Kasus Kekerasan Seksual Cornell dan Pernyataan Polisi Dipersoalkan

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kasus kekerasan seksual Cornell kembali mengguncang kampus setelah seorang mahasiswi menggambarkan dirinya telanjang di rumah persaudaraan, dikelilingi “lingkaran pria”, dalam kondisi mabuk dan mengaku diberi ketamin. Namun pernyataan ringkas yang ditulis polisi kampus tidak memuat kalimat paling tegas darinya: “Saya 100 persen yakin saya diperkosa.”

Pada 14 November 2024, mahasiswi tahun kedua Cornell menceritakan kepada polisi kampus bagaimana pertemuan seksual yang awalnya konsensual berubah menjadi serangan berkepanjangan oleh beberapa pria di rumah Chi Phi. Ia mengatakan ponselnya berada di seberang ruangan dan “tidak ada jalan keluar,” sementara ingatannya tentang akhir peristiwa kabur, tetapi keyakinannya soal pemerkosaan tidak goyah.

Wawancara berjam-jam itu kemudian dipadatkan menjadi “pernyataan sukarela” enam halaman dari sudut pandangnya, menurut dokumen yang diperoleh The New York Times. Ia memberi sekitar 20 koreksi tulisan tangan dan menandatangani versi final keesokan harinya, tetapi versi ringkas itu justru menghilangkan frasa paling menentukan tentang pemerkosaan.

Pernyataan ringkas tersebut dibagikan kepada jaksa wilayah, Matthew Van Houten, yang lalu memutuskan bukti tidak cukup untuk menuntut tujuh pria. Keputusan itu sempat tampak menutup kasus, sampai gugatan perdata “Jane Doe” meledak dan menyeret Cornell ke krisis reputasi serta memantik debat nasional tentang penanganan klaim kekerasan seksual di kampus.

Inti persoalan ada pada satu hal yang tampak administratif, tetapi berdampak substantif: bagaimana pengalaman korban diterjemahkan ke dalam dokumen resmi. Dalam wawancara, Jane Doe berkata, “Saya bisa mengatakan dengan 100 persen keyakinan saya diperkosa,” tetapi kalimat itu hilang dari pernyataan ringkas yang menjadi pegangan jaksa.

Mr. Van Houten kemudian menyatakan secara publik bahwa pernyataan saat itu tidak “menuduh ia dibius melawan kehendaknya atau diperkosa beramai-ramai.” Ia menulis bahwa pernyataan itu justru menggambarkan partisipasi Jane Doe dalam obat-obatan dan aktivitas seksual sebagai “sukarela, sadar, dan konsensual,” sehingga framing awal kasus pun bergerak ke arah yang menguntungkan para terlapor.

Dokumen yang ditinjau The New York Times menyebut polisi Cornell tidak memberi tahu kantor jaksa bahwa Jane Doe pernah mengatakan ia diperkosa. Celah komunikasi ini penting, karena dalam praktik penegakan hukum, kata-kata kunci dalam laporan awal sering menentukan prioritas investigasi, jenis pembuktian yang dikejar, dan keberanian membawa perkara ke juri agung.

Rangkaian malam 19 Oktober 2024 menunjukkan konteks yang kompleks dan mudah diperdebatkan di ruang sidang. Jane Doe memulai malam dengan melapor kehilangan kunci mobil dan dompet, lalu minum lebih awal, disuguhi minuman meski di bawah umur, dan berjalan ke rumah persaudaraan untuk bertemu pria yang ia sukai.

Ia mengaku sekitar pukul 22.30 sampai 23.00 sudah mabuk, lalu melakukan hubungan seksual konsensual dengan pria tersebut dan seorang pria lain yang ia kenal. Namun setelah itu jumlah pria di ruangan bertambah, ia merasa “dipakai,” dan mendengar pembicaraan tentang “bergiliran,” yang mengindikasikan perubahan situasi dari persetujuan menjadi dominasi.

Ia mengatakan sekelompok pria masuk saat ia telanjang, membuatnya “ngeri,” berteriak, lalu berlari dan bersembunyi di bawah selimut. Ia juga menggambarkan harus menepis tangan seorang pria yang meraba sepanjang malam, sementara ketamin dihirup dari tubuhnya, dan ia menyebut itu sebagai kondisi paling mabuk seumur hidupnya.

Detail waktu memberi gambaran jeda yang panjang dan rentan disalahartikan sebagai “tidak ada paksaan” jika dibaca tanpa konteks trauma. Ia berkata sekitar 05.45 ia ingin tidur dan berkata, “Aku harus berhenti,” lalu mereka berhenti, sebelum ia bangun pukul 10.00 dan diantar pulang.

Setelah pernyataan dibuat, polisi mencoba menghubungi para pria yang dituduh dengan keberhasilan beragam. Pada 25 November, petugas yang mengambil pernyataan menulis bahwa ia berbicara dengan penyidik kantor jaksa dan diberi tahu, berdasarkan peninjauan pernyataan Jane Doe, bahwa “tuntutan pidana tidak akan dikejar dalam kasus ini,” disertai catatan, “Tidak ada tindak lanjut saat ini.”

Kasus kekerasan seksual Cornell ini memperlihatkan bagaimana “ringkasan” bisa menjadi bentuk kekuasaan yang menentukan nasib perkara. Ketika narasi korban dipadatkan, nuansa seperti ketakutan, ketidakmampuan melawan, dan hilangnya kontrol dapat berubah menjadi kalimat-kalimat netral yang terdengar seperti pilihan sadar.

Di titik ini, persoalan tidak hanya tentang apa yang terjadi di kamar itu, tetapi tentang bagaimana institusi memproduksi kebenaran administratif. Jika kalimat “saya diperkosa” tidak tercatat, maka sistem cenderung memperlakukannya sebagai “seks yang disesali,” sebuah stereotip yang berulang dalam banyak kasus kekerasan seksual.

Namun kritik juga harus adil: jaksa bekerja dari berkas yang ia terima, dan standar pembuktian pidana memang tinggi. Karena itu, pertanyaan tajamnya bergeser ke mekanisme: mengapa polisi kampus tidak memastikan unsur paling krusial dari kesaksian korban tercermin utuh, atau setidaknya disampaikan eksplisit kepada jaksa.

Gugatan Jane Doe yang menyasar Cornell, tujuh pria, persaudaraan, dan perkumpulan mahasiswi menunjukkan hilangnya kepercayaan pada jalur pidana. Ketika korban merasa pintu pidana tertutup oleh dokumen yang timpang, jalur perdata menjadi ruang untuk memaksa akuntabilitas, meski risikonya adalah perang opini di internet yang sering brutal dan reduktif.

Kasus kekerasan seksual Cornell menegaskan satu pelajaran keras: satu kalimat yang hilang dapat mengubah arah keadilan. Di tengah perdebatan tentang persetujuan, mabuk, dan dugaan pembiusan, publik berhak menuntut standar dokumentasi yang presisi dan komunikasi antarlembaga yang transparan.

Jika institusi pendidikan ingin dipercaya, mereka harus berani mengevaluasi bagaimana laporan korban ditulis, diringkas, dan diteruskan. Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan hanya “siapa bersalah,” tetapi “siapa yang memastikan suara korban tidak menguap di antara formulir dan prosedur.” (Orbit dari berbagai sumber, 2 Oktober 2026)