Ruben Onsu Sarwendah: Komunikasi Tagihan Lancar, Kabar Anak Minim

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Ruben Onsu mengungkap komunikasi dengan Sarwendah masih berjalan, tetapi lebih sering soal tagihan ketimbang update anak. Dalam pengakuannya di acara televisi, Ruben menyebut ia kerap mengetahui kabar anak dari story dan tag orang lain.

Pernyataan Ruben Onsu tentang komunikasi dengan Sarwendah muncul di ruang publik yang gemar mengukur hubungan pascaperceraian lewat potongan momen. Ruben menyebut Sarwendah pernah menghubunginya lebih dulu karena “memang udah tagihan” dan “udah waktunya bayar.”

Ia menyatakan itu tidak dipersoalkan karena dianggap kewajiban, lalu menegaskan, “Dan itu oke, fair.” Namun ia mengontraskan kelancaran urusan pembayaran dengan minimnya kabar perkembangan anak yang ia terima secara langsung.

Ruben mengaku, “(Update tentang anak) Enggak, biasa,” dan ia sering tahu dari story atau orang yang menandai. Ia juga mengatakan masih harus bertanya ketika momen penting seperti pengambilan rapor terjadi. Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang prioritas komunikasi orang tua setelah berpisah.

Dalam percakapan yang dikutip media, ada dua jalur komunikasi yang terlihat: administratif dan emosional. Jalur administratif tampak efisien karena tagihan punya tenggat, nominal, dan konsekuensi yang jelas. Jalur emosional tentang anak sering kabur karena bergantung pada inisiatif, empati, dan kebiasaan berbagi.

Ucapan Ruben bahwa ia mengetahui kabar anak dari media sosial menunjukkan pergeseran fungsi platform menjadi “papan pengumuman keluarga.” Story memberi informasi cepat, tetapi tidak selalu memberi konteks, ruang tanya-jawab, atau keputusan bersama. Dalam relasi orang tua, informasi tanpa dialog bisa memicu rasa tersisih meski faktanya anak baik-baik saja.

Komentar Dewi Perssik di acara itu mempertegas kontras yang ditangkap publik: “Kurang berjalan lancar, tapi giliran tagihan baru lancar.” Kalimat ini bekerja seperti ringkasan dramatis yang mudah viral dan mudah memihak. Padahal, yang tidak terlihat adalah detail pembagian peran, kesepakatan finansial, dan pola pengasuhan yang mungkin lebih kompleks.

Ruben juga menyebut sikap diamnya justru membuatnya tampak buruk di mata publik: “Ternyata salah ya, diemnya kita malah terkesan mengaminkan.” Ini menyinggung mekanisme opini massa yang sering menganggap keheningan sebagai pengakuan. Di era klip pendek, narasi yang tidak dilengkapi penjelasan mudah diisi asumsi.

Secara sosial, perceraian figur publik kerap diperlakukan seperti serial dengan episode dan tokoh antagonis-protagonis. Publik menuntut kejelasan peran, sementara pihak yang terlibat menanggung konsekuensi psikologis dan reputasi. Di titik ini, komunikasi soal anak menjadi bukan hanya urusan keluarga, tetapi juga bahan penilaian moral.

Yang paling mengganggu bukan kelancaran urusan tagihan, melainkan simbol yang dibacanya: uang punya jalur komunikasi, anak tidak. Jika benar demikian, maka masalahnya bukan sekadar siapa yang menghubungi dulu, melainkan budaya komunikasi yang memisahkan “kewajiban” dari “kedekatan.” Dua hal itu semestinya tidak saling meniadakan.

Namun publik juga perlu adil membaca pernyataan Ruben sebagai potret sepihak dari sebuah dinamika yang panjang. Bisa saja update anak sebenarnya terjadi melalui kanal lain, atau ada kesepakatan tertentu yang tidak diumbar. Ketika satu pihak bicara dan pihak lain diam, penonton cenderung menganggap cerita itu lengkap, padahal baru satu bab.

Di sisi lain, pengakuan Ruben tentang diam yang disalahartikan adalah pelajaran komunikasi krisis yang nyata. Dalam ruang publik, diam tidak selalu elegan, tetapi bisa menjadi bahan bakar spekulasi. Ketika reputasi dipertaruhkan, klarifikasi yang terukur sering lebih sehat daripada membiarkan rumor menulis naskahnya sendiri.

Kisah Ruben Onsu dan Sarwendah memperlihatkan betapa rapuhnya komunikasi orang tua pascapisah ketika yang rutin hanya urusan administratif. Anak tidak cukup “terlihat” lewat story, karena pengasuhan menuntut dialog, koordinasi, dan rasa saling menghormati. Publik boleh menilai, tetapi seharusnya tidak mengadili tanpa memahami konteks.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan siapa yang lebih benar, melainkan bagaimana membangun kebiasaan komunikasi yang menempatkan anak sebagai pusat, bukan sisa. Jika tagihan bisa punya jadwal dan disiplin, mengapa kabar anak tidak dibuat sama seriusnya. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)