Bulls Tunjuk Tiago Splitter Jadi Pelatih Baru, Era Donovan Berakhir

ORBITINDONESIA.COM – Chicago Bulls resmi menunjuk Tiago Splitter sebagai head coach baru, menggantikan Billy Donovan setelah proses seleksi panjang yang melibatkan banyak kandidat. Keputusan ini menyorot kata kunci yang dicari publik: pelatih baru Bulls, serta sub-keyword Tiago Splitter dan arah baru Chicago Bulls untuk roster muda mereka.

Terjemahan akurat artikel sumber: Chicago Bulls merekrut pelatih interim Portland Trail Blazers, Tiago Splitter, sebagai pelatih kepala baru, diumumkan pada Selasa. Splitter menggantikan Billy Donovan setelah ia mengambil alih jabatan pelatih interim di Portland musim lalu dan tampil sangat baik.

Splitter, 41 tahun, membawa Trail Blazers mencatat rekor 42-40 dan lolos ke postseason sebagai unggulan No. 7 Wilayah Barat, di tengah situasi sulit akibat dakwaan federal yang menimpa Chauncey Billups. Wakil presiden eksekutif Bulls, Bryson Graham, menyebut Splitter menonjol karena kecerdasan basket, kemampuan membangun koneksi dan mengembangkan pemain, serta cara timnya selalu bersaing setiap malam.

Graham menambahkan Splitter menang di berbagai level sebagai pemain dan pelatih di beberapa benua, dan visinya dinilai cocok untuk roster muda Bulls. Splitter menjadi pelatih Blazers pertama yang punya rekor menang pada musim pertamanya sejak Maurice Cheeks (2001-02), dan yang pertama memenangi laga playoff pada musim debut di Portland sejak Mike Dunleavy (1997-98).

Di 51 laga terakhir musim reguler, Splitter memimpin Portland menjadi pertahanan top-10 dengan rekor 30-21. Portland juga memimpin NBA dalam poin kesempatan kedua per gim di bawah Splitter musim lalu.

Ia mendapat dukungan ruang ganti Portland, termasuk dari forward bintang Deni Avdija yang menjadi All-Star NBA pertama kalinya di bawah pengawasannya. Sumber menyebut pejabat utama Bulls, termasuk Graham, bertemu empat finalis pekan lalu: Splitter, asisten Timberwolves Micah Nori, asisten Hawks Ryan Schmidt, dan asisten Bulls Wes Unseld Jr.

Pencarian Bulls mencakup belasan kandidat sebelum mengerucut, dan mereka memilih Splitter karena kemampuan memimpin pengembangan pemain, menyatukan arah organisasi, serta kepemimpinan dan basis pengetahuan sebagai pelatih yang meniti karier sejak 2018. Splitter juga pernah bermain tujuh musim di NBA dan meraih satu gelar bersama San Antonio Spurs.

Splitter mengatakan Bulls mewakili semua yang ia cintai dari basket, dengan tradisi besar, kota yang fanatik, dan kelompok pemain muda yang lapar berkembang. Ia berterima kasih atas kepercayaan organisasi dan tak sabar bekerja di Chicago.

Sebelum NBA, Splitter bermain di luar negeri, lalu dipilih Spurs pada urutan ke-28 Draft NBA 2007. Ia bermain untuk San Antonio, Atlanta, dan Philadelphia, lalu pensiun dan bergabung dengan Brooklyn Nets sebagai scout serta staf pengembangan pemain pada 2018.

Ia menjadi asisten Houston Rockets pada 2023-24 di bawah Ime Udoka, lalu melatih Paris Basketball untuk kampanye EuroLeague 2024-25. Setelah itu ia kembali ke NBA sebagai asisten utama Billups di Portland, dan kini Portland harus mencari pelatih baru dengan kandidat tersisa Micah Nori dan asisten Celtics Tyler Lashbrook.

Penunjukan Tiago Splitter sebagai pelatih baru Bulls bukan sekadar pergantian nama, melainkan sinyal perubahan prioritas: pengembangan pemain dan identitas bertahan. Data yang paling “menjual” adalah 42-40 serta tiket postseason, tetapi yang lebih berbicara adalah lonjakan performa pada 51 gim terakhir dengan rekor 30-21 dan pertahanan top-10.

Dalam konteks NBA modern, pertahanan stabil sering menjadi fondasi tim muda yang belum matang di eksekusi half-court. Bulls seperti ingin meniru pola itu, karena roster muda biasanya butuh struktur yang tegas, bukan eksperimen tak berujung.

