Fenomena Downgrade Hidup: Kelas Menengah Terhimpit Ekonomi 2026
ORBITINDONESIA.COM – Fenomena downgrade hidup dan penyusutan kelas menengah makin terasa di 2026, saat kerja keras tak lagi sepadan dengan biaya hidup. Rahman, sopir ojek online di Jakarta, menyebut 12 jam menarik hanya menghasilkan Rp150.000, lalu habis untuk makan anak dan bensin. Di titik ketika “makan tabungan” dan “makan utang” tak mempan, banyak keluarga memilih turun kelas sebagai strategi bertahan. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
BPS mengumumkan kemiskinan Maret 2026 turun menjadi 8,07%, atau berkurang 430.000 jiwa dibanding periode sebelumnya. Namun Mandiri Institute mencatat masyarakat yang “turun kelas” mencapai 10 juta orang dalam tujuh tahun terakhir. Dua angka ini tampak bertolak belakang, tetapi justru menjelaskan satu hal: banyak orang tidak masuk kategori miskin, namun hidupnya makin rapuh. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Di lapangan, penurunan standar hidup muncul dalam keputusan yang sangat konkret. Sera Diaz memindahkan anak ke sekolah negeri, menurunkan BPJS ke kelas tiga, dan meninggalkan tunggakan sekolah demi bertahan. Bima bahkan memilih mengoper kredit rumah, karena merasa ekonomi era Prabowo makin suram bagi kelas menengah dan tabungan harus diselamatkan. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Presiden Prabowo menargetkan kemiskinan 6,0–6,5% pada 2027, seraya mengaku heran ekonomi tumbuh tetapi kelas menengah menyusut. Pertumbuhan ekonomi 5,29% memang terlihat kuat di atas kertas. Tetapi cerita rumah tangga menunjukkan pertumbuhan itu tidak otomatis berubah menjadi rasa aman. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Dosen FEB UGM Wisnu Setiadi Nugroho menilai ekonomi Indonesia sedang “tidak baik-baik saja”, meski indikator agregat tampak hijau. Ia menyoroti Indeks Keyakinan Konsumen BI September 2026 masih optimis di 118,1, tetapi persepsi kondisi saat ini hanya 107,5 dan ekspektasi enam bulan ke depan 128,7. Artinya, optimisme lebih banyak berbentuk harapan, bukan cermin kenyataan harian. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Wisnu menyebut kelompok penopang konsumsi justru berasal dari kelas menengah, calon kelas menengah, dan rentan miskin. Tetapi daya beli mereka melemah, tercermin dari survei penjualan eceran BI yang menurun. LPEM FEB UI juga mencatat pelambatan konsumsi kuartal II 2026, terutama pada makanan-minuman, transportasi-komunikasi, restoran-hotel, serta pakaian dan perawatan. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Masalahnya, statistik kemiskinan tidak dirancang untuk menangkap “turun kelas” di atas garis kemiskinan. Garis kemiskinan nasional dipatok Rp669.235 per kapita per bulan, dan metodologinya disebut belum dirombak sejak 1998. Ketika biaya hidup modern berubah, ukuran lama berisiko membuat banyak keluarga tampak “tidak miskin”, padahal tidak punya bantalan. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Wisnu memberi istilah “kelompok mengapung” bagi mereka yang hidup sedikit di atas batas, tetapi bisa jatuh kapan saja. Satu PHK, satu penyakit serius, atau satu lonjakan harga pangan dapat menggerus posisi ekonomi mereka. Inilah yang menjelaskan mengapa Rahman mengurangi telur dan ayam, sementara Sera menghentikan terapi anak karena ongkos. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Kerapuhan itu bertemu dengan struktur pasar kerja yang makin informal. Dari 2021–2026, pekerja informal terus naik, dan pada 2026 mencapai 59,2% dari total penduduk bekerja. Pekerjaan menghasilkan pendapatan, tetapi tidak memberi kepastian, jaminan sosial, atau perlindungan saat guncangan. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Saat pendapatan stagnan dan harga naik, rumah tangga mencari jalan pintas. Wisnu mencatat paylater tumbuh sekitar 33% pada Juni 2026, dan pinjaman daring naik sekitar 25%, dengan sekitar 2/3 bersifat konsumtif. Konsumsi memang tampak hidup, tetapi sumbernya bisa dari tabungan yang menipis atau utang yang menggelembung. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Ketika tabungan habis, barulah “downgrade hidup” menjadi tahap berikutnya. Rahman mengganti Pertamax ke Pertalite dan membawa bekal agar tidak jajan di luar. Bima menjual motor, lalu menyiapkan pelepasan rumah karena takut rumah “kelas tanggung” makin sulit dijual ketika krisis datang. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Fenomena downgrade hidup bukan semata soal malas atau boros, melainkan soal ketidakseimbangan yang sistemik. Esther Sri Astuti dari Indef menegaskan: mereka sudah bekerja keras, tetapi hidup tidak berubah, bahkan ada ojol meninggal karena kelelahan. Jika kerja keras tidak lagi menjadi tangga mobilitas, maka yang rusak adalah mesin kesempatan itu sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Warisan pandemi, deindustrialisasi, dan lambatnya penciptaan kerja formal memang mendahului Prabowo-Gibran. Namun pilihan kebijakan dua tahun terakhir ikut menentukan siapa yang ditolong duluan saat daya beli melemah. Wisnu menilai anggaran program populis seperti Makan Bergizi Gratis tidak memberi efek ganda yang kuat ke rumah tangga, sementara bansos, PIP, dan KIP yang lebih cepat menahan daya beli justru terkena efisiensi. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Di titik ini, kelas menengah terasa “tak punya tempat” dalam desain kebijakan. Mereka membayar pajak, tetapi tidak mendapat perisai ketika biaya hidup menyalip gaji, atau ketika PHK mengintai. Celios dan Kabinet Bayangan mencatat 53% responden merasa ekonomi rumah tangga memburuk, dan 82% menilai pajak serta pungutan terlalu berat. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Pemerintah melalui Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan fundamental ekonomi tetap solid. Pemerintah mendorong penciptaan kerja lewat vokasi dan magang, serta melanjutkan pembebasan PPh 21 bagi gaji di bawah Rp10 juta per bulan. Tetapi bagi keluarga yang sudah defisit, “fundamental solid” tidak otomatis terasa di meja makan. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Downgrade hidup adalah sinyal bahwa banyak rumah tangga sedang bertahan di tepi, bukan bergerak maju. Angka kemiskinan boleh turun, tetapi jika bantalan finansial hilang, maka guncangan kecil bisa berubah menjadi krisis keluarga. Kita sedang melihat ekonomi yang tumbuh, tetapi tidak cukup memeluk mereka yang mengapung. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)
Pertanyaannya bukan hanya “berapa persen miskin”, melainkan “berapa banyak yang nyaris jatuh”. Jika kebijakan tidak memberi ruang aman bagi kelas pekerja dan kelas menengah, maka utang konsumtif akan terus menjadi penyangga palsu. Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah strategi bertahan, bukan harapan naik kelas. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Oktober 2026)