Peta Kekuatan UEFA di Piala Dunia 2026: Prancis-Spanyol Favorit

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Piala Dunia 2026 kembali menegaskan satu pola lama: Eropa adalah pabrik juara, sementara benua lain hanya sesekali menyela lewat Argentina, Brasil, dan Uruguay.

Dalam daftar 16 wakil UEFA versi Al Jazeera, Prancis diprediksi juara dan Spanyol dijagokan ke final, saat Italia justru absen untuk edisi ketiga beruntun.

Artikel sumber menekankan fakta historis yang sulit dibantah: di luar Argentina, Brasil, dan Uruguay, hanya tim-tim Eropa yang pernah mengangkat trofi Piala Dunia.

Karena itu, membaca kualifikasi UEFA bukan sekadar daftar peserta, melainkan peta dominasi yang terus direproduksi lewat kedalaman skuad, infrastruktur, dan kompetisi elit.

Al Jazeera mengulas 16 negara UEFA yang lolos, termasuk empat mantan juara, sementara Italia—juara empat kali—kembali gagal hadir.

Absennya Italia tiga edisi beruntun menjadi simbol bahwa tradisi saja tidak cukup, dan regenerasi yang terlambat bisa menghapus status “raksasa”.

Di sisi lain, turnamen 2026 juga memunculkan narasi comeback, seperti Austria dan Norwegia yang kembali setelah 28 tahun.

Namun, comeback tidak otomatis berarti kompetitif, karena fase grup kini dipenuhi lawan lintas benua yang makin tak bisa diremehkan.

Prancis tampil sebagai paket paling lengkap, dengan “kedalaman luar biasa di setiap posisi” dan Kylian Mbappe sebagai ujung tombak.

Al Jazeera menulis Didier Deschamps akan mundur setelah 12 tahun, dan berpeluang meniru tim yang mencapai tiga final beruntun—sebuah target yang menuntut stabilitas dan mental juara.

Spanyol berada di kutub lain: peringkat FIFA nomor satu dan berstatus juara Eropa, sehingga wajar dijagokan sebagai favorit.

Lamine Yamal disebut sebagai wajah baru La Roja, dan memori 2010—juara dunia dua tahun setelah juara Eropa—dipakai sebagai “pertanda” yang ingin diulang.

Di bawah lapisan favorit, ada barisan “nyaris” yang selalu kuat namun sering tersandung di momen kecil, seperti Belanda dan Portugal.

Belanda kembali membawa fondasi Virgil van Dijk, plus Memphis Depay dan Frenkie de Jong, tetapi kutukan “tiga kali runner-up” membuat ambisi Koeman terdengar seperti tantangan psikologis.

Portugal tetap punya Cristiano Ronaldo dan Bruno Fernandes, ditambah Joao Neves serta Vitinha yang menggerakkan lini tengah.

Yang paling tajam adalah detailnya: di era Roberto Martinez, Ronaldo sudah mencetak 25 gol dari 30 laga, tetapi usia 41 tahun membuat pertanyaan bukan soal kelas, melainkan daya tahan dan peran.

Inggris digambarkan bertumpu pada satu poros: Harry Kane, pencetak 79 gol dari 113 laga, sekaligus mesin gol Bundesliga dengan 36 gol musim ini.

Masalah Inggris bukan hanya “grup neraka”, melainkan trauma adu penalti yang selalu muncul ketika margin kemenangan mengecil.

Jerman justru berada dalam “krisis mini” setelah dua edisi terakhir selalu gugur di fase grup.

Jika mereka masih gagal lolos dari grup yang berisi Pantai Gading, Ekuador, dan debutan Curacao, Al Jazeera menyiratkan akan ada evaluasi besar terhadap arah sepak bola mereka.

Kroasia membawa warisan 2018 dan 2022, tetapi waktu menjadi musuh utama, terutama bagi Luka Modric yang kini berusia 40 tahun.

Meski begitu, duet bek tengah Josko Gvardiol (24) dan Luka Vuskovic (19) memberi sinyal bahwa Kroasia sedang menyiapkan era baru di belakang.

Belgia adalah studi kasus tentang generasi emas yang menua, setelah tersingkir mengejutkan di fase grup Qatar 2022.

Kevin De Bruyne dan Romelu Lukaku masih ada, namun harapan baru diproyeksikan pada Jeremy Doku dan Charles De Ketelaere untuk mengubah energi tim.

Austria dan Norwegia menghadirkan romantika “kembali ke panggung dunia” setelah absen 28 tahun.

Austria dipimpin Marko Arnautovic yang mencetak delapan gol kualifikasi, tetapi catatan “belum menang laga gugur turnamen besar sejak 1954” adalah alarm keras.

Norwegia tampak eksplosif lewat 16 gol Erling Haaland di kualifikasi dan tujuh assist Martin Odegaard.