Fakta Portland memimpin NBA dalam second-chance points per gim di bawah Splitter juga mengandung pesan budaya kerja. Poin kesempatan kedua lahir dari hustle, rebound ofensif, dan disiplin rotasi, yang biasanya lebih cepat dibangun daripada serangan yang sangat kompleks.

Keberhasilan Splitter mengangkat Deni Avdija menjadi All-Star pertama kali memperkuat narasi bahwa ia “pelatih pengembang,” bukan sekadar pengatur strategi. Di liga yang makin bergantung pada pertumbuhan internal karena aturan salary cap dan pajak, reputasi seperti ini menjadi mata uang yang mahal.

Namun ada konteks yang tak boleh diabaikan, yakni Splitter sukses sebagai pelatih interim di tengah krisis akibat kasus federal Chauncey Billups. Situasi darurat sering memaksa penyederhanaan rencana, dan terkadang justru menghasilkan kejelasan peran yang membuat tim lebih kompak.

Bulls juga melakukan proses seleksi yang kompetitif, dengan finalis dari berbagai “aliran” kepelatihan seperti Micah Nori dan Wes Unseld Jr. Ini mengindikasikan manajemen tidak hanya mencari taktik, tetapi sosok yang bisa menyatukan arah organisasi, seperti yang ditegaskan Bryson Graham dalam pernyataannya.

Pengalaman Splitter lintas benua memperkaya perspektifnya, karena basket Eropa cenderung menekankan spacing terstruktur, pembacaan permainan, dan disiplin bertahan. Ketika diterapkan di NBA, pendekatan itu sering membuat tim muda bermain lebih “rapi” dan mengurangi turnover karena keputusan yang lebih sederhana.

Di sisi lain, tantangan terbesar Splitter adalah transisi dari interim yang “membebaskan” ke pelatih kepala penuh yang harus menetapkan hirarki dan menanggung ekspektasi. Chicago adalah pasar besar, dan setiap kekalahan bisa berubah menjadi pertanyaan tentang legitimasi, bukan sekadar proses.

Efek domino juga terjadi di Portland, karena mereka kini harus memilih pelatih baru dari kandidat tersisa Micah Nori dan Tyler Lashbrook. Ini menegaskan bahwa pasar pelatih NBA semakin cair, dan keberhasilan jangka pendek bisa langsung mengubah peta karier dan rencana tim.

Secara tajam, Bulls tampak bosan dengan “stabil tapi datar,” dan memilih taruhan yang lebih berani pada pelatih baru Bulls yang belum lama naik kelas. Pilihan ini terasa seperti pengakuan bahwa status quo tidak cukup untuk mengejar relevansi di Wilayah Timur yang makin padat.

Keputusan mengganti Billy Donovan juga bisa dibaca sebagai perubahan filosofi: dari mengelola nama dan pengalaman, menuju mengelola pertumbuhan dan detail harian. Dalam bahasa NBA, itu berarti mengutamakan habits, bukan hanya playbook.

Namun romantisasi terhadap “pelatih muda yang jenius” sering menjadi jebakan jika organisasi tidak konsisten mendukung arah yang dipilih. Jika manajemen tetap ragu pada timeline roster, Splitter berisiko menjadi simbol perubahan tanpa alat untuk benar-benar mengubah.

Yang membuat penunjukan ini menarik adalah bukti konkret, bukan sekadar reputasi, yaitu pertahanan top-10 dalam periode panjang dan budaya second-chance points. Bulls seolah berkata bahwa identitas bisa dibangun dari hal paling keras dan paling sederhana: bertahan dan bekerja lebih keras.

Jika Splitter berhasil, ini akan menjadi cerita tentang pelatih yang ditempa krisis lalu dipercaya memimpin era baru Chicago Bulls. Jika gagal, publik akan menyimpulkan bahwa interim success tidak otomatis bisa dipindahkan ke panggung yang lebih bising.

Tiago Splitter datang ke Chicago dengan portofolio yang tampak rapi: rekor 42-40, postseason, pertahanan top-10 di fase krusial, dan satu All-Star yang mekar di bawah arahannya. Tetapi NBA jarang memberi hadiah untuk masa lalu, karena yang diuji adalah kemampuan mengulang kebiasaan baik itu pada konteks baru.

Pertanyaan besarnya sederhana, tetapi menentukan: apakah Bulls benar-benar siap bersabar membangun, atau hanya ingin terlihat berubah. Jawabannya akan terlihat bukan pada konferensi pers, melainkan pada detail kecil setiap malam, ketika tim kalah dan tetap memilih bertahan, berebut rebound, dan belajar. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juni 2026)