Gugatan Joe Biden soal Rekaman Audio, FOIA, dan Privasi Memoar

NBC News

NBC News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Gugatan Joe Biden terhadap Departemen Kehakiman AS (DOJ) meledak di tengah sorotan publik soal rekaman audio dan transkrip percakapan pribadinya dengan penulis bayangan memoar 2017. Ia meminta hakim federal memblokir rilis dokumen yang dipicu permintaan Freedom of Information Act (FOIA) dari Heritage Foundation, yang dijadwalkan terbuka pada 15 Juni.

Mantan Presiden Joe Biden menggugat DOJ pada Selasa, mendesak hakim federal untuk menghentikan rilis rekaman audio dan transkrip percakapan pribadinya dengan penulis bayangan memoarnya pada 2017. Percakapan itu terjadi saat ia dan Mark Zwonitzer menulis “Promise Me, Dad: A Year of Hope, Hardship, and Purpose.”

Gugatan ini berakar pada permintaan FOIA tahun 2024 dari Heritage Foundation, lembaga konservatif yang kemudian menggugat untuk memperoleh materi tersebut. DOJ sebelumnya menahan dokumen dengan alasan termasuk pengecualian yang tidak wajib dibuka ke publik.

Namun pada masa jabatan kedua Presiden Donald Trump, pengacara Biden, Amy Jeffress, menyatakan DOJ “membalikkan posisi” itu. Pada Februari, tanpa penjelasan formal, DOJ memberi tahu Biden bahwa mereka berniat menyerahkan rekaman dan transkrip kepada penggugat FOIA.

Pada 5 Mei, Kantor Wakil Jaksa Agung mengabarkan keputusan final untuk merilis materi dengan redaksi terbatas kepada pihak Heritage dan juga ke Kongres pada 15 Juni. Tanpa intervensi pengadilan, rilis itu akan berjalan sesuai jadwal.

Dalam percakapan dengan Zwonitzer dan di memoarnya, Biden menuturkan periode sejak libur Thanksgiving 2014, masa yang disebutnya paling menentukan secara politik dan paling menyakitkan secara personal. Biden berargumen informasi personal semacam itu dikecualikan dari kewajiban keterbukaan menurut FOIA.

Jeffress menegaskan setiap warga Amerika, termasuk wakil presiden yang sedang atau pernah menjabat, memiliki hak privasi atas percakapan pribadi di rumahnya. Intinya, gugatan ini menempatkan FOIA berhadap-hadapan dengan batas privat yang tidak otomatis menjadi konsumsi publik.

Heritage Foundation mencari semua catatan yang dipakai mantan jaksa khusus Robert Hur untuk menulis bagian tertentu dalam laporan 2023 soal penanganan dokumen rahasia oleh Biden. Laporan itu menggambarkan Biden “sangat lambat secara menyakitkan,” kesulitan mengingat peristiwa, dan kadang kesulitan membaca serta menyampaikan catatan notebook miliknya.

Rekaman wawancara Hur dengan Biden tentang dokumen rahasia yang masih berada padanya setelah masa wakil presiden mengonfirmasi adanya jeda ingatan, yang sebelumnya dibantah pejabat Gedung Putih. Meski begitu, Hur memilih tidak mengajukan dakwaan pidana terhadap Biden.

Respons DOJ atas gugatan Biden mengandung pesan politik yang tajam, bukan sekadar argumen prosedural. Seorang juru bicara menyatakan pemerintahan sebelumnya “berusaha menyembunyikan rekaman audio yang jelas menunjukkan penurunan signifikan kemampuan kognitifnya sejak 2016.”

Juru bicara itu juga menyebut DOJ saat ini sebagai “yang paling transparan dalam sejarah” dan akan berjuang agar publik bisa mendengar rekaman tersebut dan menarik kesimpulan sendiri tentang ketajaman mental Biden sebelum ia maju menjadi presiden. Di titik ini, FOIA berubah dari instrumen akuntabilitas menjadi arena perebutan narasi tentang kelayakan seorang tokoh nasional.

Trump ikut menanggapi di Truth Social dengan menyebut Biden sebagai “politisi curang.” Zwonitzer belum memberikan komentar saat dimintai tanggapan.

Kasus ini menunjukkan bagaimana “keterbukaan” dapat menjadi senjata yang selektif, terutama ketika yang dipertaruhkan adalah citra dan legitimasi politik. Jika rekaman itu memang memuat detail personal di ruang privat, publik pantas bertanya apakah kepentingan umum benar-benar mengalahkan hak privasi.

Namun argumen privasi juga tidak boleh menjadi selimut untuk menutupi fakta yang relevan bagi penilaian publik tentang kepemimpinan, apalagi terkait kapasitas kognitif. Di sinilah garisnya kabur: antara gosip yang menggerogoti martabat manusia dan informasi yang sah untuk menilai pejabat publik.

Perubahan sikap DOJ, dari menahan menjadi merilis, menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi penegakan FOIA lintas pemerintahan. Ketika kebijakan bergeser mengikuti angin politik, kepercayaan pada institusi hukum ikut tergerus.

Jika rilis juga ditujukan ke Kongres, konsekuensinya bukan hanya media, tetapi juga potensi eskalasi investigasi dan panggung dengar pendapat. Publik akhirnya bukan sekadar “mendengar rekaman,” tetapi menyaksikan bagaimana hukum dipakai untuk mengunci atau membuka pintu reputasi.

Gugatan Joe Biden terhadap DOJ menempatkan rekaman audio, FOIA, dan privasi pada satu simpul yang sulit dipisahkan. Putusan pengadilan akan menjadi penentu, apakah percakapan rumah tangga seorang pemimpin dapat diperlakukan sebagai dokumen publik ketika diminta oleh kelompok politik.

Pada akhirnya, transparansi yang sehat bukanlah sekadar membuka semua hal, melainkan membuka yang relevan dan melindungi yang manusiawi. Pertanyaan yang tersisa untuk publik Amerika adalah sederhana namun berat: kapan hak untuk tahu berubah menjadi hasrat untuk menghukum melalui rekaman?

(Orbit dari berbagai sumber, 3 Juni 2026)