Pindah Partai Demokrat ke Nasdem Jabar: Politik Tanpa Mahar 2029

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Pindah Partai Demokrat ke Nasdem kembali jadi sorotan setelah tiga eks kader Demokrat Jawa Barat merapat ke Partai Nasdem. Mereka menyebut “peluang Nasdem naik kelas” dan menyinggung politik tanpa mahar sebagai magnet menuju Pemilu 2029.

Tiga nama itu adalah Wawan Setiawan, Achdar Sudrajat, dan Toto Purwanto. Mereka diperkenalkan Ketua DPW Nasdem Jabar M Rahmat di Akademi Bela Negara Nasdem, Jakarta, Minggu 6 September 2026.

Rahmat menyebut perpindahan ini terjadi karena ada hal-hal yang “belum terlaksana” di Demokrat. Ia juga menegaskan Nasdem diharapkan menjadi “partai terakhir” bagi ketiganya menjelang kontestasi 2029.

Di Indonesia, pindah partai menjelang pemilu bukan cerita baru. Namun, alasan yang dibawa selalu penting dibaca, karena ia memotret hubungan antara partai, kader, dan ongkos politik yang sering tak terlihat.

Wawan menyatakan pindah karena membaca peluang Nasdem akan “naik kelas”. Ia juga terang menyebut targetnya kembali ke kursi legislatif bersama dua rekannya pada 2029.

Achdar membawa rekam jejak lintas partai sebagai narasi legitimasi. Ia pernah di Golkar sebagai anggota DPRD Kota Bekasi, lalu dua periode di DPRD Jabar dari Demokrat, dan kini membidik DPR RI lewat Nasdem.

Toto menancapkan satu kata kunci yang paling mudah memantik publik: ideologi politik tanpa mahar. Ia menyiratkan bahwa beban mahar membuat politisi tidak leluasa, meski menolak menyebut Demokrat secara gamblang.

Di titik ini, perpindahan kader bukan sekadar urusan “cocok” atau “tidak cocok” ideologi. Ini juga kompetisi antarpartai dalam menawarkan kendaraan elektoral yang lebih ringan biayanya dan lebih jelas peluang tiketnya.

Nasdem memosisikan diri sebagai partai yang menjual merit dan akses tanpa transaksi. Klaim “tanpa mahar” memang sulit diverifikasi dari luar, tetapi ia efektif sebagai pesan politik yang memukul keresahan publik soal mahalnya demokrasi.

Di sisi lain, partai lama yang ditinggalkan akan menghadapi dua pekerjaan rumah. Pertama, menjaga soliditas internal, dan kedua, membantah kesan bahwa ada janji politik yang “belum terlaksana” atau beban biaya yang mengganjal kader.

Perpindahan ini juga memberi sinyal bahwa Pemilu 2029 mulai dipanaskan lebih awal. Perebutan figur berpengalaman, terutama yang punya basis daerah, adalah investasi suara yang dihitung sejak sekarang.

Peristiwa pindah Partai Demokrat ke Nasdem di Jabar menunjukkan satu hal: kader membaca partai seperti membaca pasar. Mereka mencari tempat dengan peluang menang lebih besar, jalur pencalonan lebih terbuka, dan biaya politik yang lebih bisa ditanggung.

Namun, narasi “partai terakhir” sering terdengar seperti sumpah setia yang lahir dari situasi, bukan prinsip. Ketika politik makin transaksional, janji terakhir bisa berubah menjadi sekadar kalimat penutup konferensi pers.

Soal politik tanpa mahar, publik patut menuntut definisi yang tegas. Tanpa standar yang jelas, “tanpa mahar” bisa menjadi slogan yang bagus di kamera, tetapi kabur ketika masuk ke ruang pencalonan.

Jika benar ada partai yang mampu menekan ongkos pencalonan, dampaknya bisa besar. Ia dapat mengurangi ketergantungan politisi pada sponsor, dan pada akhirnya menurunkan insentif korupsi pasca-terpilih.

Tetapi jika klaim itu hanya rebranding, maka yang terjadi hanya perpindahan beban dari satu pos ke pos lain. Demokrasi tetap mahal, dan pemilih tetap menjadi penonton dari negosiasi elite yang tidak transparan.

Tiga eks kader Demokrat yang bergabung ke Nasdem Jabar membawa pesan yang lebih luas dari sekadar pindah seragam. Mereka sedang menguji apakah janji peluang, tiket 2029, dan “tanpa mahar” benar-benar bekerja di lapangan.

Pertanyaan yang tersisa sederhana tetapi menentukan: apakah perpindahan ini akan membuat politik lebih bersih, atau hanya memindahkan praktik lama ke alamat baru. Pada akhirnya, pemilih berhak menagih bukan hanya slogan, melainkan bukti dan konsistensi. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)