Alika Islamadina Jalani Gaya Hidup Sehat Usai Jadi Caregiver Ibu
ORBITINDONESIA.COM – Alika Islamadina menjadikan pengalaman merawat ibunya yang mengidap kanker ginjal sebagai titik balik gaya hidup sehat. Ia kini menekankan pola makan sehat dan olahraga rutin, bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk anaknya.
Kisah Alika berangkat dari peran sebagai caregiver pada 2013-2014, saat ia masih kuliah dan harus ikut mengelola emosi keluarga. Dalam situasi itu, ia menyadari kesehatan bukan sekadar urusan pribadi, melainkan urusan seluruh rumah.
Di Indonesia, kanker ginjal memang tidak sepopuler kanker payudara atau paru, tetapi risikonya nyata dan sering terlambat terdeteksi. Banyak orang baru mengubah kebiasaan setelah krisis datang, ketika tubuh atau keluarga sudah memberi “alarm” keras.
Alika menyebut dorongan perubahan itu sederhana tetapi tegas: “Sedini mungkin dengan gaya hidup yang sehat ini.” Ia lalu mempraktikkan langkah yang paling mungkin dilakukan sehari-hari, yaitu mengurangi makanan tertentu dan memperbaiki kebiasaan makan.
Pernyataannya tentang “mengurangi beberapa makanan” terdengar umum, tetapi justru mencerminkan realitas banyak keluarga urban. Perubahan gaya hidup sering dimulai dari keputusan kecil di dapur, bukan dari resolusi besar yang sulit dipertahankan.
Ia juga menautkan kesehatan dengan konsistensi aktivitas fisik: “Bagaimana caranya biar terjaga pola hidup, terus olahraga, makan-makanan yang lebih sehat.” Di sini, olahraga diposisikan bukan sebagai tren, melainkan sebagai mekanisme menjaga ritme hidup agar tidak kembali ke pola lama.
Dari sisi kesehatan publik, pola makan tinggi gula, garam, dan lemak serta kurang gerak berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular. WHO mencatat penyakit tidak menular menyumbang sekitar 74% kematian global, dan faktor gaya hidup adalah pemicunya yang paling sering luput disadari.
Pengalaman menjadi caregiver juga punya dimensi lain, yaitu beban mental dan fisik yang jarang dibicarakan selebritas secara terbuka. Banyak caregiver berhadapan dengan kelelahan emosional, penurunan produktivitas, serta rasa bersalah bila tidak mampu “selalu kuat” setiap saat.
Kekuatan cerita Alika bukan pada sensasi penyakit, melainkan pada perubahan perilaku setelah menyaksikan rapuhnya tubuh manusia. Ia tidak menjual ketakutan, tetapi menegaskan bahwa kesehatan adalah proyek jangka panjang yang harus dimulai “sedini mungkin.”
Namun, narasi gaya hidup sehat juga perlu dibaca kritis agar tidak menjadi moralitas baru yang menyalahkan individu. Tidak semua orang punya akses yang sama terhadap makanan segar, waktu olahraga, atau layanan kesehatan, sehingga “hidup sehat” sering kali juga soal privilese.
Di titik ini, kisah Alika relevan sebagai inspirasi, tetapi juga sebagai pengingat tentang tanggung jawab sosial yang lebih luas. Jika caregiver dan keluarga pasien dibiarkan berjalan sendiri, maka perubahan gaya hidup akan terasa seperti beban tambahan, bukan jalan keluar.
Pada akhirnya, Alika Islamadina menunjukkan bahwa merawat orang sakit bisa mengubah cara seseorang merawat dirinya sendiri. Ia memilih memperbaiki pola makan dan menjaga olahraga, sambil menanamkan kebiasaan yang lebih sehat pada anaknya.
Pertanyaannya, berapa banyak dari kita yang baru bergerak setelah krisis datang, lalu menyesal karena terlambat. Mungkin yang paling mendesak bukan mencari motivasi besar, tetapi berani memulai langkah kecil hari ini, sebelum tubuh memaksa kita berhenti. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Agustus 2026)