Operasi Militer Israel di Tepi Barat: Penguncian, Penggusuran, Penangkapan Massal

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Operasi militer Israel di Tepi Barat kembali membesar, dengan janji penggerebekan dari rumah ke rumah, penangkapan massal, pembongkaran rumah, dan pemindahan paksa warga di sekitar Hebron. Benjamin Netanyahu bahkan menyatakan akan “menghancurkan tempat ini” dan “mengubahnya sepenuhnya”, sebuah kalimat yang langsung memicu tuduhan hukuman kolektif dari kelompok HAM Israel, B’Tselem. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Operasi ini diumumkan Jumat malam sebagai kampanye “kontraterorisme” yang melibatkan tentara, polisi, dan aparat keamanan lain di wilayah Hebron, Tepi Barat yang diduduki. Israel menyebut operasi akan berlangsung “beberapa hari” dan disertai kegiatan di “puluhan” lokasi lain di Tepi Barat. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Pemicu langsungnya adalah serangan di pos pemeriksaan militer Israel dekat Hebron pada Jumat, yang menewaskan dua tentara Israel. Dua tersangka penembak Palestina dilaporkan ditembak mati. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Netanyahu memerintahkan penguncian penuh Tepi Barat, sekaligus mengumumkan taktik house-to-house di lingkungan asal para tersangka. Ia juga menyebut operasi akan mencakup pembongkaran dan pemindahan paksa, meniru metode yang sebelumnya dipakai di kamp-kamp pengungsi Tulkarem dan Jenin. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Pada Sabtu pagi, aparat Israel dilaporkan menggerebek ratusan rumah di Hebron dan mengubah puluhan rumah menjadi pusat interogasi militer, menurut Palestinian Prisoners’ Society. Penahanan juga meluas, dengan sekitar 70 orang ditangkap antara Jumat hingga awal Sabtu, sementara ratusan lainnya diinterogasi. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Di al-Jalda, sekitar 300 keluarga Palestina dilaporkan dipindahkan dari lingkungan mereka, menurut laporan di lapangan. Rekaman yang beredar menunjukkan tentara berjaga, kendaraan militer, serta jalan-jalan diblokade dengan troli belanja dan benda lain. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Bulldozer Israel juga meratakan sebuah bangunan tiga lantai di Hebron, sembari memerintahkan keluarga lain meninggalkan rumah di area Ein Deir Bahha dan sekitarnya. Issa Amro menyebut hampir 800.000 warga Palestina di Kegubernuran Hebron “terkepung” karena semua akses keluar-masuk ditutup sejak Sabtu pagi. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Amro menggambarkan keluarga yang mengungsi pergi tanpa cukup barang, pakaian, bahkan tas sekolah anak-anak. Mereka berjalan dalam ketakutan, tanpa tahu tujuan akhir, sebuah ciri klasik pemindahan paksa yang mengandalkan tekanan psikologis. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Operasi tidak berhenti di Hebron, karena penggerebekan juga terjadi di sedikitnya 15 kota di Tepi Barat utara, termasuk Nablus, Jenin, Tubas, dan Qalqilya. Dampaknya menciptakan kecemasan luas, membuat warga menghindari jalanan, menurut laporan Al Jazeera dari Ramallah. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Netanyahu menyebut selama penguncian, pasukan Israel akan melakukan “gelombang penangkapan besar” dan memburu pejuang Hamas “di mana pun dan kapan pun”. Namun The Times of Israel juga mencatat kebijakan penguncian ini terjadi menjelang pemilu Israel pada Selasa, memberi konteks politik domestik yang sulit diabaikan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Di level regional, operasi ini muncul di tengah sinyal persiapan Israel dan Amerika Serikat untuk potensi gelombang serangan baru ke Iran. The New York Times melaporkan rancangan rencana serangan pasca pemilu paruh waktu AS 3 November, dengan target potensial mencakup infrastruktur energi, fasilitas nuklir, serta arsenal misil dan drone Iran. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Donald Trump bahkan mengatakan AS mungkin melakukan “another little epic fury”, merujuk pada sandi perang AS-Israel melawan Iran yang disebut dimulai 28 Februari dengan serangan lintas wilayah. Ketegangan ini penting, karena eskalasi eksternal sering berjalan paralel dengan pengetatan kontrol di wilayah pendudukan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Otoritas Palestina menyatakan sejak awal 2025 lebih dari 40.000 warga telah dipindahkan paksa akibat kekerasan pemukim dan penggerebekan pasukan bersenjata di Tepi Barat, dan prosesnya terus berlangsung. Pernyataan itu menyoroti bahaya operasi Hebron karena memuat “hukuman kolektif”, pembongkaran rumah, serta pengepungan kota-kota Palestina. