Muriwali Yanto Matalu: Ijazah S-1 Gibran Sah, Tanpa Adanya Ijazah SMA Indonesia atau yang Disetarakan

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Opini

Oleh Muriwali Yanto Matalu

ORBITINDONESIA.COM - Catatan: Susah kalau bicara sama orang yang tidak pernah kuliah di luar negeri, atau sama orang yang kuliah di luar negeri, tapi matanya sudah dibutakan oleh kepentingan politik.

Sebetulnya Gibran punya ijazah S-1 dari University of Bradford, Inggris, tanpa ijazah SMA itu bisa saja kalau jalurnya pendidikan luar negeri, karena hal semacam itu memang dimungkinkan.

Coba Anda teliti pendidikan di Eropa, USA, dan Kanada. Kalau jalurnya dalam negeri memang harus ada ijazah SMA-nya, tapi di Eropa dan Amerika pendidikan ala yang dipakai Gibran itu dimungkinkan.

Pendidikan Indonesia ini rumit! Dulu waktu saya terima ijazah S-2 di Belanda, saya meminta pihak kampus agar ijazah tersebut dilegalisir oleh pemerintah Belanda dan pejabat Kemlu RI di Den Haag.

Saya pikir untuk kepentingan penyetaraan di Indonesia nantinya. Tapi, kemudian saya nggak berminat untuk menyetarakan. Masa menyetarakan gelar yang lebih berbobot dengan yang kurang berbobot. Lebih nyaman tetap pakai gelar dari luar.

Perbedaan utama Indonesia dengan sekolah-sekolah di Eropa, Australia, Amerika, dan sekolah-sekolah yang berbobot di Asia adalah, di Indonesia birokrasinya lebih rumit dan bobot pendidikannya kurang. Sedangkan di luar negeri birokrasinya sederhana dan mudah, tetapi bobot pendidikannya tinggi.

Misalnya, ketika selesai S-2 dan melanjutkan ke studi doktoral di Belanda, saya tak melewati prosedur birokrasi yang rumit. Syaratnya cuma dua, pertama, apakah pembimbing S-2 saya merekomendasikan untuk lanjut S-3 atau tidak (tentu saja didukung oleh nilai S-2 yang cukup).

Kedua, apakah ada profesor yang mau membimbing atau tidak. Kalau kita tak bisa meyakinkan profesor mengenai proyek riset doktoral kita, maka sampai kucing bertelur pun tidak akan bisa studi S-3.

Jadi, penekanannya adalah kemampuan mahasiswa, bukan birokrasi tetek-bengek yang rumit, e.g. harus urus surat ini surat itu yang tidak penting sama sekali ala Indonesia.

Setelah proyek riset doktoral saya di Belanda berhenti di tengah jalan, kemudian saya melamar ke Kairos University, USA. Hanya melampirkan foto ijazah S-2, transkrip nilai, satu atau dua dokumen penting, dan satu atau dua paper yang ditulis dalam Bahasa Inggris.

Lalu, kemudian saya dipertemukan dengan seorang profesor yang akan membimbing untuk dilihat apakah saya layak untuk studi atau tidak.

Kalau ini gagal, ya nggak bisa studi. Sistem di Kairos mengadopsi separuh sistem Eropa dan separuh sistem Amerika.

Intinya adalah, apakah calon mahasiswa itu punya kemampuan atau tidak, tak ada urusannya dengan birokrasi tetek bengek yang ujung-ujungnya duit ala Indonesia.

Kembali kepada Gibran. Menuntut Gibran menunjukkan Ijazah SMA Indonesia atau menunjukkan ijazah luar negeri yang setara ijazah SMA Indonesia, padahal dia melewati jalur yang berbeda dari apa yang menjadi norma di Indonesia, karena pendidikan di luar negeri memungkinkan untuk itu, adalah sebuah pemaksaan yang tidak seharusnya terjadi.

Kalau diteliti, ada banyak orang Indonesia yang menempuh pendidikan seperti yang dilakukan oleh Gibran. Saya menduga bahwa banyak Cindo di Indonesia yang studi di luar negeri mendapat ijazah S-1 dengan menempuh jalur seperti Gibran. ***