Namun, grup yang menunggu—dengan Prancis dan Senegal—menguji apakah produktivitas kualifikasi bisa diterjemahkan menjadi ketenangan di panggung terbesar.

Bosnia dan Herzegovina menawarkan kontras generasi yang menarik: Edin Dzeko berusia 40 tahun berpasangan dengan Kerim Alajbegovic yang baru 18 tahun.

Fakta bahwa Alajbegovic “bahkan belum lahir” saat Dzeko debut internasional menjadi metafora tentang negara kecil yang menggantungkan mimpi pada jembatan antar-era.

Swedia kembali lewat jalur UEFA Nations League setelah finis juru kunci di grup kualifikasi reguler, lalu mengganti pelatih ke Graham Potter pada Oktober 2025.

Kisah ini menegaskan bahwa format dan jalur lolos juga membentuk kualitas peserta, karena akses playoff bisa menyelamatkan tim yang sebenarnya rapuh di kualifikasi utama.

Swiss tampil stabil, tidak terkalahkan di kualifikasi dan hanya kebobolan dua gol, sehingga difavoritkan memimpin grupnya.

Namun, kebiasaan tersingkir di babak 16 besar pada lima dari enam edisi terakhir menunjukkan ada plafon mental dan taktik yang belum mereka pecahkan.

Turkiye baru tampil untuk ketiga kalinya di Piala Dunia, sesuatu yang terasa ganjil mengingat kekuatan liga domestik dan atmosfer suporternya.

Arda Guler dan Kenan Yildiz menjadi simbol generasi baru, tetapi ekspektasi minimal “lolos ke babak 32 besar” menandakan target mereka masih konservatif.

Skotlandia kembali setelah terakhir tampil pada 1998, dengan bekal pengalaman Liga Champions dari Andy Robertson, John McGinn, dan Scott McTominay.

Target realistisnya pun sederhana: lolos fase gugur, sesuatu yang “belum pernah” mereka capai di Piala Dunia maupun Piala Eropa.

Ceko kembali ke Piala Dunia setelah 20 tahun, tetapi disebut kehilangan bintang-bintang era lampau.

Patrik Schick diharapkan menjadi percikan, namun konteks grup membuat mereka lebih sering diposisikan sebagai pihak yang harus bertahan, bukan mengendalikan.

Daftar ini memperlihatkan bahwa dominasi Eropa bukan sekadar mitos sejarah, melainkan konsekuensi dari kedalaman pemain yang “bisa diganti tanpa menurunkan level”.

Prancis dan Spanyol menjadi contoh ekstrem: mereka tidak hanya punya bintang, tetapi juga stok bintang cadangan yang siap mengubah pertandingan.

Namun, Piala Dunia bukan liga panjang, melainkan turnamen singkat yang menghukum detail kecil: penalti, kartu, cedera, dan keputusan pelatih.

Karena itu, tim seperti Inggris, Belanda, dan Portugal terlihat kuat di atas kertas, tetapi rapuh ketika pertandingan berubah menjadi ujian saraf.

Yang paling menarik justru paradoks “raksasa yang tersandung” dan “kuda hitam yang belum matang”.

Jerman bisa meledak kapan saja, tetapi dua kegagalan beruntun di fase grup membuat mereka lebih mirip proyek pemulihan ketimbang favorit.

Austria dan Norwegia membawa statistik kualifikasi yang memikat, tetapi panggung Piala Dunia menuntut pengalaman mengelola tekanan, bukan sekadar produktivitas.

Di titik ini, Italia yang absen tiga edisi beruntun menjadi peringatan: tradisi tidak menyelamatkan siapa pun yang tertinggal dalam regenerasi dan modernisasi.

Format kualifikasi juga pantas dikritisi, karena jalur Nations League memungkinkan tim seperti Swedia “kembali” meski performa kualifikasi regulernya buruk.

Ini bukan salah Swedia, tetapi cermin bahwa akses turnamen kadang lebih ditentukan desain kompetisi daripada konsistensi kualitas.

Jika prediksi Al Jazeera tepat, Piala Dunia 2026 akan kembali menjadi panggung supremasi UEFA, dengan Prancis dan Spanyol di garis depan.

Namun, turnamen besar selalu menyimpan ruang bagi kegagalan favorit, terutama ketika tekanan, penalti, dan momen kecil mengubah narasi.

Pertanyaan yang tersisa bukan hanya siapa yang paling bertalenta, melainkan siapa yang paling siap menghadapi ketidakadilan sepak bola yang sering datang tiba-tiba.

Di situlah Piala Dunia tetap relevan: ia memaksa kita percaya bahwa sejarah penting, tetapi tidak pernah sepenuhnya menentukan masa depan.

(Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)