Wamendikdasmen Fajar Riza Tinjau Revitalisasi Sekolah di Tabanan
ORBITINDONESIA.COM – Kunjungan kerja Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq ke Tabanan menyorot dua agenda kunci, yakni peresmian SMP Muhammadiyah Tabanan dan peninjauan revitalisasi SMPN 6 Tabanan. Di Bali, isu revitalisasi sekolah dan pemerataan mutu pendidikan dasar-menengah kembali mengemuka saat pemerintah menegaskan komitmen memperbaiki ruang belajar dan layanan guru.
Revitalisasi sekolah sering dipahami sebatas pembangunan fisik, padahal kualitas belajar juga ditentukan oleh kepemimpinan sekolah, kapasitas guru, dan ekosistem pembelajaran. Di banyak daerah, ruang kelas yang diperbaiki tidak otomatis mengubah capaian literasi dan numerasi bila pembinaan akademik berjalan biasa-biasa saja.
Tabanan memberi panggung kecil untuk melihat persoalan besar pendidikan Indonesia, yaitu kesenjangan mutu antar-satuan pendidikan. Kehadiran sekolah swasta seperti Muhammadiyah dan sekolah negeri yang direvitalisasi memperlihatkan dua jalur layanan publik yang semestinya saling menguatkan, bukan saling menutup celah secara darurat.
Foto ANTARA menangkap momen sederhana, Wamendikdasmen berbincang dengan guru, namun percakapan semacam itu seharusnya menjadi pintu masuk audit kebutuhan yang konkret. Revitalisasi unit pendidikan perlu berbasis data, mulai dari kondisi bangunan, rasio murid-guru, hingga ketersediaan sanitasi dan perangkat belajar.
Secara nasional, pemerintah pernah menegaskan fokus peningkatan kualitas melalui asesmen dan penguatan kompetensi, tetapi publik sering hanya melihat hasil yang kasatmata berupa gedung baru. Tanpa indikator yang diumumkan terbuka, revitalisasi rawan berubah menjadi proyek, bukan perbaikan layanan.
Peresmian SMP Muhammadiyah Tabanan juga penting dibaca sebagai sinyal bahwa organisasi masyarakat turut mengisi kebutuhan akses pendidikan. Namun, pertumbuhan sekolah baru harus diiringi standar mutu, tata kelola, dan kolaborasi dengan dinas agar tidak menambah variasi kualitas yang timpang.
Kunjungan pejabat pusat ke sekolah negeri yang direvitalisasi semestinya tidak berhenti pada seremoni peninjauan. Pemerintah daerah dan pusat perlu menyepakati target yang terukur, misalnya penurunan ruang kelas rusak, peningkatan kehadiran guru, dan perbaikan hasil belajar yang dapat diverifikasi.
Yang paling genting dari revitalisasi sekolah bukanlah cat tembok, melainkan keberanian mengubah cara kerja birokrasi pendidikan. Jika pelaporan hanya mengukur serapan anggaran dan jumlah bangunan, maka murid akan tetap menanggung biaya dari kebijakan yang tidak menyentuh inti pembelajaran.
Wamendikdasmen seharusnya memanfaatkan kunjungan seperti di Tabanan untuk mendorong transparansi, termasuk mempublikasikan peta kebutuhan sekolah dan progres revitalisasi per semester. Publik berhak tahu sekolah mana yang diprioritaskan, mengapa dipilih, dan dampak apa yang dihasilkan setelah proyek selesai.
Pertemuan dengan guru juga semestinya mengarah pada isu yang lebih tajam, yaitu beban administrasi, dukungan pelatihan, dan ruang inovasi mengajar. Revitalisasi yang tidak menyentuh keseharian guru akan membuat ruang kelas tetap sunyi dari pembelajaran yang bermakna.
Tabanan mengingatkan bahwa kualitas pendidikan tidak lahir dari satu peresmian dan satu peninjauan, melainkan dari konsistensi memperbaiki sistem dari hulu ke hilir. Revitalisasi sekolah akan bernilai jika diikuti transparansi target, penguatan guru, dan pengukuran dampak belajar yang jujur.
Pertanyaannya sederhana, setelah kamera dimatikan, apakah ruang kelas menjadi lebih hidup dan murid lebih mampu membaca dunia dengan kritis. Jika jawabannya belum, maka revitalisasi berikutnya harus dimulai dari keberanian mengoreksi cara kita menilai keberhasilan pendidikan.
(Orbit dari berbagai sumber, 1 Agustus 2026)