Galaksi Bima Sakti Menelan Loki, Jejak Penggabungan 10 Miliar Tahun

CNBC Indonesia

CNBC Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Galaksi Bima Sakti kembali disebut “kanibal kosmik” setelah studi terbaru mengusulkan galaksi kerdil kuno bernama Loki pernah ditelan sekitar 10 miliar tahun lalu. Bukti penggabungan galaksi itu muncul dari 20 bintang miskin logam yang ditemukan dekat cakram, hanya sekitar 7.000 tahun cahaya dari tata surya.

Bima Sakti membentang sekitar 100 ribu tahun cahaya dan memuat 100 miliar hingga 400 miliar bintang, menurut catatan NASA. Selama kira-kira 12 miliar tahun, galaksi ini tumbuh dengan menyatu bersama galaksi-galaksi kerdil.

Masalahnya, jejak “yang ditelan” sering memudar karena waktu dan gravitasi yang mengaduk orbit bintang. Karena itu, astronom mencari sidik jari yang lebih tahan lama, yakni kimia bintang dan pola geraknya.

Studi di Monthly Notices of the Royal Astronomical Society menyorot bintang very-metal-poor (VMP) sebagai petunjuk masa awal galaksi. Bintang miskin logam dianggap tua, karena terbentuk saat alam semesta belum kaya unsur berat hasil generasi bintang sebelumnya.

Tim Dr. Federico Sestito dari University of Hertfordshire mengidentifikasi 20 bintang miskin logam memakai data teleskop Gaia milik ESA. Mereka lalu mengamati detail spektrumnya dengan spektograf beresolusi tinggi pada Teleskop Kanada-Perancis di Maunakea, Hawaii.

Penentuan usia bintang-bintang itu tidak mudah, tetapi komposisi kimianya menunjukkan umur lebih dari 10 miliar tahun. Yang paling mencolok, seluruh sampel memiliki kemiripan kimia, sehingga kuat dugaan mereka berasal dari satu galaksi kerdil logam yang sama.

Di sini narasi “Loki” menjadi masuk akal sebagai kandidat galaksi asal. Jika benar, maka Loki adalah fosil kosmik yang tidak lagi berupa struktur utuh, melainkan serpihan bintang yang menyusup ke lingkungan dalam Bima Sakti.

Data orbit memperkuat cerita yang tidak sederhana. Dari 20 bintang, 11 bergerak prograde searah cakram galaksi, sedangkan sisanya retrograde melawan arah.

Sestito menjelaskan, “Jika skenario Loki benar, maka sistem yang bergabung dengan galaksi kita dapat membuat bintang-bintangnya searah atau berlawanan arah.” Ia menambahkan peristiwa semacam ini mungkin terjadi ketika Bima Sakti masih muda dan potensial gravitasinya lebih lemah dibanding sekarang.

Simulasi kosmologis yang dirujuk tim menunjukkan fase itu dapat terjadi sekitar 3–4 miliar tahun setelah Big Bang. Artinya, penggabungan galaksi bukan sekadar kecelakaan lokal, melainkan mekanisme pertumbuhan yang lazim pada era awal alam semesta.

Namun bukti tetap harus dibaca dengan disiplin. Sampel 20 bintang adalah jendela kecil, sehingga klaim “satu galaksi kerdil” perlu diuji dengan pencarian bintang serupa yang lebih luas dan pemodelan dinamika yang lebih ketat.

Temuan “Loki” menantang kebiasaan kita memandang Bima Sakti sebagai rumah yang stabil dan selesai dibangun. Justru, galaksi ini adalah proyek yang terus berjalan, dan identitasnya dibentuk oleh apa yang ia serap serta apa yang ia ubah menjadi bagian dari dirinya.

Di sisi lain, istilah “menelan” juga menyederhanakan proses fisika yang rumit. Penggabungan galaksi adalah tarian gravitasi panjang, dan yang “kalah” tidak benar-benar hilang, melainkan menjadi arsip yang terselip dalam orbit dan kimia bintang.

Yang menarik, jejak itu ditemukan dekat cakram, bukan hanya di halo yang selama ini jadi tempat favorit berburu fosil penggabungan. Jika bukti di bagian dalam galaksi makin kuat, maka peta sejarah Bima Sakti harus digambar ulang dengan detail yang lebih dekat ke “lingkungan” kita.

Di tingkat publik, kabar ini mudah dipersepsikan sebagai sensasi kosmik, padahal nilainya ada pada metodologi. Gaia, spektroskopi resolusi tinggi, dan analisis kimia bintang membuat sejarah galaksi bisa dibaca seperti dokumen, bukan sekadar dugaan.

Jika Loki benar pernah bergabung dengan Bima Sakti, maka langit malam menyimpan kisah migrasi dan peleburan yang jauh lebih tua daripada bumi. Kita hidup di galaksi yang tumbuh lewat pertemuan, dan setiap bintang miskin logam adalah kalimat dari masa ketika alam semesta masih belajar membangun unsur.

Perenungannya sederhana tetapi mengguncang: apa yang kita sebut “asal-usul” sering kali adalah hasil dari banyak percampuran, bukan satu garis tunggal. Mungkin, memahami Bima Sakti berarti menerima bahwa rumah terbesar kita pun dibentuk oleh kedatangan yang lain. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Mei 2026)