Houthi Yaman Serang Arab Saudi, Perang Drone Kian Menggigit

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Serangan Houthi Yaman ke Arab Saudi kembali memamerkan lompatan kemampuan militer yang mengejutkan. Bandara internasional utama Riyadh dan fasilitas Aramco dihantam dari ratusan kilometer, sementara Saudi terlihat kewalahan menahan gelombang rudal dan drone.

Pemberontak Houthi yang didukung Iran dalam beberapa pekan terakhir berulang kali menyerang bandara internasional utama Arab Saudi yang berjarak ratusan mil dari Yaman. Mereka juga merebut wilayah di dalam Yaman dekat sebuah titik sempit pelayaran penting.

Dalam berbagai fase selama satu dekade terakhir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Inggris, dan Israel melakukan serangan udara besar-besaran terhadap Houthi. Namun hasilnya paradoksal, karena Houthi justru semakin kuat.

Diplomat senior Saudi menyatakan Iran mendorong eskalasi, dan Houthi menolak tawaran negosiasi pada musim panas. Houthi beroperasi di wilayah pegunungan yang luas, sehingga mereka bisa menyebar personel dan infrastruktur sambil mengancam fasilitas minyak dan jalur dagang.

Menurut PBB dan para ahli, Iran serta sekutunya di Lebanon dan Irak memberi keahlian, pelatihan, dan persenjataan canggih. Laporan terbaru menyebut Houthi mencoba mencari komponen dari pemasok China untuk membuat rudal balistik berpemandu presisi dengan jangkauan sekitar 2.000 kilometer.

Houthi telah memiliki beragam rudal balistik, rudal jelajah, dan drone yang banyak menyerupai model Iran. Senjata itu diklaim mampu menjangkau seluruh negara Teluk hingga Israel, sekaligus mengancam kapal di Laut Merah dengan rudal anti-kapal dan drone laut.

Iran membantah mempersenjatai Houthi, karena itu akan melanggar embargo PBB. China belum menanggapi langsung laporan tersebut, tetapi menyatakan kebijakan ekspor militernya “berhati-hati dan bertanggung jawab.”

Di lapangan, senjata dan komponen Iran yang diselundupkan berulang kali disita dalam pengiriman menuju Yaman. Laporan ahli PBB tahun 2024 juga mendokumentasikan hubungan militer yang luas antara Houthi, Iran, dan sekutu-sekutunya.

Laporan itu memperkirakan Houthi merekrut hingga 350.000 kombatan pada 2024, naik tajam dari sekitar 30.000 pada 2015. Tahun 2015 adalah momen ketika Saudi masuk ke perang saudara Yaman dan menerapkan blokade laut.

Keunggulan Houthi bukan hanya pada jangkauan, tetapi pada ekonomi perang. Drone dan rudal relatif murah bisa dipakai untuk memukul infrastruktur minyak Saudi dan tanker di lepas pantai, sementara Saudi harus membalas dengan pencegat berteknologi tinggi yang jauh lebih mahal.

Saudi sendiri memiliki persenjataan canggih buatan AS, termasuk pesawat dan pertahanan rudal modern. Namun, ketika stok pencegat kelas atas tertekan, pertanyaan utamanya menjadi soal daya tahan, bukan sekadar kemampuan teknis.

Tekanan itu makin besar karena ancaman tak hanya datang dari Houthi. Milisi pro-Iran di Irak juga dituding melakukan serangan yang sempat mematikan pipa timur-barat yang krusial bagi ekspor minyak.

Dalam beberapa hari terakhir, Houthi berulang kali menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Gelombang pembatalan penerbangan terjadi, dan serangan juga menyasar kantor pusat Aramco yang berjarak ratusan kilometer dari Yaman.

Dampak sipilnya nyata, sedikitnya 19 orang dilaporkan tewas dan sekolah sempat diliburkan. Gangguan ini mengancam agenda transformasi Saudi menjadi pusat global bisnis, pariwisata, dan olahraga.

Secara geografis, Saudi menghadapi kerentanan yang sulit ditutup. Aset vital tersebar di wilayah yang jarang penduduknya, luasnya sekitar tiga kali Texas, dan perbatasan dengan Yaman membentang lebih dari 1.300 kilometer melewati gurun terjal.

