NASA Tambah Misi SpaceX, Antisipasi Starliner Boeing Tak Tersertifikasi

ORBITINDONESIA.COM – NASA menambah misi SpaceX dalam kontrak commercial crew untuk menjaga akses Amerika ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Langkah ini sekaligus menjadi pagar pengaman jika Starliner Boeing tak pernah lolos sertifikasi untuk penerbangan berawak ke ISS.

Dalam dokumen pengadaan tertanggal 18 Mei, NASA menyatakan niat menambahkan enam misi pasca-sertifikasi (post-certification missions/PCM) ke kontrak SpaceX dengan skema penunjukan langsung (sole-source). NASA juga menyebut dapat memesan hingga tiga misi sekaligus saat penambahan dilakukan, agar persiapan formal segera dimulai.

Terjemahan inti pernyataan NASA berbunyi: “Perlu memberikan PCM tambahan kepada SpaceX mengingat durasi misi ISS yang baru dipersingkat, persoalan teknis dan keterlambatan jadwal yang dialami Boeing, pembagian misi antara Boeing dan SpaceX, proyeksi NASA kapan sistem transportasi kru alternatif tersedia, serta tantangan teknis berkelanjutan untuk menjaga kemampuan transportasi kru yang andal bagi penerbangan berawak ke ISS.” Kalimat ini menegaskan satu hal yang jarang diucapkan terang-terangan: NASA sedang mengelola risiko kegagalan pemasok.

NASA terakhir mengubah kontrak SpaceX pada 2022 dengan menambah lima misi senilai 1,4 miliar dolar AS. Perpanjangan itu membawa kontrak hingga misi Crew-14, sementara Crew-12 disebut sedang berada di ISS.

Fakta paling menentukan adalah SpaceX kini menjadi satu-satunya sistem transportasi kru (crew transportation system/CTS) yang tersertifikasi NASA untuk menuju ISS. Ketika hanya ada satu penyedia yang siap operasional, “kompetisi” berubah menjadi “ketergantungan,” dan ketergantungan selalu mahal secara strategis.

Di sisi lain, CST-100 Starliner milik Boeing belum tersertifikasi untuk penerbangan berawak. Artikel sumber menyebut penerbangan kargo saja, Starliner-1, diperkirakan terjadi tahun ini, namun tidak muncul dalam manifes misi kru dan kargo NASA yang dirilis awal bulan tersebut.

NASA dan Boeing juga mengubah kontrak pada November 2024 dengan mengurangi jumlah misi dari enam menjadi empat, termasuk Starliner-1, dengan opsi dua misi tambahan. Ini bukan sekadar penyesuaian administrasi, melainkan sinyal bahwa jadwal dan kesiapan teknis Starliner belum dapat dijadikan fondasi rotasi kru ISS.

NASA sempat merencanakan perpanjangan durasi rotasi kru dari enam menjadi delapan bulan. Rencana itu akan mengurangi kebutuhan penerbangan dari empat menjadi tiga misi tiap dua tahun, namun NASA menyatakan pada pengarahan 11 Mei bahwa mereka kembali ke misi enam bulan.

Dengan menambah enam misi, NASA menutup kebutuhan operasi ISS selama tiga tahun dengan ritme satu misi tiap enam bulan. Jika misi yang sudah dikontrak berjalan hingga Crew-14 pada musim gugur 2027, tambahan ini memperpanjang cakupan sampai akhir 2030, bertepatan dengan rencana pensiun ISS.

NASA sebelumnya juga menyatakan misi berawak terakhir kemungkinan akan tinggal selama satu tahun di stasiun. Itu berarti fase penutupan ISS menuntut stabilitas logistik yang lebih tinggi, bukan lebih rendah, karena kesalahan pada periode akhir akan berdampak langsung pada keselamatan kru dan rencana deorbit.

Keputusan NASA menambah misi SpaceX tampak seperti langkah pragmatis, namun menyimpan dilema kebijakan publik. NASA melindungi kontinuitas akses ke ISS, tetapi sekaligus mengunci posisi SpaceX sebagai “satu-satunya pintu,” yang mengurangi daya tawar pemerintah dalam harga, jadwal, dan prioritas teknis.

Sole-source sering dibenarkan dalam keadaan darurat operasional, dan ISS memang tidak bisa menunggu. Namun ketika keadaan darurat menjadi pola berulang, publik berhak bertanya apakah program Commercial Crew masih memenuhi janji awalnya, yaitu redundansi dua penyedia agar kegagalan satu pihak tidak melumpuhkan Amerika di orbit rendah Bumi.

Boeing bukan sekadar kontraktor, melainkan simbol kapasitas industri kedirgantaraan tradisional AS. Jika Starliner terus tertunda atau gagal tersertifikasi, dampaknya bukan hanya pada ISS, tetapi juga pada arsitektur pengadaan NASA yang selama ini mengandalkan kompetisi untuk menekan biaya dan meningkatkan keandalan.

Dari sudut pandang manajemen risiko, NASA tampaknya memilih “asuransi” yang paling tersedia, yaitu menambah misi SpaceX. Dari sudut pandang tata kelola, pilihan ini memperlihatkan betapa rapuhnya strategi ketika satu program besar bergantung pada sertifikasi yang tak kunjung selesai.

NASA sedang mengamankan kursi menuju ISS dengan menambah enam misi SpaceX, sambil mengantisipasi ketidakpastian Starliner Boeing. Langkah ini memastikan rotasi kru tetap berjalan hingga mendekati pensiun ISS pada 2030, tetapi juga menegaskan ketergantungan yang makin dalam pada satu penyedia.

Pertanyaannya kini bukan hanya kapan Starliner tersertifikasi, melainkan apakah NASA masih punya waktu untuk memulihkan redundansi sebelum ISS ditutup. Jika stasiun luar angkasa adalah laboratorium bagi sains, maka kebijakan pengadaannya adalah laboratorium bagi pelajaran yang lebih keras: kemandirian tidak lahir dari niat, tetapi dari sistem yang benar-benar bekerja. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Mei 2026)