Asa'aro Lahagu: Denny Indrayana dan Refly Harun Terus "Menghabisi" Gibran Sampai Kiamat
Oleh Asa'aro Lahagu
ORBITINDONESIA.COM - Ada orang yang kalau kalah sekali, pulang untuk introspeksi. Ada yang kalah dua kali, belajar strategi. Ada pula yang kalau kalah berkali-kali, justru menjadikan kekalahan sebagai profesi seumur hidup. Itulah Denny Indrayana dan Refly Harun.
Sudah berapa kali keduanya kalah dalam gugatan di Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi?
Denny dan Refly kelihatannya sudah menjadikan julukan kalah sebagai profesi mereka. Tragisnya, mereka kalah saat berhadapan dengan Gibran-Jokowi. Umur boleh bertambah dan panggung boleh pindah, tetapi sasaran tembak tetap sama: Gibran dan Jokowi.
Denny Indrayana dan Refly Harun tampaknya belum menemukan obat yang cocok untuk penyakit politik bernama Gibran. Setiap kali nama anak Jokowi itu muncul, tensi politik sebagian orang ikut naik.
Gibran belum tentu sedang berbuat apa-apa, tetapi namanya sudah lebih dulu membuat suasana gaduh. Hebat juga. Ada politisi yang sibuk membangun pengaruh, ada yang sibuk mengukur pengaruh orang lain. Yang kedua ini melelahkan, terutama kalau pengaruh orang yang diukur tak kunjung menyusut.
Masalahnya, Gibran bukan sekadar wakil presiden. Ia adalah kemungkinan politik yang membuat sebagian lawannya susah tidur. Periode 2024–2029 saja belum selesai, tetapi kalkulator politik sudah bekerja lembur.
Kalau Gibran kembali menjadi wapres pada 2029–2034, lalu berpeluang menjadi presiden untuk dua periode pada 2034–2044, pengaruhnya secara teoritis bisa bertahan sampai 18 tahun sejak sekarang.
Tentu saja, itu skenario politik, bukan surat keputusan dari langit. Pemilu masih ada, rakyat masih punya suara, dan sejarah tidak pernah menandatangani kontrak untuk siapa pun.
Tetapi justru di situlah letak kecemasannya. Bagi lawan politik yang menganggap Jokowi sebagai sumber segala masalah, Gibran bukan hanya orang yang harus dikritik. Ia adalah simbol kesinambungan kekuasaan yang harus diputus. Segala cara akan ditempuh untuk menghentikannya.
Setiap kemunculan Gibran dianggap ancaman, dan setiap kemungkinan masa depan Gibran diperlakukan seperti bencana nasional.
Namun di sini pertanyaannya. Sebenarnya siapa yang sedang mengendalikan agenda politik siapa? Gibran yang membuat lawan-lawannya sibuk, atau lawan-lawannya yang tanpa sadar membuat Gibran terus menjadi pusat perhatian?
Inilah ironi politik yang paling menggelitik. Seseorang bisa begitu sibuk berusaha menjatuhkan lawannya sampai lupa membangun sesuatu yang membuat dirinya sendiri layak dipilih.
Ia hafal nama musuh, rajin menghitung peluang lawan, tetapi lupa menghitung berapa banyak rakyat yang benar-benar menunggu kepulangannya ke panggung.
Dalam politik, musuh terbesar seorang tokoh belum tentu lawannya. Kadang-kadang, musuh terbesarnya adalah ketika dia terlalu sibuk membicarakan sang lawan.
Sebab, setiap kali nama Gibran kembali menjadi bahan utama, ada kemungkinan sederhana yang luput disadari: mereka sedang berusaha mengakhiri panggung Gibran, tetapi justru ikut membayar ongkos promosi panggung itu. Gratis pula. Tanpa kontrak iklan. Tanpa perlu diminta. Dan yang paling menyakitkan, mungkin tanpa sadar.
Gibran memang sangat menakutkan. Ia menjadi momok bagi pihak yang haus kekuasaan. Anak muda hebat yang bisa menjadi wakil presiden.
Berkat keberadaannya, Prabowo bisa menang. Padahal, fakta sebelumnya, Prabowo 3 kali nyapres/nyacawapres selalu kalah. Begitu Gibran ikut mendampingi, Prabowo menang. Berarti Gibranlah pemenangnya. Dan oleh karena itu, dia harus terus dihabisi sampai kiamat.
Seruput kopi pahit. ***