Operasi Penyelaman KM Virgo Dihentikan, Basarnas Fokus Permukaan

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Operasi penyelaman pencarian korban KM Virgo Transport 8 dihentikan setelah memasuki hari ketiga. Basarnas kini mengalihkan strategi pencarian korban kapal KM Virgo ke permukaan karena kondisi jenazah dinilai makin rapuh.

Keputusan itu disampaikan Kepala Basarnas RI M Syafii di Banjarmasin pada Minggu, 4 Oktober 2026. Ia menekankan adanya batas waktu efektif atau golden time pencarian, yakni sejak hari pertama hingga hari ketiga.

Pada hari-hari awal, sebagian jenazah masih bisa dievakuasi tanpa risiko besar di bawah air. Namun situasi berubah ketika tubuh korban berpotensi terurai saat dikeluarkan dari badan kapal.

Basarnas juga mencatat sebaran temuan yang meluas lintas provinsi. Korban ditemukan hingga Kalimantan Tengah, sementara perahu karet terdeteksi sampai wilayah Kalimantan Barat.

Syafii menjelaskan operasi underwater menjadi tidak efektif ketika kondisi jasad tidak lagi memungkinkan untuk dibawa naik dengan aman. “Jika pada hari sebelumnya korban bisa naik sendiri setelah dikeluarkan, kini korban dapat terurai ketika berhasil dikeluarkan dari kapal,” katanya.

Dalam konteks SAR, istilah golden time bukan sekadar jargon, melainkan batas realistis yang dipengaruhi arus, visibilitas, tekanan, serta stabilitas struktur objek pencarian. Ketika faktor-faktor itu memburuk, penyelaman berubah dari upaya penyelamatan menjadi operasi berisiko tinggi.

Basarnas mengakui masih ada bagian kapal yang belum tersentuh, termasuk lambung kiri. Namun badan kapal disebut “sangat labil” sehingga membahayakan penyelam, dan ini menjadi pertimbangan keselamatan yang tidak bisa ditawar.

Di sisi lain, penghentian penyelaman bukan berarti penghentian pencarian. Basarnas menyatakan operasi tetap berjalan sampai seluruh korban ditemukan “dalam kondisi apa pun” dan diserahkan kepada keluarga secara terhormat.

Fokus permukaan juga masuk akal karena bukti lapangan menunjukkan korban dan material terdorong arus hingga lintas wilayah. Sebaran ini mengisyaratkan perlunya perluasan sektor pencarian, koordinasi antardaerah, dan penguatan pemantauan jalur arus.

Syafii mendorong operasi salvage atau pengangkatan badan kapal oleh pemilik kapal untuk memastikan korban yang diduga masih berada di dalam bisa dievakuasi lebih aman. Ia menegaskan kemampuan maksimal penyelaman sudah dikerahkan, tetapi tiga hari terakhir tidak ada temuan baru.

Keputusan menghentikan penyelaman mudah disalahpahami sebagai langkah mundur, padahal bisa jadi itu bentuk disiplin prosedural. Dalam operasi SAR, keberanian tanpa kalkulasi hanya memindahkan daftar korban dari penumpang menjadi penyelam.

Namun, keputusan teknis selalu memunculkan pertanyaan moral yang lebih besar. Publik berhak tahu apakah kesiapan keselamatan pelayaran, pengawasan, dan standar tanggap darurat sudah cukup untuk mencegah tragedi serupa.

Perluasan area pencarian sampai Kalteng dan Kalbar juga memotret satu hal yang sering luput, yakni arus informasi yang tidak selalu secepat arus air. Saat keluarga menunggu kabar, transparansi data pencarian, peta sektor, dan pembaruan temuan menjadi bagian dari penghormatan.

Salvage yang didorong Basarnas menyiratkan tantangan lain, yaitu pembiayaan, tanggung jawab pemilik, dan koordinasi otoritas. Di titik ini, tragedi tidak hanya soal evakuasi, tetapi juga soal akuntabilitas.

Penghentian operasi penyelaman pencarian korban KM Virgo menandai perubahan fase, dari penyisiran bawah air ke penjangkauan permukaan yang lebih luas. Basarnas memilih jalur yang lebih aman bagi personel, sambil menunggu salvage untuk membuka peluang evakuasi lanjutan.

Tragedi ini mengajarkan bahwa teknologi dan keberanian tidak selalu cukup melawan waktu dan kondisi alam. Pertanyaannya kini, apakah setelah korban ditemukan, sistem keselamatan pelayaran juga akan benar-benar dibenahi agar duka tidak berulang.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 Oktober 2026)