Jajak Pendapat Israel: Iran Menang, Netanyahu Kehilangan Kepercayaan

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Jajak pendapat Israel terbaru menyebut mayoritas warga menilai Iran menang dalam perang Israel-AS melawan Teheran. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan alarm keras tentang krisis kepercayaan publik dan arah keamanan Israel pascakonflik. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Survei Hebrew University of Jerusalem bersama Agam Institute dilakukan pada 17-20 Juni terhadap 3.644 responden. Rilisnya berdekatan dengan kesepakatan damai awal AS-Iran, yang justru memantik penilaian publik bahwa hasil perang tidak menguntungkan Israel. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Dalam lanskap politik Israel, persepsi sering kali sama pentingnya dengan kemenangan di medan tempur. Ketika publik menilai musuh “lebih kuat” setelah perang, narasi keberhasilan pemerintah otomatis goyah dan memicu pertanyaan tentang biaya strategis yang dibayar. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Data survei menunjukkan 92,1 persen responden menyatakan Iran menang atau memperoleh lebih banyak keuntungan dari konflik. Ini menandakan persepsi kemenangan Israel tidak hanya kalah dominan, tetapi nyaris tak punya ruang hidup di benak publik. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Lebih tajam lagi, 82,9 persen responden merasa keamanan jangka panjang Israel melemah. Dalam logika keamanan nasional, ini berarti publik membaca perang sebagai investasi yang memperbesar risiko, bukan menguranginya. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Temuan paling politis muncul dari basis sayap kanan, yang selama ini menjadi benteng Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Di kelompok itu, 93,1 persen juga meyakini Iran menang, sehingga “kekalahan persepsi” merembes sampai ke kubu yang biasanya paling loyal. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Penolakan terhadap kesepakatan damai AS-Iran juga dominan, dengan 63,2 persen menentang dan hanya 12,1 persen mendukung. Ini mengisyaratkan dilema ganda: publik merasa perang merugikan, namun juga tidak percaya pada bentuk damai yang ditawarkan. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan terlihat dari 72,5 persen responden yang tidak mempercayai klaim Netanyahu tentang keberhasilan operasi militer. Bahkan 56,4 persen menilai manajemen operasi militernya “gagal” atau “buruk”, sebuah vonis yang jarang muncul setelanjang ini dalam situasi konflik. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Dampak elektoralnya nyata, karena dukungan terhadap Netanyahu turun dari 40,5 persen pada awal Maret menjadi 29,4 persen pada Juni. Dalam politik Israel yang sangat sensitif terhadap isu keamanan, penurunan ini menandakan publik mengaitkan hasil perang dengan kompetensi pemimpin. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Namun survei juga memperlihatkan paradoks: hampir separuh responden, 48,2 persen, mendukung aksi militer besar-besaran terhadap Hizbullah meski berisiko konfrontasi dengan AS. Hanya 21 persen yang menentang, menunjukkan dorongan eskalasi tetap kuat walau kepercayaan pada manajemen perang menurun. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Di saat yang sama, negosiasi untuk mengubah kesepakatan sementara AS-Iran menjadi kesepakatan permanen berlangsung di Swiss pada 21 Juni. Konflik di Lebanon disebut mengancam perundingan, sehingga publik Israel membaca masa depan sebagai rangkaian krisis yang belum selesai. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Jika 92,1 persen warga menilai Iran menang, persoalannya bukan hanya “siapa yang menang”, tetapi siapa yang berhasil mengendalikan cerita pascaperang. Dalam perang modern, kemenangan strategis bisa runtuh bila publik merasa keamanan memburuk dan pemimpin tidak jujur atau tidak kompeten. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Penolakan terhadap kesepakatan AS-Iran memperlihatkan kekecewaan yang tidak otomatis berubah menjadi dukungan pada diplomasi. Ini seperti psikologi “tak puas pada perang, tak percaya pada damai”, yang sering menjadi bahan bakar politik domestik paling berbahaya. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Netanyahu menghadapi ujian yang lebih rumit dari sekadar kritik oposisi, karena basis kanannya sendiri ikut menyimpulkan Iran lebih diuntungkan. Ketika pemilih inti meragukan klaim keberhasilan, ruang manuver pemimpin menyempit dan risiko polarisasi meningkat. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Dukungan terhadap serangan besar ke Hizbullah menunjukkan bahwa rasa tidak aman mendorong sebagian publik ke pilihan yang lebih keras, bukan lebih hati-hati. Ini mengandung ironi: publik menganggap keamanan melemah, lalu mendorong tindakan yang berpotensi memperluas front konflik dan mengganggu hubungan dengan sekutu utama, AS. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Di titik ini, kata kuncinya adalah “kepercayaan”, bukan semata “kekuatan militer”. Negara bisa memiliki kemampuan tempur tinggi, tetapi bila warganya yakin hasil perang menguntungkan musuh, legitimasi kebijakan keamanan akan terkikis dari dalam. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Jajak pendapat Israel tentang Iran menang dan melemahnya keamanan jangka panjang memperlihatkan satu hal: perang bisa selesai di meja perundingan, tetapi dampaknya hidup lama di pikiran publik. Ketika mayoritas tidak percaya pada klaim kemenangan dan sekaligus menolak bentuk damai yang ada, negara memasuki fase rapuh yang mudah tersulut keputusan impulsif. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)

Pertanyaan yang tersisa bukan hanya apakah kesepakatan AS-Iran akan menjadi permanen, melainkan apakah Israel mampu memulihkan kepercayaan warganya tanpa memperluas konflik. Jika persepsi “Iran lebih kuat” terus menguat, siapa yang akan memimpin narasi baru: pemerintah, oposisi, atau rasa takut itu sendiri? (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juni 2026)