Beatifikasi Fulton Sheen dan Kebangkitan Katolik Amerika
ORBITINDONESIA.COM – Beatifikasi Fulton Sheen menyedot sekitar 50.000 umat Katolik ke sebuah stadion di St. Louis, saat sosok yang dijuluki “America’s bishop” resmi dinyatakan “beato” oleh Vatikan. Peristiwa ini bukan sekadar seremoni iman, melainkan sinyal bahwa Katolik Amerika sedang memasuki fase baru yang lebih percaya diri dan lebih politis.
Fulton J. Sheen adalah rohaniwan Katolik paling terlihat di Amerika abad ke-20, dengan audiens televisi yang menyaingi Milton Berle dan “I Love Lucy.” Ia juga kerap disebut berkontribusi pada 42.000 pertobatan sepanjang kariernya.
Pada Kamis sore di St. Louis, Kardinal Luis Tagle membacakan surat Paus Leo XIV yang menetapkan Sheen sebagai “blessed” atau beato. Ia menjadi uskup kelahiran Amerika pertama yang menerima gelar tersebut, satu langkah sebelum kanonisasi atau pengumuman resmi sebagai santo.
Misa beatifikasi berlangsung megah sekaligus khidmat, dengan prosesi sekitar 1.000 imam dan 90 uskup dari berbagai daerah. Asap dupa memenuhi stadion yang dulu menjadi rumah St. Louis Rams, menegaskan bahwa Katolik Amerika ingin tampil besar di ruang publik.
Beatifikasi biasanya mensyaratkan mukjizat yang dikaitkan dengan doa kepada kandidat. Dalam kasus Sheen, orang tua seorang bayi yang lahir mati di Keuskupan Peoria, Illinois, pada 2010, berdoa memohon perantaraan Sheen.
Bayi itu dilaporkan hidup kembali setelah 61 menit tanpa denyut nadi dan pulih sepenuhnya. Verifikasi dilakukan lewat pemeriksaan berkas medis dan wawancara tenaga kesehatan yang hadir saat kelahiran.
Anak itu, James Fulton Engstrom, kini berusia 16 tahun dan ikut dalam seremoni dengan mengiringi wadah emas berisi relik Sheen, yakni tulang rahangnya. Ibunya, Bonnie Engstrom, menyebutnya remaja “punk” yang gugup sekaligus antusias menghadapi sorotan publik.
Namun jalan menuju beatifikasi tidak mulus. Jenazah Sheen sempat menjadi pusat sengketa hukum antara dua uskup, sebelum dipindahkan dari Katedral St. Patrick, New York, ke Peoria pada 2019.
Beatifikasinya juga tertunda lebih dari enam tahun karena penyelidikan hukum terkait penanganan tuduhan pelecehan seksual klerus di Negara Bagian New York. Pejabat Gereja kemudian menyimpulkan Sheen tidak membahayakan anak-anak dan tidak menutup-nutupi kasus, sebelum Paus Leo menyetujui beatifikasi pada Februari.
Momentum ini datang saat Katolik Amerika mengalami gejala kebangkitan yang menarik. Artikel mencatat konversi meningkat, bangku misa di kota-kota sering terisi Gen Z, dan untuk pertama kalinya ada Paus asal Amerika, Leo XIV, yang juga putra Illinois.
Dalam lanskap agama Amerika yang lama didominasi “megachurch” dan budaya selebritas Protestan, beatifikasi ini menunjukkan Katolik mampu memobilisasi massa dengan cara yang serupa. Stadion, layar raksasa, tagar #CelebrateSheen, dan stan suvenir menegaskan bahwa iman kini bergerak lewat logika event dan distribusi digital.
Sheen sendiri adalah prototipe rohaniwan era media massa. Pada puncaknya di 1950-an, sekitar 25 juta orang menonton setiap pekan saat ia mengajar di depan papan tulis sederhana bertuliskan “J.M.J.” untuk “Jesus, Mary and Joseph.”
Warisan itu kini hidup kembali lewat YouTube, Instagram, dan podcast. Gaya retorikanya yang tegas, mata yang tajam, dan format ceramah ringkas cocok dengan algoritme media sosial yang mengutamakan potongan pesan kuat.
Uskup Agung Paul Coakley bahkan menyebutnya “influencer Katolik pertama.” Pernyataan itu penting, karena ia menempatkan beatifikasi bukan hanya sebagai pengakuan kesucian, tetapi juga validasi atas strategi evangelisasi berbasis media.
