Managed Accounts Melesat: Riset, Regulasi, dan Diferensiasi Penasihat
ORBITINDONESIA.COM – Managed accounts kini mendekati US$300 miliar dana kelolaan (FUM), dan 60% penasihat sudah memakainya, menurut IMAP dan State Street. Ledakan managed accounts ini bukan lagi soal efisiensi operasional, melainkan soal kualitas riset, tata kelola, dan kepatuhan.
Dalam beberapa tahun terakhir, managed accounts berubah dari solusi praktis menjadi infrastruktur utama industri nasihat keuangan. Andrea Theouli dari Lonsec menilai pasar yang makin matang justru memunculkan pendorong pertumbuhan baru yang lebih kompleks.
Pilihan produk meluas, dari strategi aktif dan pasif, portofolio pensiun, hingga multi-aset dengan dynamic asset allocation. Namun semakin banyak pilihan juga berarti beban pembuktian yang lebih berat bagi penasihat, terutama pada desain portofolio, governance, dan implementasi.
Theouli menegaskan bahwa portofolio dengan tujuan serupa bisa berbeda secara material dalam filosofi investasi, cara eksekusi, dan kerangka pengawasan. Di titik ini, perbandingan “apel dengan apel” menjadi pekerjaan riset yang jauh lebih rumit daripada sekadar melihat alokasi aset dan imbal hasil historis.
Data IMAP menempatkan managed accounts mendekati US$300 miliar FUM pada akhir tahun lalu. State Street juga mencatat 60% penasihat kini menggunakan managed accounts, menandakan adopsi sudah masuk fase arus utama.
Lonsec melihat evolusi produk sebagai faktor kunci, karena managed accounts tidak lagi identik dengan portofolio diversifikasi klasik. Pasar kini menampung solusi outcome-oriented, retirement-focused, serta portofolio multi-aset dengan specialist sleeves dan implementation overlays.
Konsekuensinya, due diligence bergeser dari “apa yang dimiliki portofolio” ke “bagaimana keputusan dibuat dan dieksekusi”. Theouli menyebut penasihat perlu memahami pengambilan keputusan investasi, implementasi portofolio, pengelolaan konflik, dan apakah governance mampu menjaga konsistensi hasil yang dijanjikan.
Di saat yang sama, konsolidasi terjadi di berbagai lapisan, dari manajer investasi, platform, licensee, hingga penyedia model. Konsolidasi ini mendorong skala, tetapi juga berisiko menyeragamkan pendekatan jika diferensiasi hanya menjadi isu pemasaran.
Regulasi ikut mengencangkan arena, karena ASIC meningkatkan pengawasan seiring popularitas managed accounts. Dalam Corporate Plan 2025–26, ASIC menekankan kewajiban penasihat bukan hanya pada kinerja operasional, tetapi juga pada konflik kepentingan dan pembuktian bahwa produk terus memberikan outcome yang tepat bagi klien.
Kerangka Best Interests Duty tetap menjadi jangkar, sehingga riset eksternal hanya menjadi input, bukan pengganti tanggung jawab penasihat. Pesannya jelas: rekomendasi harus dapat dijelaskan, dapat diaudit, dan tetap relevan dengan tujuan serta kondisi klien yang berubah.
Ledakan managed accounts tampak seperti kemenangan efisiensi, tetapi sebenarnya ini ujian kedewasaan industri. Ketika pilihan makin banyak, risiko terbesar bukan “salah produk”, melainkan “salah memahami proses” di balik produk.
Diferensiasi yang disebut Theouli terasa tepat, karena keunggulan kini bertumpu pada kualitas kapabilitas investasi, bukan label managed account itu sendiri. Namun diferensiasi juga bisa menjadi ilusi jika licensee dan penasihat tidak mampu membedah perbedaan filosofi, governance, dan kontrol konflik secara nyata.
Di sini, godaan untuk mengejar portofolio yang tampak unggul di tabel kinerja bisa berbahaya. Kinerja masa lalu mudah dijual, tetapi ketahanan proses, disiplin implementasi, dan transparansi biaya-konflik jauh lebih menentukan apakah outcome klien benar-benar tercapai.
ASIC pada dasarnya mendorong industri kembali ke pertanyaan paling mendasar: untuk siapa portofolio ini dibuat, dan bagaimana kita tahu ia tetap sesuai. Jika managed accounts menjadi “autopilot”, maka tanggung jawab penasihat justru harus menjadi “manual control” yang aktif, bukan formalitas.
Managed accounts telah menjadi arsitektur baru dalam pengelolaan portofolio, dengan skala yang mendekati US$300 miliar dan adopsi yang mencapai 60% penasihat. Tetapi pertumbuhan ini datang bersama kompleksitas, konsolidasi, dan pengawasan ASIC yang makin ketat.
Di tengah banjir pilihan, pertaruhan utamanya adalah kualitas due diligence, bukan sekadar pilihan strategi aktif atau pasif. Pertanyaan yang perlu tinggal di benak pembaca adalah: ketika portofolio dikelola “lebih profesional”, apakah pemahaman dan akuntabilitas kita juga ikut naik, atau justru tertinggal di belakang produk yang semakin canggih.
(Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)