Vaseline Gandeng JENNIE: Body Care Naik Kelas Jadi Beauty Utama

ContentGrip

ContentGrip

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Vaseline menggandeng JENNIE BLACKPINK sebagai Global Ambassador body care, dan langkah ini menandai perubahan besar: body care tidak lagi sekadar pelengkap skincare. Kolaborasi Vaseline x JENNIE menegaskan arah baru pemasaran kecantikan, ketika ritual harian, wellness, dan “healthy-looking skin” dijual sebagai identitas, bukan hanya manfaat produk.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 Juni 2026)

Selama bertahun-tahun, kategori body care diposisikan fungsional: melembapkan, mencegah kering, selesai. Namun lanskap beauty berubah, karena konsumen kini menuntut perawatan tubuh yang terasa premium, personal, dan selaras dengan gaya hidup.

Di titik inilah Vaseline menempatkan JENNIE sebagai wajah untuk rangkaian Gluta-Hya dan Pro Derma, dengan narasi percaya diri dan ekspresi diri. Brand ingin body care dibaca sebagai bagian inti rutinitas modern, sejajar dengan skincare wajah dan haircare.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 Juni 2026)

Vaseline menjelaskan kampanye JENNIE akan menonjolkan ritual body care sehari-hari, hidrasi, dan rasa percaya diri. JENNIE juga menyebut kebiasaannya seperti sauna, cold plunge, dan penggunaan lotion pelembap untuk menjaga kulit tetap terhidrasi, serta menyorot Gluta-Hya karena terasa ringan dan tidak lengket.

Pola ini mengikuti tren marketing kecantikan yang makin menuntut “bukti hidup”, bukan sekadar poster selebritas. Konsumen Gen Z dan Milenial cenderung merespons ketika figur publik menunjukkan kebiasaan yang bisa ditiru, bukan hanya menyebut klaim produk.

Fernando Kahane, Global Brand VP Vaseline, menyatakan kolaborasi ini sejalan dengan komitmen Vaseline menggabungkan keahlian body care yang tepercaya dengan inovasi berorientasi performa. Pernyataan itu penting, karena Vaseline adalah merek heritage yang kini harus tampil relevan di era konten cepat dan persaingan brand baru.

Secara industri, body care sedang naik kelas karena dorongan wellness dan self-care yang makin dominan dalam budaya populer. Artikel juga menekankan pendorong lain: tren “body glow” di media sosial, meningkatnya minat pada hidrasi dan skin barrier, serta retailer yang memberi ruang rak lebih besar untuk inovasi body care.

Dari sisi strategi, penggunaan global ambassador membantu konsistensi pesan lintas pasar, dari Asia hingga Amerika Utara dan Eropa. JENNIE memberi jangkauan global sekaligus kredibilitas lintas komunitas musik, fashion, luxury, dan beauty, yang membuat kampanye mudah menembus batas kategori.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 Juni 2026)

Kolaborasi Vaseline x JENNIE menunjukkan bahwa “cultural influence” kini setara pentingnya dengan reach. Brand tidak hanya membeli audiens, tetapi membeli kemampuan figur publik untuk mengarahkan percakapan dan membentuk standar estetika tentang kulit sehat.

Namun ada risiko yang jarang dibahas: body care bisa terjebak menjadi “performance of wellness”, sekadar simbol gaya hidup, bukan kebutuhan kesehatan kulit yang realistis. Ketika ritual seperti sauna dan cold plunge dijadikan narasi utama, publik bisa mengira hasil kulit ideal selalu menuntut rutinitas mahal atau sulit diakses.

Di sisi lain, pendekatan “everyday habits” justru bisa menjadi koreksi yang sehat jika dieksekusi jujur. Jika kampanye menekankan kebiasaan sederhana seperti melembapkan setelah mandi dan konsisten menjaga hidrasi, body care bisa kembali pada intinya: perawatan dasar yang berdampak besar.

Yang paling menarik, Vaseline sedang memindahkan makna lotion dari barang utilitarian menjadi bagian dari identitas diri. Ini efektif secara bisnis, tetapi menuntut tanggung jawab komunikasi agar tidak memproduksi rasa kurang (insecurity) sebagai mesin penjualan.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 Juni 2026)

Penunjukan JENNIE sebagai Global Ambassador menegaskan body care sebagai arena pertumbuhan strategis di industri kecantikan, sekaligus bukti bahwa marketing kini bergerak lewat ritual, lifestyle, dan narasi wellness. Vaseline ingin mengunci relevansi pada generasi muda dengan bahasa yang mereka pahami: percaya diri, self-expression, dan kulit sehat yang terlihat.

Pertanyaannya, apakah kita sedang menyaksikan demokratisasi perawatan tubuh—atau justru estetisasi rutinitas harian menjadi tuntutan baru? Pada akhirnya, body care yang paling modern mungkin bukan yang paling viral, melainkan yang paling konsisten, masuk akal, dan membuat orang merasa cukup di kulitnya sendiri.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 Juni 2026)