses perumahan, perlindungan kerja, dan stabilisasi harga kebutuhan pokok. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Di sisi lain, “In This Economy” punya nilai politik yang halus. Ia mengubah keluhan personal menjadi narasi kolektif, dan itu bisa menjadi pintu masuk untuk menuntut kebijakan yang lebih berpihak pada daya beli serta mobilitas sosial. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Pada akhirnya, jargon “In This Economy” adalah cermin yang memantulkan kecemasan paling dasar: takut tidak mampu hidup layak meski sudah bekerja keras. Ia mengingatkan bahwa ekonomi bukan angka di laporan, melainkan keputusan yang batal dibuat, mimpi yang ditunda, dan relasi yang diuji oleh biaya. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)

Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan frasa itu berhenti sebagai lelucon, atau menjadikannya alarm untuk membenahi struktur yang membuat hidup terasa semakin mahal. Jika “In This Economy” terus jadi jawaban otomatis, mungkin masalahnya bukan pada ambisi warga, melainkan pada sistem yang membuat kewajaran terasa mewah. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)