Christina Applegate Salah Diagnosis MS, Ini Alarm Misdiagnosis

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Christina Applegate mengungkap ia ternyata salah diagnosis multiple sclerosis (MS), setelah lebih dari lima tahun meyakini dirinya mengidap penyakit kronis itu. Pengakuan ini muncul di podcast MeSsy, dan langsung menyorot isu besar: misdiagnosis MS yang ternyata tidak jarang.

Dalam episode ganda podcast MeSsy, Applegate, 54 tahun, berkata ia sempat berhenti beberapa pekan untuk memproses informasi baru itu. Ia menceritakan dokter mendadak ingin menghentikan terapi infus dan mengamati reaksi sel B-nya.

Ketika terapi dihentikan, jumlah sel B tidak naik atau turun, sehingga memicu peninjauan ulang diagnosisnya. Pada akhirnya dokter menyampaikan kabar mengejutkan: ia tidak pernah mengidap MS.

Applegate mengutip ucapan dokter, “Selamat, kamu tidak punya MS,” namun ia justru merasa tidak bahagia. “Aku seperti mengecewakan semua orang,” katanya, karena selama ini ia dikenal sebagai advokat MS.

MS adalah penyakit autoimun ketika sistem imun menyerang sistem saraf pusat, dan gejalanya sangat bervariasi, menurut National Multiple Sclerosis Society. Penyebab pastinya belum diketahui, dan perjalanan penyakitnya sulit diprediksi.

Masalahnya, tidak ada satu tes tunggal yang bisa “mengunci” diagnosis MS. Dr. Marwa Kaisey dari Cedars-Sinai mengatakan di podcast itu bahwa hampir satu dari lima orang yang diberi tahu mengidap MS ternyata tidak benar-benar mengidapnya.

Angka “hampir 1 dari 5” tersebut adalah sinyal keras tentang rapuhnya proses diagnosis pada penyakit neurologis kompleks. Ketika MRI menunjukkan lesi di otak, temuan itu bisa tampak meyakinkan, namun lesi bukan selalu identik dengan MS.

Applegate menyebut saat awal diagnosis ia menjalani pungsi lumbal dan MRI, dan pemindaian menunjukkan lesi. Namun bertahun-tahun kemudian, respons sel B yang “tidak bergerak” setelah penghentian infus justru membuka pintu keraguan klinis.

Yang paling menyakitkan, salah diagnosis tidak otomatis berarti pemulihan. Applegate menegaskan gejalanya tetap melemahkan, memengaruhi mobilitas dan aktivitas harian, bahkan ia merasa kondisinya memburuk.

Ia menyebut dirinya kembali ke “titik nol” karena belum tahu apa yang sebenarnya terjadi sejak 2021. Ia mengatakan investigasi medis lanjutan akan dimulai pekan depan, termasuk penelusuran daring oleh tim dokternya untuk mencari akar masalah.

Dalam wawancara 2022 dengan The New York Times, Applegate pernah berkata ia tidak bisa berjalan tanpa tongkat. Ia juga menggunakan kursi roda saat syuting serial Netflix “Dead To Me,” dan naskahnya disesuaikan dengan kondisinya.

Pada 2023, ia mengisyaratkan gejala bisa membuatnya berhenti berakting di depan kamera. Kini ia juga menyebut menjalani fisioterapi tiga kali seminggu, menandakan beban fisik yang masih nyata meski label MS dicabut.

Kisah Applegate memaksa publik membedakan dua hal: diagnosis sebagai “nama” penyakit, dan penderitaan sebagai “kenyataan” pasien. Ketika nama itu berubah, rasa sakit tidak otomatis hilang, dan justru bisa menambah lapisan frustrasi.

Di era ketika selebritas sering menjadi wajah kampanye kesehatan, misdiagnosis menciptakan dilema moral yang tidak adil bagi pasien. Applegate merasa mengecewakan orang lain, padahal yang seharusnya dipertanyakan adalah sistem diagnosis yang memungkinkan kesalahan berlarut-larut.

Pengakuan “hampir satu dari lima” misdiagnosis MS juga menuntut koreksi cara kita memandang kepastian medis. Jika penyakit tidak punya satu tes penentu, maka opini kedua, audit diagnosis, dan evaluasi berkala harus dianggap standar, bukan kemewahan.

Kasus ini juga menyingkap risiko terapi berbasis asumsi diagnosis, terutama ketika gejala neurologis tumpang tindih dengan banyak kondisi lain. Publik perlu memahami bahwa MRI, lesi, dan gejala sensorik seperti baal atau kesemutan adalah petunjuk, bukan vonis tunggal.

Yang paling tajam, cerita ini mengingatkan bahwa advokasi kesehatan tidak boleh bergantung pada “kesempurnaan” narasi pasien. Bahkan ketika diagnosis berubah, keberanian berbicara tentang disabilitas, akses terapi, dan ketidakpastian medis tetap relevan.

Christina Applegate mungkin tidak mengidap MS, tetapi ia tetap hidup dengan gejala yang mengunci ruang geraknya dan mengubah kariernya. Ia kini menunggu investigasi baru, dan publik menyaksikan bagaimana ketidakpastian medis bisa sama menakutkannya dengan penyakit itu sendiri.

Kasus ini menantang kita untuk lebih rendah hati terhadap kata “pasti” dalam dunia kesehatan, sekaligus lebih berbelas kasih kepada pasien yang terus mencari jawaban. Jika satu diagnosis bisa keliru selama bertahun-tahun, pertanyaannya bukan hanya “siapa yang salah,” tetapi “apa yang harus diperbaiki agar pasien berikutnya tidak tersesat selama itu.” (Orbit dari berbagai sumber, 25 Oktober 2026)