Jaringan Jamur Mikoriza Bawah Tanah: Penyerap Karbon Raksasa

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Jaringan jamur mikoriza bawah tanah ternyata membentuk “sistem peredaran” tersembunyi yang memompa air, nutrisi, dan karbon tepat di bawah permukaan Bumi. Studi di jurnal Science menyebut jika seluruh filamen jamur ini disambung, panjangnya mencapai 68 kuadriliun mil, dan menyimpan sekitar 300 megaton karbon.

Di dalam tanah, arbuscular mycorrhizal fungi menempel pada akar tanaman lalu mengirim filamen tipis yang mengantar air dan hara. Pada saat yang sama, filamen itu juga “mengangkut” karbon menjauh dari tanaman dan membantu menahan sejumlah besar karbon agar tidak kembali ke atmosfer.

Lebih dari 70 persen spesies tumbuhan darat bergantung pada jamur mikoriza jenis ini untuk bertahan. Selain urusan nutrisi dan karbon, mereka juga menstabilkan tanah dan melindungi tanaman dari stres lingkungan.

Masalahnya, besarnya jaringan ini selama ini sulit dipetakan secara global. Toby Kiers dari Society for the Protection of Underground Networks (SPUN) menegaskan, kita belum tahu di mana jaringan itu sehat dan di mana ia sedang terancam.

Para peneliti mengompilasi data dari ratusan publikasi yang menganalisis lebih dari 16.000 sampel tanah di seluruh dunia. Dari sana, mereka memakai ukuran kepadatan hifa, yakni meter filamen per sentimeter kubik tanah.

Data itu kemudian dipasangkan dengan informasi kondisi lingkungan lokasi sampel untuk melatih model machine learning. Model tersebut memprediksi kepadatan jamur di banyak titik global, termasuk wilayah yang sebelumnya belum pernah disampel.

Tim juga memotret sampel jamur yang ditumbuhkan di laboratorium menggunakan robot pencitraan beresolusi tinggi buatan Thomas Shimizu dari AMOLF Institute Amsterdam. Foto-foto itu membantu menentukan lebar hifa, sehingga massa dan panjang total jaringan bisa diestimasi lebih akurat.

Hasilnya mencolok: panjang filamen global diperkirakan 68 kuadriliun mil, setara sekitar 730 juta kali jarak Bumi–Matahari. Total karbon yang tersimpan di filamen diperkirakan 300 megaton, sekitar empat hingga enam kali karbon yang terkandung dalam seluruh tubuh manusia di planet ini.

Temuan lain yang tak kalah penting adalah “peta panas” kepadatan jaringan yang paling tinggi berada di padang rumput. Titik panas yang disebutkan mencakup Florida Everglades, lahan basah Sudd di Sudan Selatan, dan stepa Tibet.

Ini memperkuat bukti bahwa padang rumput adalah penyerap karbon besar, namun sering kalah pamor dari hutan dalam kebijakan konservasi. Liz Koziol dari University of Kansas menyebut kerja menyandingkan set data global ini luar biasa, dan peta panasnya “menakjubkan” untuk dilihat.

Studi juga menemukan kepadatan jaringan sekitar 50 persen lebih rendah pada tanah pertanian dibanding non-lahan pertanian. Namun peneliti mengakui masih perlu riset lanjutan untuk mengaitkan praktik budidaya tertentu dengan kesehatan mikoriza.

Di sisi lain, peneliti menekankan adanya ketidakpastian yang cukup besar, terutama karena beberapa wilayah seperti lahan kering masih kurang dipelajari. Kekosongan data ini berisiko membuat kebijakan berbasis bukti menjadi timpang, karena peta global hanya setajam data yang masuk ke dalamnya.

Keyword “jaringan jamur mikoriza bawah tanah” seharusnya mengubah cara kita mendefinisikan konservasi, dari sekadar lanskap yang tampak menjadi infrastruktur yang bekerja diam-diam. Jika padang rumput terus diperlakukan sebagai lahan cadangan untuk ekspansi, kita sedang melemahkan salah satu mesin penyerapan karbon yang paling luas.

Pernyataan Kiers, “People just aren’t paying attention to these ecosystems,” terasa seperti kritik terhadap bias visual dalam kebijakan lingkungan. Kita melindungi yang mudah difoto, tetapi mengabaikan yang tak kasatmata meski menopang 70 persen lebih tumbuhan darat.

Penurunan sekitar 50 persen kepadatan mikoriza di lahan pertanian adalah alarm, bukan vonis. Ia mengisyaratkan bahwa intensifikasi bisa menggerus kesehatan tanah, tetapi juga membuka peluang: praktik pertanian regeneratif dapat diuji bukan hanya lewat hasil panen, melainkan juga lewat pulihnya jaringan mikoriza.

Namun kita juga perlu waspada pada euforia angka “68 kuadriliun mil” yang mudah viral. Nilai jurnalistiknya bukan sekadar rekor, melainkan peta yang menunjukkan di mana fungsi ekologis bekerja dan di mana ia mulai rapuh.

Studi di Science ini memberi kita kompas baru untuk membaca Bumi: bukan hanya tutupan hijau di permukaan, tetapi denyut jaringan di bawahnya. Jika jaringan jamur mikoriza bawah tanah adalah infrastruktur karbon, maka merusaknya sama dengan membongkar fondasi rumah saat kita masih tinggal di dalamnya.

Kiers mengingatkan, “once they’re gone, they’re very hard to bring back,” dan itu seharusnya menjadi prinsip kehati-hatian dalam tata guna lahan. Pertanyaannya kini sederhana namun menohok: apakah kebijakan iklim kita berani melindungi yang tak terlihat, sebelum ia hilang dan tak bisa dipulihkan lagi?

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)