Always-On Culture: Pekerja Cek Pesan Kerja Saat Liburan Meningkat
ORBITINDONESIA.COM – Always-on culture kian menggerus work-life balance, bahkan ketika pekerja sedang liburan.
Riset terbaru menunjukkan 50% pekerja tetap mengecek pesan kerja saat cuti, dan 55% melakukannya hanya beberapa menit setelah bangun tidur.
Teknologi kolaborasi membuat kantor seolah pindah ke saku celana, tanpa jam tutup yang jelas.
Di balik notifikasi yang tak pernah habis, tekanan kerja mendorong 42% pekerja mempertimbangkan resign, sementara 11% sudah aktif mencari pekerjaan baru.
Riset dari platform HR HiBob mencatat budaya “selalu aktif” makin dinormalisasi dalam dua tahun terakhir.
Sebanyak 58% pekerja merasa tekanan peran meningkat, dan 49% merasakan ekspektasi untuk selalu tersedia.
Angka ini bukan sekadar keluhan, melainkan pola kerja yang bergeser dari “jam kerja” menjadi “jam respons”.
Ketika 36% pekerja rutin lembur, pekerjaan tidak lagi berhenti di akhir hari, melainkan merembes ke malam.
Dalam konteks ini, pesan singkat dari atasan bisa berubah menjadi komando tak tertulis yang menuntut jawaban segera.
Yang paling mengkhawatirkan, 27% pekerja percaya tidak membalas pesan di luar jam kerja akan merusak karier mereka.
Ketakutan itu menciptakan disiplin baru: bukan disiplin produktivitas, melainkan disiplin keterjangkauan.
Akibatnya, liburan pun berubah fungsi dari pemulihan menjadi jeda rapuh yang mudah ditembus notifikasi.
Temuan lain memperlihatkan 37% pekerja bersedia menerima gaji lebih rendah demi pekerjaan yang kurang stres.
Ini sinyal bahwa “kompensasi” tidak lagi semata uang, tetapi juga ruang bernapas dan kendali atas waktu.
Always-on culture sering dijual sebagai kelincahan dan komitmen, tetapi praktiknya kerap memindahkan risiko ke individu.
Pekerja diminta adaptif, namun batas kerja tidak ikut didefinisikan ulang secara adil.
Ketika ketersediaan dianggap loyalitas, organisasi sebenarnya sedang mengukur kepatuhan, bukan kinerja.
Model ini bisa tampak efektif dalam jangka pendek, tetapi mahal dalam jangka panjang karena menggerus fokus, kesehatan mental, dan retensi.
Gelombang niat resign dalam riset HiBob memperlihatkan biaya tersembunyi: kelelahan yang tidak tercatat dalam laporan keuangan.
Masalahnya bukan pada pesan kerja itu sendiri, melainkan pada norma yang membuat diam terasa berbahaya.
Jika karier dipersepsikan bergantung pada kecepatan membalas, maka “hak untuk offline” berubah menjadi kemewahan.
Di titik ini, work-life balance tidak gagal karena pekerja lemah, melainkan karena sistem memberi insentif pada keterhubungan tanpa henti.
Riset HiBob menegaskan pekerjaan makin sering menyeberang ke ranah pribadi, dari pagi pertama setelah bangun hingga hari-hari liburan.
Pertanyaannya kini bukan apakah teknologi membuat kerja lebih cepat, melainkan apakah kita berani menetapkan batas agar hidup tidak ikut dipercepat.
(Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)