Serangan udara bertahun-tahun terbukti punya efek terbatas. Houthi, gerakan Syiah politik-religius dari Yaman utara, menyerang Saudi karena Riyadh mendukung pemerintah Yaman yang diakui internasional dalam perang saudara.

Saudi masuk perang pada 2015 setelah Houthi merebut sebagian besar Yaman utara termasuk Sanaa. Selama tujuh tahun berikutnya, gelombang serangan udara Saudi sering menewaskan warga sipil, tetapi garis depan nyaris tak bergerak hingga gencatan senjata 2022.

Setelah perang Gaza pecah, Houthi menyerang pelayaran Laut Merah dan menyebutnya blokade terhadap Israel. AS dan Inggris memulai gelombang serangan pada Januari 2024, lalu Donald Trump memerintahkan kampanye udara yang diperkeras, dengan sekitar 2.000 amunisi dijatuhkan ke lebih dari 1.000 target menurut pejabat militer AS kepada Associated Press.

Setelah beberapa pekan, Houthi sepakat berhenti menyerang kapal-kapal Amerika. Namun mereka tetap menarget Israel, dan Israel membalas pada 2025 dengan serangan yang menewaskan perdana menteri Houthi serta menghantam pelabuhan kunci berulang kali.

Dalam bulan-bulan awal perang Iran, Houthi relatif menahan diri. Namun pada Juli mereka melanjutkan serangan ke Saudi dan mendeklarasikan blokade atas pelayaran Saudi.

Pelajaran strategisnya konsisten: kekuatan udara jarang efektif tanpa pasukan darat yang mampu merebut dan menahan wilayah. Di Yaman, kekuatan anti-Houthi terpecah, bahkan sempat saling bertempur pada Januari, antara kubu pro-pemerintah yang didukung Saudi dan separatis selatan yang didukung UEA.

AS, yang masih tersita oleh Iran, tampak enggan terlibat lebih jauh. Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan Pakistan yang bersenjata nuklir dan Turki anggota NATO pada Agustus, tetapi bentuk bantuan nyata yang mungkin diberikan tetap kabur.

Serangan Houthi Yaman ke Arab Saudi memperlihatkan perubahan watak konflik: perang murah yang presisi melawan pertahanan mahal yang terbatas. Ini bukan hanya duel senjata, melainkan duel ketahanan logistik, biaya, dan psikologi publik.

Riyadh selama ini mengandalkan superioritas udara, tetapi Yaman adalah medan yang menelan kepastian. Ketika pegunungan memberi perlindungan, dan produksi lokal memungkinkan suplai berkelanjutan, serangan udara cenderung menjadi siklus tanpa ujung.

Di sisi lain, tuduhan peran Iran dan jejak komponen dari pemasok China menambah dimensi geopolitik yang berbahaya. Jika rantai pasok global bisa “bocor” ke konflik regional, maka embargo dan diplomasi menjadi instrumen yang makin tumpul.

Yang paling mengkhawatirkan adalah normalisasi gangguan terhadap jalur dagang Laut Merah dan fasilitas energi. Dunia mungkin tidak langsung kekurangan minyak, tetapi biaya asuransi, risiko pengiriman, dan volatilitas pasar adalah pajak tak terlihat yang dibayar semua negara.

Solusi militer murni tampak buntu, tetapi solusi politik juga rapuh karena aktor-aktor di darat terfragmentasi. Tanpa arsitektur keamanan regional yang mengikat, setiap gencatan senjata hanya menjadi jeda untuk mengisi ulang persenjataan.

Konflik Houthi Yaman dan Arab Saudi menunjukkan bahwa teknologi murah dapat mengimbangi kekuatan negara kaya, terutama ketika medan dan jaringan dukungan eksternal berpihak. Serangan ke bandara, Aramco, dan pelayaran bukan sekadar berita keamanan, melainkan sinyal rapuhnya stabilitas ekonomi yang dibangun di atas rasa aman.

Pertanyaan kuncinya bukan lagi siapa yang punya jet paling canggih, melainkan siapa yang mampu menghentikan siklus eskalasi tanpa menambah kehancuran sipil. Jika perang terus dipahami sebagai lomba pembalasan, maka kawasan akan terus hidup dalam bayang-bayang serangan berikutnya. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Oktober 2026)