Dari sisi institusional, beatifikasi adalah tahap sebelum kanonisasi dan tidak semua beato menjadi santo. Namun direktur eksekutif Fulton J. Sheen Foundation, Monsignor Jason Gray, menyebut enam mukjizat lain sedang diselidiki Vatikan, termasuk pemulihan cepat yang dianggap tidak wajar dari kanker stadium 4.
Jika proses itu bergerak cepat, Sheen bisa menjadi ikon santo “era media” pertama dari Amerika. Ini akan memperkuat narasi bahwa Katolik Amerika bukan sekadar bagian dari Gereja universal, melainkan juga produsen figur global.
Beatifikasi ini juga mencolok karena skala dan lokasinya. Ini adalah beatifikasi pertama di AS sejak upacara yang lebih kecil untuk Pastor Michael J. McGivney di Connecticut pada 2020, sementara beatifikasi pertama AS terjadi pada 2014.
Artinya, Gereja memilih momen yang tepat untuk membuat pernyataan publik yang besar. Ketika banyak institusi agama bergulat dengan penurunan keanggotaan, Katolik Amerika justru menampilkan citra ekspansif dan optimistis.
Di balik kerumunan 50.000 orang, ada pertarungan makna tentang Katolik Amerika hari ini. Banyak pengagum Sheen datang dengan alasan ia “mengatakan apa adanya,” dan menilai ketegasan doktrin sebagai obat bagi zaman yang serba cair.
Namun ketegasan itu juga membuat Sheen menjadi favorit kalangan konservatif. Mereka mengingat penolakannya terhadap komunisme global, dan sebagian membandingkannya dengan naiknya popularitas sosialisme di Amerika Serikat.
Pernyataan Presiden Trump yang memuji Sheen sebagai figur yang berdiri “melawan gelombang ekstremisme anti-Tuhan dalam budaya Amerika” menegaskan politisasi simbol religius. Di sini, beatifikasi berpotensi dibaca sebagai amunisi dalam perang budaya, bukan semata pengakuan spiritual.
Uskup Robert Barron menyebut Sheen “penginjil paling efektif di Amerika abad ke-20,” dan mengaku menjadikannya model. Barron bahkan menyimpan jubah yang pernah dipakai Sheen, menandakan bahwa karisma religius kini juga menjadi artefak identitas gerakan.
Di sisi lain, Gereja tidak bisa menghindari bayang-bayang krisis pelecehan seksual klerus yang sempat menunda proses ini. Meski otoritas Gereja menyatakan Sheen tidak terlibat menutup-nutupi, publik tetap hidup dalam memori institusional yang terluka dan skeptis.
Karena itu, kebangkitan Katolik Amerika tidak cukup diukur dari jumlah massa atau viralitas konten. Ukurannya juga ada pada konsistensi transparansi, keberpihakan pada korban, dan kemampuan menjaga kesucian simbol dari eksploitasi politik.
Sheen menawarkan pelajaran tentang kekuatan komunikasi iman, tetapi juga peringatan tentang risiko kultus figur. Ketika relik tulang rahang diarak di stadion dan suvenir dijual di expo hall, batas antara devosi dan komodifikasi menjadi semakin tipis.
Beatifikasi Fulton Sheen adalah cermin bahwa Katolik Amerika sedang menemukan kembali rasa percaya diri, energi muda, dan mesin media yang efektif. Ia juga menyingkap pertanyaan besar tentang arah Gereja ketika iman bertemu algoritme, stadion, dan polarisasi politik.
Jika Sheen kelak dikanonisasi, dunia mungkin menyaksikan lahirnya santo yang dibentuk oleh televisi dan dibesarkan kembali oleh media sosial. Tantangannya adalah memastikan bahwa “kemasyhuran” rohani tidak mengalahkan kerendahan hati, dan bahwa kebangkitan tidak berubah menjadi sekadar kemenangan kubu.
Pada akhirnya, kerumunan 50.000 orang di St. Louis memberi pesan yang sederhana namun tajam: agama belum mati di ruang publik, ia hanya berganti medium dan bahasa. Pertanyaannya, apakah perubahan medium itu akan memperdalam iman, atau justru membuatnya makin mudah diperalat.
(Orbit dari berbagai sumber, 26 September 2026)