Sido Muncul C+Collagen di TikTok ForYouBeauty: Jamu Masuk Tren Wellness

supernews.co.id

supernews.co.id

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – TikTok ForYouBeauty 2026 di Senayan City mendadak jadi panggung “beauty from within” saat Sido Muncul C+Collagen mencuri perhatian di antara brand skincare dan makeup. Kata kuncinya jelas: kolagen, vitamin C, dan wellness Gen Z yang kini lebih percaya pada nutrisi daripada sekadar polesan.

Masuknya Sido Muncul ke arena TikTok ForYouBeauty menandai pergeseran identitas dari jamu tradisional menuju produk suplemen gaya hidup. Publik lama mengenalnya lewat Tolak Angin, tetapi publik baru menuntut bahasa yang lebih modern dan visual.

Di sisi lain, industri kecantikan sedang bergeser dari janji instan ke rutinitas berkelanjutan. Skincare tetap penting, tetapi narasi “rawat dari dalam” makin dominan di kota-kota besar yang penuh polusi dan stres.

Konteksnya juga demografis, karena Gen Z dan milenial muda menjadi pasar paling bising sekaligus paling sensitif terhadap tren. Mereka tidak hanya membeli produk, tetapi membeli pengalaman, komunitas, dan cerita yang bisa dibagikan.

Booth C+Collagen tampil sebagai mesin perhatian, dengan warna pink, mirror selfie, dan sesi coba rasa yang sengaja dibuat ramah kamera. Strategi ini memanfaatkan logika TikTok: konten dulu, transaksi kemudian.

Dari kacamata pemasaran, ini adalah reposisi merek yang rapi: Sido Muncul tidak membuang warisan jamu, tetapi mengalihkan fokus ke “wellness modern” yang lebih mudah diterima. Kehadiran di event beauty membuat produk kolagen terasa setara dengan serum dan sunscreen, bukan sekadar minuman kesehatan.

Program Two Weeks Challenge memperkuat pola konsumsi berbasis kebiasaan, bukan pembelian sekali coba. Dua minggu adalah durasi yang cukup pendek untuk terasa realistis, tetapi cukup panjang untuk menciptakan rutinitas dan efek psikologis “sudah terlanjur konsisten”.

Beberapa pengunjung mengaku awalnya heran melihat Sido Muncul di section beauty, lalu berubah penasaran setelah mencoba. Navia (27) berkata, “Ini pertama kali coba, rasanya enak… aku tahunya Sido Muncul Tolak Angin, terus ini apa, menarik.”

Aya (34) menautkan keputusan konsumsi pada realitas urban, terutama polusi dan paparan matahari Jakarta. Ia menilai perawatan luar saja tidak cukup, dan memilih yang praktis karena ritme kerja tidak memberi ruang untuk ritual rumit.

Secara ilmiah, kolagen adalah protein struktural utama pada kulit, sementara vitamin C berperan dalam sintesis kolagen dan bertindak sebagai antioksidan. Literatur dermatologi juga mencatat bahwa paparan polusi dan sinar UV berkaitan dengan stres oksidatif yang mempercepat penuaan kulit, meski hasil tiap individu tetap bervariasi.

Namun, tren “kolagen untuk semua” juga membawa risiko simplifikasi, karena suplemen bukan pengganti tidur cukup, pola makan seimbang, dan proteksi UV. Tantangannya adalah memastikan edukasi tidak kalah keras dari promosi, agar konsumen tidak membeli harapan tanpa konteks.

Di titik ini, harga dan akses menjadi penentu yang sering diabaikan dalam industri beauty. Hilwa (23) menegaskan daya tariknya ada pada “lebih murah, praktis tinggal seduh,” serta tambahan vitamin yang terasa relevan untuk pemula.

Sido Muncul membaca satu hal yang sering luput dari brand besar: Gen Z tidak alergi pada produk “lama”, mereka alergi pada cara bicaranya. Ketika jamu diterjemahkan menjadi wellness yang estetik, yang terjadi bukan pengkhianatan tradisi, melainkan modernisasi kanal dan bahasa.

Tetapi keberhasilan di event seperti TikTok ForYouBeauty juga menunjukkan betapa industri kecantikan makin bergantung pada performa visual. Produk yang baik tetap butuh panggung yang fotogenik, dan itu bisa menggeser fokus dari substansi ke sensasi.

Karena itu, Two Weeks Challenge seharusnya dibaca sebagai strategi disiplin, bukan sekadar gimmick. Jika tantangan ini mendorong kebiasaan sehat yang lebih luas, ia bernilai, tetapi jika hanya memproduksi FOMO, ia sekadar memindahkan impuls belanja ke format baru.

Kisah Sido Muncul C+Collagen di TikTok ForYouBeauty 2026 memperlihatkan bahwa “kecantikan” kini adalah pertemuan antara nutrisi, identitas, dan budaya digital. Di kota yang melelahkan, janji praktis sering terasa seperti penyelamat kecil.

Namun, pertanyaan yang tersisa bukan hanya “produk apa yang diminum,” melainkan “kebiasaan apa yang dibangun” setelah hype padam. Jika perawatan dari dalam dipahami sebagai disiplin hidup, bukan jalan pintas, barulah tren wellness benar-benar punya makna. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juni 2026)