Mall Jadi Destinasi Wellness: Tren Belanja, Beauty, dan Fitness

The European Business Review

The European Business Review

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Mall dan wellness economy kini berjalan beriringan, mengubah pusat belanja menjadi ruang rutin untuk merasa lebih sehat dan lebih tenang. Ketika e-commerce menuntaskan urusan transaksi, mall menang lewat pengalaman: beauty, self-care, fitness, dan makanan sehat dalam satu kunjungan.

Sepuluh tahun lalu, mall nyaris dikubur hidup-hidup oleh belanja online dan tutupnya anchor store. Parkiran sepi menjadi simbol bahwa pusat belanja dianggap artefak lama yang tak lagi relevan.

Namun ramalan itu meleset karena kebutuhan manusia tidak berhenti pada membeli barang. Mall yang bertahan mengubah fungsi dari “tempat belanja” menjadi “tempat tinggal lebih lama”.

Angka besar mendorong perubahan ini: ekonomi wellness global mencapai 6,8 triliun dolar AS pada 2024 dan tumbuh lebih cepat dari ekonomi dunia. Nilai itu lebih besar daripada olahraga, pariwisata, atau IT, dan diproyeksikan mendekati 10 triliun dolar AS pada 2029.

Wellness bukan lagi niche karena ia menempel pada kecemasan dan penuaan. Sekitar 40 persen Gen Z mengaku hampir selalu stres, sementara studi McKinsey mencatat 60 persen konsumen menempatkan “healthy aging” sebagai prioritas utama.

Di titik ini, mall menemukan jawaban yang tidak bisa ditiru e-commerce: menggabungkan rutinitas dalam jarak beberapa langkah. Beauty dan personal care saja bernilai lebih dari 1,3 triliun dolar AS, dan mental wellness menjadi salah satu segmen yang tumbuh paling cepat.

Perilaku pengunjung juga bergeser dari membeli ke bersosialisasi. Survei International Council of Shopping Centres (2024) menyebut 62 persen Gen Z datang ke mall terutama untuk sosial dan hiburan, sementara belanja menjadi motif sekunder.

Data lalu lintas menguatkan sinyal pemulihan yang selektif. Pada paruh pertama 2025, footfall dan rata-rata durasi kunjungan di indoor mall Amerika Serikat naik tipis, dan Inggris mencatat kenaikan footfall 6,1 persen secara tahunan pada pertengahan 2025.

Contoh paling jelas adalah Westfield Century City di Los Angeles yang didesain ulang sekitar 1 miliar dolar AS dan selesai pada 2017. Di sana, fashion trendi, Equinox club dan spa, restoran, beauty house, serta kalender event membuat orang bisa latihan pagi, belanja siang, dan makan malam tanpa pindah lokasi.

Di sisi strategi, parameter sukses ikut berubah. Dulu ukuran utamanya sales per square foot, kini yang dikejar adalah dwell time dan frekuensi kunjungan.

Alasannya ekonomis, bukan romantis. Member gym datang beberapa kali seminggu, pelanggan klinik kecantikan kembali bulanan, sedangkan pembeli mode bisa saja hanya dua kali setahun.

Konsekuensinya, mall terdorong menjadi mixed-use: klinik, co-working, fitness, bahkan hunian di atas ritel. Pusat yang berlokasi prima dan punya modal renovasi melesat, sementara pusat lemah makin tertinggal.

Reinkarnasi mall sebagai destinasi wellness adalah kemenangan psikologi atas logistik. E-commerce menang di harga dan kemudahan, tetapi kalah dalam urusan membentuk kebiasaan dan rasa “dipulihkan” di ruang publik.

Namun ada sisi problematis yang perlu dibaca jernih: wellness mudah berubah menjadi komoditas kecemasan. Ketika stres dan penuaan dijadikan pasar, batas antara perawatan diri dan tekanan sosial untuk “selalu optimal” menjadi kabur.

Risiko lain adalah ketimpangan ruang kota. Mall yang sukses cenderung berada di kawasan kaya dan terkoneksi, sehingga “infrastruktur kesejahteraan” bisa makin terkonsentrasi pada kelompok yang sudah diuntungkan.

Karena itu, kata kunci “wellness” tidak boleh diperlakukan sebagai mantra. Jika ia hanya berarti interior hijau, aroma terapi, dan harga premium, mall sekadar mengganti kostum tanpa menyentuh kebutuhan publik yang lebih luas.

Yang lebih menarik adalah ketika mall benar-benar menjadi simpul kehidupan sehari-hari. Ia bisa mendorong mobilitas berjalan kaki, memperbanyak ruang temu, dan memulihkan fungsi sosial yang sempat hilang dari kota yang makin individual.

Mall tidak kembali sebagai mesin transaksi, melainkan sebagai panggung rutinitas: bergerak, makan, merawat diri, dan beristirahat. Tantangannya bukan sekadar membuat orang belanja, tetapi membuat orang pulang dengan perasaan lebih baik.

Pertanyaan akhirnya sederhana namun tajam: apakah kebangkitan mall sebagai wellness destination akan memperluas akses hidup sehat, atau justru mengubah kesehatan menjadi gaya hidup eksklusif. Jawabannya akan ditentukan oleh siapa yang mampu masuk ke “ritme mingguan” publik, dan siapa yang tertinggal di luar pintu.

(Orbit dari berbagai sumber, 30 Juli 2026)