Review Vivo X300 Ultra: Kamera 35mm, Ultrawide 14mm, dan Tele 85mm

detikInet

detikInet

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Review Vivo X300 Ultra langsung memancing debat karena Vivo menggeser “kamera utama” dari pakem 23mm ke lensa 35mm f/1.9 dengan sensor 1/1.2 inci. Keputusan ini terasa seperti pesan terbuka bahwa Vivo ingin ponsel ini dibaca sebagai alat fotografi, bukan sekadar ponsel dengan kamera.

Selama bertahun-tahun, standar kamera utama ponsel berada di kisaran ekuivalen 23–24mm karena dianggap paling aman untuk semua orang. Vivo X300 Ultra justru memindahkan titik “normal” ke 35mm, lalu menutup kebutuhan sudut lebar lewat ultrawide 14mm yang sensornya besar.

Di atas kertas, modulnya terdengar tidak biasa: ultrawide 14mm f/2 dengan sensor 1/1.28 inci, kamera utama 35mm f/1.9 sensor 1/1.2 inci, dan telefoto 85mm f/2.7 sensor 1/1.4 inci. Ini bukan sekadar angka, karena ukuran sensor menentukan detail, rentang dinamis, dan ketahanan di kondisi minim cahaya.

Vivo juga menambah aksesori telephoto extender hingga ekuivalen sekitar 400mm, plus grip, seolah mengundang pengguna memotret seperti memakai kamera. Namun strategi “mendekati kamera” selalu punya risiko: ergonomi, kecepatan proses, dan konsistensi hasil harus ikut naik kelas.

Keunggulan paling terasa dari konfigurasi ini adalah pemerataan kualitas antar modul. Penulis review menilai hasil 14mm, 35mm, dan 85mm di Vivo X300 Ultra tidak terpaut jauh, berbeda dari banyak flagship lain yang biasanya “terbaik di 1x” lalu menurun pada ultrawide.

Pilihan ultrawide 14mm dengan sensor 1/1.28 inci adalah sinyal serius, karena ultrawide biasanya menjadi titik lemah ponsel. Dalam pengujian, detail pusat foto disebut bagus, sementara tepi sedikit menurun, dan itu lazim karena desain optik ultralebar sangat sulit dibuat tajam dari ujung ke ujung.

Yang menarik, Vivo memberi jalan pintas untuk sudut 23mm atau 28mm lewat digital zoom atau cropping dari ultrawide. Ini bertaruh pada kualitas sensor besar, karena cropping yang “layak pakai” hanya mungkin jika data awalnya kaya detail dan minim noise.

Kamera utama 35mm f/1.9 diposisikan sebagai modul terbaik, dan secara praktik memang paling serbaguna untuk street dan keseharian. Review menyebut kualitas saat di-zoom ringan ke sekitar 50mm masih kuat, dan ini menantang kebiasaan ponsel lain yang sering mengandalkan crop 2x dari lensa utama.

Di sisi estetika, 35mm juga punya reputasi klasik sebagai “lensa serba bisa” sejak era film, karena perspektifnya natural dan tidak terlalu mendistorsi wajah. Bokeh alami pun lebih mudah muncul ketika jarak subjek dekat, apalagi dengan bukaan f/1.9 dan sensor besar.

Telefoto 85mm dengan sensor 1/1.4 inci menegaskan fokus Vivo pada portrait, karena 85mm adalah focal length favorit untuk wajah. Review menyebut 85mm bisa didorong hingga sekitar 135mm untuk close-up, meski kualitas akan turun saat semakin jauh seperti 230mm ke atas.

Ekstender telefoto 4.7x gen2 ultra membawa ponsel ke wilayah yang jarang disentuh smartphone, yaitu ekuivalen sekitar 400mm. Namun konsekuensinya jelas: tampilan lebih shaky karena panjang fokus ekstrem, dan detail turun di kondisi gelap karena cahaya yang masuk berkurang.

Dari sisi pemrosesan, Vivo terlihat mengandalkan computational photography yang berat. Indikasinya adalah jeda lebih lama saat meninjau hasil foto, sesuatu yang terasa janggal untuk ponsel kelas atas dengan harga Rp 25.999.000 hingga Rp 29.999.000.

Vivo dan Zeiss menawarkan profil warna “jelas, alami, halus” yang memberi kontrol karakter gambar tanpa harus mengedit banyak. Vivo juga mengganti mode “humanistik” menjadi mode street photography dengan tampilan milimeter, plus simulasi film yang lebih realistis dibanding mode Foto standar.

Vivo X300 Ultra tampak seperti upaya mengubah cara orang memotret dengan ponsel, dari “serba lebar” menjadi “lebih terarah.” Memusatkan kamera utama di 35mm membuat pengguna dipaksa berpikir komposisi, jarak, dan momen, bukan sekadar mengandalkan sudut lebar untuk menampung semuanya.

Namun keberanian desain harus dibayar dengan pengalaman pakai yang tanpa kompromi, dan di sini ada celah. Jika waktu proses terasa lambat, maka momen street yang cepat justru bisa lolos, padahal ponsel ini jelas membidik street photography.

Catatan lain yang lebih sensitif adalah portrait yang kadang terlihat “terdandani,” dengan bentuk wajah dan mata terasa berubah. Ini membuka pertanyaan etis kecil: ketika kamera makin pintar, apakah ia sedang merekam realitas, atau memproduksi versi ideal yang disukai algoritma?

Ekstender telefoto juga menunjukkan paradoks inovasi aksesori. Ia memperluas kemungkinan satwa, olahraga, dan konser, tetapi kuncian yang terasa kurang erat serta penurunan detail di gelap membuatnya lebih cocok sebagai alat khusus, bukan solusi harian.

Meski begitu, arah besarnya jelas: Vivo ingin menyatukan tiga lensa “serius” dengan kualitas relatif merata. Ini menggeser persaingan dari sekadar megapiksel menjadi konsistensi optik dan pengalaman fotografi yang lebih dekat ke kamera.

Review Vivo X300 Ultra menunjukkan ponsel ini bukan flagship biasa, karena ia menukar kenyamanan standar 23mm dengan karakter 35mm yang lebih fotografis. Dengan ultrawide 14mm bersensor besar, telefoto 85mm yang kuat untuk portrait, dan opsi ekstender hingga 400mm, Vivo menawarkan paket yang terasa seperti sistem kamera mini.

Tetapi inovasi tidak cukup jika ritme pemrosesan melambat dan portrait kadang terlalu “mempercantik.” Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan hanya “seberapa tajam hasilnya,” melainkan “seberapa jujur kamera ini pada momen yang kita alami.”

Jika ponsel makin mirip kamera, maka pengguna pun diajak naik kelas: memilih focal length, memahami cahaya, dan menerima bahwa tidak semua hasil harus sempurna. Barangkali di situlah nilai Vivo X300 Ultra, sebagai pengingat bahwa fotografi selalu tentang keputusan, bukan sekadar teknologi. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juni 2026)