DBD Indonesia dan Ekologi Vektor: Iklim, Kota, dan Nyamuk Aedes
ORBITINDONESIA.COM – Kasus DBD di Indonesia terus berulang tiap tahun, bahkan saat fogging, PSN, dan kampanye 3M digencarkan. Guru Besar Parasitologi UMY, Prof. Tri Wulandari Kesetyaningsih, menyebut akar masalahnya ada pada ekologi vektor: manusia, lingkungan, dan nyamuk Aedes dalam satu sistem.
DBD bukan cerita baru, karena pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1968 dan tidak pernah benar-benar hilang. Kini persebarannya makin luas, mendekati hampir seluruh kabupaten dan kota.
Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar di UMY pada 13 Juni 2026, Prof. Tri mengajukan pertanyaan yang mengganggu: mengapa DBD tetap persisten meski intervensi sudah puluhan tahun. Pertanyaan ini menuntut jawaban yang lebih jujur dari sekadar “kurang fogging” atau “kurang obat”.
Prof. Tri menegaskan DBD adalah cerminan interaksi kompleks manusia, lingkungan, dan vektor Aedes aegypti serta Aedes albopictus. Nyamuk ini beradaptasi untuk hidup dekat manusia, sehingga perilaku dan tata kelola ruang menjadi bahan bakar penularan.
Ia menyebut penyakit ini “tumbuh di ruang-ruang yang kita ciptakan, di genangan air yang kita abaikan, di kepadatan kota yang tidak terkelola, serta dalam perubahan iklim yang semakin nyata.” Kutipan itu menggeser fokus dari pasien ke ekosistem yang memproduksi kasus.
Di titik ini, pemberantasan nyamuk semata menjadi strategi yang mudah, tetapi sering dangkal. Fogging memukul populasi dewasa sesaat, namun tidak otomatis menghilangkan sumber jentik di rumah, selokan, dan wadah air yang dibiarkan.
Perubahan iklim memperumit situasi, karena suhu, curah hujan, dan kelembapan memengaruhi siklus hidup nyamuk dan perkembangan virus dengue. Prof. Tri menekankan variabel iklim bukan sekadar angka, melainkan penentu dinamika risiko penularan.
Peningkatan suhu dapat mempercepat reproduksi nyamuk dan memperpendek waktu virus berkembang di tubuh vektor. Perubahan pola hujan juga bisa memperluas habitat, terutama ketika air tergenang di lingkungan padat tanpa drainase memadai.
Orasi Prof. Tri menggunakan perspektif analisis spasial berbasis Geographically Weighted Regression (GWR) dalam ekologi vektor. Pendekatan ini penting karena risiko DBD tidak seragam, melainkan berbeda antarwilayah sesuai kondisi lokal.
Dengan pemetaan spasial, faktor lingkungan dan iklim dapat dibaca sebagai “peta peluang” penularan, bukan sekadar laporan kasus. Hasilnya, kebijakan bisa lebih tepat sasaran, misalnya menargetkan titik rawan jentik, kepadatan hunian, atau area dengan pola hujan tertentu.
Di sisi lain, Indonesia masih sering terjebak pada respons reaktif ketika kasus melonjak. Padahal pencegahan menuntut kerja rutin yang membosankan: pengelolaan sampah, drainase, air bersih, dan disiplin rumah tangga.
Gagasan utama Prof. Tri terasa tajam: DBD adalah masalah ekologis, sehingga solusi harus lintas sektor. Jika kesehatan bekerja sendiri tanpa tata ruang dan lingkungan, maka yang terjadi hanya siklus panik tahunan.
Kita perlu mengakui bahwa “musuh” DBD bukan hanya nyamuk, tetapi cara kita membangun kota dan mengurus permukiman. Kepadatan yang tak diimbangi sanitasi, drainase buruk, dan kebiasaan menyimpan air adalah infrastruktur penularan yang tak terlihat.
Keterlibatan masyarakat juga tidak bisa diposisikan sebagai slogan, karena nyamuk Aedes berbiak dekat rumah. Tanpa perubahan perilaku dan kontrol sumber jentik yang konsisten, program pemerintah akan selalu tertinggal satu langkah.
Namun masyarakat pun tidak boleh dijadikan kambing hitam tunggal. Ketika layanan air bersih tidak stabil, ruang hijau minim, dan pengelolaan sampah lemah, pilihan warga menjadi terbatas dan risiko DBD naik secara struktural.
Karena itu, pendekatan ekologi vektor menuntut keberanian politik dan konsistensi anggaran. Pengendalian DBD harus dibaca sebagai investasi tata kelola lingkungan, bukan sekadar biaya kesehatan saat wabah.
Prof. Tri menutup dengan pesan bahwa pengendalian DBD berkelanjutan memerlukan integrasi sektor kesehatan, lingkungan, tata ruang, dan masyarakat. Pesan itu mengingatkan bahwa pencegahan bukan aksi heroik sesaat, melainkan disiplin kolektif yang panjang.
Pertanyaannya kini sederhana tetapi menohok: apakah kita mau terus memadamkan api tiap musim, atau membenahi “hutan kering” yang membuat api selalu kembali. DBD mungkin tidak pernah sepenuhnya hilang, tetapi kita bisa menurunkan risikonya jika berani mengubah ekologi yang kita ciptakan sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juni 2026)