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Kekerasan pemukim meningkat selama musim panen zaitun, sebuah periode yang berulang kali menjadi titik rawan konflik lahan. Wafa melaporkan pemukim menyerbu Yabrud dan Al Mughayyir di timur Ramallah untuk menggembalakan domba secara paksa di lahan pertanian Palestina dan merusak tanaman. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Komisi Kolonisasi dan Perlawanan Tembok Palestina mencatat 409 serangan sepanjang Oktober terhadap petani, lahan, pohon zaitun, dan peralatan pertanian. Komisi menyebut pola ini sebagai “kekerasan langsung untuk memaksa petani meninggalkan tanah mereka”, sebuah indikator kuat dari strategi pengosongan ruang. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Bahkan pejabat asing ikut terseret, yang memperlihatkan eskalasi terjadi di ruang terbuka dan sulit disangkal. Pada 17 Oktober, pemukim menyerang diplomat Eropa termasuk seorang wali kota Prancis di dekat Taybeh, sementara kandidat Kongres AS dari Demokrat, Brad Lander, sempat ditahan saat menjadi relawan panen zaitun. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Kata kunci yang menentukan operasi militer Israel di Tepi Barat saat ini adalah “hukuman kolektif”, karena targetnya tampak melebar dari pelaku ke komunitas. B’Tselem memperingatkan rencana ofensif pemerintah Israel merupakan “collective punishment” dan tindakan yang “dapat merupakan kejahatan perang”. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Pernyataan Netanyahu, “Kami akan bertindak menghancurkan tempat ini, mengubahnya sepenuhnya,” mengisyaratkan logika penghukuman ruang, bukan sekadar penegakan hukum. Ketika sebuah lingkungan diperlakukan sebagai objek yang harus “diubah total”, garis antara operasi keamanan dan rekayasa demografis menjadi kabur. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Dukungan pejabat sayap kanan memperjelas arah kebijakan, bukan sekadar respons sesaat. Bezalel Smotrich menyerukan ofensif besar-besaran di Tepi Barat berjalan “persis seperti di Gaza”, sementara Itamar Ben-Gvir meminta Otoritas Palestina “dibubarkan” dan pembatasan gerak warga Palestina diperketat. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Mustafa Barghouti menyebut penguncian membuat setiap kota dan desa menjadi “penjara kecil” dan akan “memicu ledakan”. Argumen ini menyorot paradoks keamanan, karena tekanan ekstrem sering melahirkan siklus perlawanan baru, bukan kepatuhan jangka panjang. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Dari sisi hukum dan moral internasional, penutupan wilayah yang menghambat akses layanan dasar dan penghidupan warga sipil memantik alarm PBB. Juru bicara Kantor HAM PBB menyebut penguncian sebagai episode baru dari “arus tanpa henti” tindakan mencekik, sementara Antonio Guterres menyatakan khawatir pembatasan itu mengganggu akses kebutuhan dasar. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Jika operasi ini benar meniru model Jenin dan Tulkarem, seperti kekhawatiran koresponden Al Jazeera Nour Odeh, maka risikonya bukan sekadar pengungsian sementara. Risiko terbesarnya adalah bulan-bulan hidup jauh dari rumah, lalu kehilangan rumah itu sendiri karena pembongkaran besar-besaran. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Operasi militer Israel di Tepi Barat, khususnya Hebron, kini bergerak dari penangkapan tersangka menuju penataan ulang ruang hidup warga Palestina melalui penguncian, penggerebekan, dan pemindahan paksa. Ketika jumlah pengungsi internal disebut sudah melampaui 40.000 sejak awal 2025, setiap operasi baru bukan lagi insiden, melainkan bab tambahan dari pola yang berulang. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)

Pertanyaan yang tersisa bukan hanya siapa yang menang dalam operasi beberapa hari, melainkan siapa yang menanggung kerusakan sosial selama bertahun-tahun. Jika dunia terus menunggu sampai “lebih banyak lingkungan dikosongkan dan dihapus”, seperti peringatan B’Tselem, maka normalisasi hukuman kolektif akan menjadi warisan paling berbahaya dari krisis ini. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)